SANTA ANGELA DARI FOLIGNO [1248-1309] 

angela-of-foligno-long (1)

Pada hari ini, tanggal 4 Januari, keluarga Fransiskan memperingati seorang mistikus perempuan, seorang anggota Ordo Ketiga (Sekular) dari S. Fransiskus dan pendiri sebuah komunitas religius.

Angela yang hidup dalam paruhan kedua abad ke-13 dan dekade pertama abad ke-14 ini, dibeatifikasikan beberapa abad kemudian oleh Paus Klemens XI [pontifikat: 1700-1721] pada tanggal 11 Juli 1701 dan terakhir dikanonisasikan menjadi seorang santa oleh Paus Fransiskus  pada tanggal 9 Oktober 2013.

Angela tidak hanya dikenal untuk tulisan-tulisan spiritualnya, namun juga karena dia mendirikan suatu komunitas religius yang menolak hidup dalam biara tertutup sehingga dapat melanjutkan visinya untuk melayani secara aktif orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Komunitas yang didirikannya itu tidak pernah diakui sebagai  sebuah institut religius sampai abad ke-20, namun setelah pertobatannya Angela selalu dihormati sebagai seorang religius. Komunitasnya masih ada/eksis sampai sekarang. Peringatannya sebagai seorang kudus adalah tanggal 4 Januari (7 Januari di Amerika Serikat)

Angela dilahirkan pada tahun 1248 dalam sebuah keluarga terkemuka di Foligno, yang terletak 35 km dari Assisi. Dia menikah pada usianya yang masih muda dan dikaruniani dengan 7 (tujuh) orang anak. Sebagai seorang perempuan muda, juga sebagai seorang istri dan ibu, dia hidup hanya untuk dunia dan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang sia-sia. Namun rahmat Allah membuatnya menjadi sebuah bejana terpilih untuk penghiburan dan keselamatan banyak orang.

Ketika berumur 30-an menjelang 40 tahun, setelah melakukan perjalanan ziarah ke tempat kelahiran S. Fransiskus dari Assisi, dia mulai merasakan adanya sentuhan dalam hatinya untuk melakukan pertobatan. Pancaran kerahiman ilahi menyentuh jiwanya dan begitu mempengaruhinya sehingga berakibat pada suatu pertobatan sejati.

Atas perintah bapak pengakuannya, Angela menuliskan perjalanan pertobatannya dalam 18 langkah spiritual. Angela menulis: “Dicerahkan oleh rahmat, aku menyadari kedosaanku, aku dicekam oleh rasa takut yang besar bahwa aku terkutuk, dan aku pun menangis tersedu-sedu. Aku pergi mengakui dosa-dosaku agar aku dibebaskan dari dosa-dosaku, tetapi dengan rasa malu aku harus katakan, bahwa aku menutup-nutupi dosa-dosaku yang paling buruk/jahat, namun aku tetap saja pergi menyambut komuni kudus. Sekarang hati nuraniku menyiksaku siang dan malam. Aku berseru kepada Santo Fransiskus untuk mendapat pertolongan dan digerakkan oleh dorongan-dorongan batin aku memasuki sebuah gereja  dimana seorang imam Fransiskan sedang berkhotbah. ……

“Aku mengumpulkan keberanianku agar dapat mengakui segala dosaku kepada imam itu. Aku lakukan hal ini langsung setelah imam itu menyelesaikan khotbahnya. Dengan semangat dan ketekunan aku melakukan tindakan pertobatan sebagaimana ditetapkan olehnya, namun hatiku terus saja dipenuhi dengan kepahitan dan rasa malu. Aku mengakui, bahwa kerahiman ilahi telah menyelamatkan aku dari neraka, jadi aku berketetapan hati untuk melakukan pertobatan secara keras; tidak ada yang  kelihatan sukar bagiku, karena aku merasa sudah menjadi milik neraka. Aku berseru kepada para kudus, teristimewa Santa Perawan Maria, agar melakukan pengantaraan kepada Allah bagi diriku…….

“Sekarang kelihatan olehku sepertinya mereka memang berbela rasa terhadapku, dan aku merasakan cintakasih ilahi di dalam diriku sehingga aku dapat berdoa tidak lagi seperti sebelumnya. Aku juga telah menerima suatu rahmat istimewa untuk mengkontemplasikan SALIB, padanya Kristus telah begitu menderita untuk dosa-dosaku. Jiwaku dipenuhi dengan kesedihan, cintakasih, dan hasrat untuk mengorbankan segalanya bagi Dia. ……

Kira-kira pada saat itulah Allah mendengarkan hasrat yang tulus dari sang pentobat; ibunya meninggal dunia, lalu suaminya menyusul dan semua anak-anaknya secara berturut-turut. Peristiwa-peristiwa tragis ini terasa begitu menyakitkan bagi Angela, namun dia membuat pengorbanan dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Dengan peristiwa-peristiwa ini Angela dibebaskan dari berbagai ikatan, hal mana disusul dengan tindakannya melepaskan segala harta miliknya di dunia – semua atas dasar persetujuan bapak pengakuannya.

Dengan demikian, sekarang Angela dapat mengikuti jejak langkah Juruselamatnya yang miskin. Angela juga kemudian masuk Ordo Ketiga S. Fransiskus (sekular) dan menjadi pembimbing dari orang-orang lain yang mengikuti jejaknya. Banyak perempuan datang bergabung dengan Angela, malah sampai mengucapkan tiga kaul (triprasetia: kemiskinan, ketaatan dan kemurnian). Angela mendorong para pengikutnya uintuk melibatkan diri secara aktif dalam karya karitatif, seperti perawatan orang-orang sakit dan mengemis dari pintu ke pintu untuk membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan para fakir miskin.

Sementara itu Angela menjadi semakin “terbenam” dalam kontemplasi akan SENGSARA KRISTUS. Dia juga memuliakan MARIA, BUNDA YANG BERDUKACITA dan MURID YANG SETIA – YOHANES PENGINJIL – sebagai orang-orang kudus pelindungnya. Melihat luka-luka yang diderita TUHAN-nya untuk dosa-dosanya, hatinya pun terdorong untuk mempraktekkan ulah-tapa yang lebih keras. Pada suatu ketika Tuhan Yesus menunjukkan kepada Angela, bahwa HATI-Nya adalah tempat pengungsian yang aman dalam segala situasi kehidupan. Angela memang membutuhkan sebuah tempat pengungsian seperti itu.

Allah memperkenankan Angela  ditimpa berbagai godaan yang sangat berat dan hebat. Dia berkata: “Aku lebih memilih untuk dikelilingi oleh kobaran api dan membiarkan diriku dipanggang daripada mengalami semua godaan ini.” Namun demikian, Angela tetap berseru kepada Tuhan: “Kemuliaan bagi-Mu, ya Tuhan! Salib-Mu adalah tempat peristirahatanku”. Pencobaan-pencobaan yang menyakitkan ini berlangsung selama dua tahun, namun kemudian hamba Tuhan yang telah dimurnikan dan mengalami pencobaan berat ini dipenuhi dengan konsolosi yang menyejukkan. Angela memperoleh wawasan yang indah-menakjubkan tentang hal-hal ilahi dan sering ditemukan sedang berada dalam keadaan ekstase.

Dari tulisannya kita dapat membaca juga yang berikut ini: “Sang Tersalib berbicara kepadaku dan berkata: ‘Ketika anak-anak-Ku ini, yang melalui dosa telah memisahkan diri dari kerajaan-Ku dan membuat diri mereka anak-anak Iblis, kemudian kembali kepada Bapa, maka Dia bersukacita karena mereka dan menunjukkan kepada mereka kesenangan-Nya yang luarbiasa besar dalam kedatangan kembali mereka, karena rasa kasihan yang ada pada-Nya melihat kesusahan mreka’ ” (Treasury of Women Saints, hal. 337).

Seorang sejarawan Fransiskan-Kapusin, P. Lazaro Iriarte de Aspurz OFMCap., menulis: “Kemistikan Fransiskan diperkaya dengan suatu tafsir feminin yang indah pada akhir abad ke-13 oleh seorang anggota Ordo Ketiga, Angela dari Foligno. …… Dia juga setia dalam devosi kepada HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (Franciscan History, hal. 115 dan 119).

Jikalau makanan/minuman kita sehari-hari adalah METFORMIN, HCT, AMLODIPINE 5, SIMVASTATIN, TOLAK ANGIN dan sejenisnya, maka untuk bertahun-tahun lamanya KOMUNI KUDUS  adalah satu-satunya makanan bagi Angela di samping air putih tentunya; sampai pada akhirnya dia dimurnikan secara lengkap, dan pada tanggal 4 Januari 1309 dia berjumpa dengan Saudari Maut dan  memasuki sukacita abadi surgawi. Di surga Angela berjumpa muka-ketemu-muka dengan Dia yang baik, sumber segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, satu-satunya yang baik. Paus Innocentius XII [pontifikat: 1691-1700] memberi persetujuan atas devosi terus menerus yang dilakukan umat pada makam Angela di Foligno pada tahun 1693.

Untuk permenungan pribadi: 

  1. Renungkanlah bagaimana Santa Angela dari Foligno harus menjalani sekian banyak langkah yang begitu menyakitkan agar dapat sampai kepada pertobatan yang sejati. Pertobatan sejati tidaklah dapat dicapai semudah dan secepat sebagaimana dipercaya oleh banyak orang. Salah satu langkah adalah mengalami godaan-godaan. Ini adalah tahapan yang paling menyakitkan, namun inilah cara yang digunakan Allah untuk menguji kesetiaan para hamba-Nya. Dalam Perjanjian Lama tercatat Musa berbicara kepada umat pilihan Allah: “TUHAN (YHWH), Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi YHWH Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. YHWH Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut” (Ul 13:3-4). Sungguh suatu sukacita yang luarbiasa akan kita alami apabila godaan yang mengganggu kita telah berhasil diatasi, sadar bahwa kita telah lulus ujian. Apakah Saudari-Saudara mengambil bagian dalam sukacita ini pada saat-saat mengalami godaan-godaan?
  1. Pertimbangkanlah dan renungkanlah bahwa godaan-godaan juga adalah suatu sarana dengan mana kita dapat belajar untuk mengenal diri kita sendiri dan kelemahan-kelemahan kita. Thomas a Kempis (Mengikuti Jejak Kristus, 1,13) mengatakan: “Godaan-godaan menunjukkan kepada kita apa kita ini.” Kadang-kadang kita tidak berpikir bahwa kita dapat jatuh ke dalam dosa ini atau dosa itu seperti yang dialami oleh orang lain. Namun jika godaan dahsyat menyerang kita, maka kita siap bergabung dengan sang pemazmur yang membuat deklarasi: “Jika bukan TUHAN (YHWH) yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat sunyi (neraka)” (Mzm 94:17). Godaan tidak membuat kita lemah, melainkan hanya menunjukkan kepada kita betapa lemah kita ini. Pengalaman-pengalaman sedemikian menyebabkan kita menjadi lebih berbaik hati dalam menilai orang-orang lain dan lebih berhati-hati dalam tindak-tanduk kita. Jika Daud menjadi seorang pezina dan seorang pembunuh karena pandangan penuh nafsu pada Batsyeba ysng sedang mandi, apakah kita kemudian mau bermain api? Yesus bersabda: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Mat 26:41).
  1. Pertimbangkanlah dan renungkanlah bahwa godaan-godaan mendorong/memaksa kita untuk menjadi lebih dekat lagi dengan Allah dan untuk menyatukan diri kita lebih erat lagi dengan Dia. Seperti seorang anak yang berlari ke ibunya ketika bahaya mengancam, lalu menyembunyikan dirinya pada pangkuan sang ibu, maka seorang Kristiani yang mencintai jiwanya harus berlari kembali kepada Allah pada waktu menghadapi bahaya. Pada waktu badai godaan melanda, seorang Kristiani seharusnya menyatu semakin erat dengan Allah. Sementara pada saat godaan datang kita mengakui bahwa kita tidak berarti apa-apa, kita juga mengakui bahwa Allah adalah segalanya bagi kita: satu- satunya pengharapan kita, satu-satunya dukungan bagi kita, satu-satunya keselamatan kita. Pengakuan ini merupakan suatu anugerah. Santa Angela dari Foligno berkata: “Mengenal diri kita sendiri dan mengenal Allah, itu adalah kesempurnaan manusia; tanpa pengenalan ini, berbagai visi dan karunia yang paling besar tidak akan ada artinya.

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahabaik, kemanisan hati-Mu dan terang-Mu  menyegarkan hamba-Mu Santa Angela dari Foligno dengan wawasan indah ke dalam hal-ikhwal surgawi. Semoga melalui teladan hidupnya dan juga doa-doa syafaat yang dipanjatkannya bagi kami, kami dapat lebih mengenal Engkau di atas bumi ini sehingga kami pantas untuk bergembira dalam visi mengenai kemuliaan-Mu di surga. Kami berdoa demikian dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

SUMBER: (1) Matthew Bunson, OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY; (2) Ronda De Sola Chervin, TREASURY OF WOMEN SAINTS; (3) P. Marion A. Habig OFM, THE FRANCISCAN BOOK OF SAINTS; (4) P. Lazaro Iriarte de Aspurz OFMCap., FRANCISCAN HISTORY – THE THREE ORDERS OF ST. FRANCIS OF ASSISI.; (5) ANGELA OF FOLIGNO, Wikipedia. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan tanggal 4 Januari 2011) 

Cilandak, 4 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS