MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 20 Januari 2016)

HARI KETIGA PEKAN DOA SEDUNIA 

Keluarga Fransiskan Conventual: Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!”  Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!”  Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1 Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Inkarnasi Yesus (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14) menandakan berlalunya “hukum dosa dan maut” dan datangnya “Kerajaan Allah”. Yesus adalah “anggur yang baru”, hidup Allah yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi umat-Nya. Namun demikian, walaupun Yesus telah mendatangkan berbagai kesembuhan, pengampunan, dan kasih yang ditawarkan kepada umat-Nya, para pemuka agama Yahudi tetap saja melawan-Nya dan senantiasa ingin menjebak-Nya.

Konflik Yesus dengan para pemuka agama Yahudi tersebut dimulai pada waktu Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah (lihat Mrk 2:1-12), kemudian semakin meningkat pada peristiwa disembuhkannya orang yang tangannya mati sebelah (Mrk 3:1-16). Sampai saat itu, orang-orang Farisi selalu mengkritisi dan mempertanyakan tindakan-tindakan Yesus. Sekarang Yesus bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”  (Mrk 3:4). Orang-orang Farisi itu tetap bungkam, tetap pada kekerasan hati mereka melawan kebaikan Allah. Tidak adanya tanggapan mereka membuat Yesus marah dan sedih. Dalam belas kasih-Nya, Yesus menyembuhkan tangan orang itu, lagi-lagi menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (lihat Mrk 2:27-28).  Karena marah bahwa Yesus telah melanggar berbagai pembatasan yang mereka tetapkan dalam rangka hari Sabat, orang-orang Farisi itu segera membuat rencana untuk membunuh Yesus (lihat Mrk 3:6).

Pertanyaan kita sekarang: Mengapa ada orang yang mau membunuh Yesus, padahal Ia datang untuk melakukan berbagai macam kebaikan? Sikap kemandirian yang salah dan ketergantungan pada pemikiran manusia seringkali membutakan kita terhadap kebenaran Allah dan menyebabkan kita melawan Dia, walaupun barangkali tanpa kita sadari apa yang kita perbuat. Kodrat manusiawi kita yang cenderung berdosa selalu mencegah diri kita untuk melepaskan kendali atas hidup kita dan menyerahkan diri kita kepada Allah. Jikalau kita menolak kebaikan Allah, kita – seperti juga orang-orang Farisi – akan menilai peraturan-peraturan sebagai hal-hal yang lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan para saudari-saudara kita. Sikap kemandirian kita yang salah akan mencegah kita untuk sampai kepada pengakuan bahwa Yesus adalah Juruselamat kita dan membatasi pengalaman kita akan kehadiran-Nya.

Namun, apabila kita – seperti anak-anak – menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah, maka kita akan dapat menerima belas kasih dan hidup baru-Nya. Yesus akan mentranformasikan hati dan pikiran kita sehingga dengan demikian segala hasrat dan pemikiran-Nya menjadi hasrat dan pemikiran kita. Dia akan mengajar kita jalan-jalan-Nya dan memberdayakan kita agar taat kepada sabda-Nya. Apabila anak-anak Allah terbuka untuk menerima kebaikan dan belas kasih Allah, maka Dia dapat menyembuhkan segala perpecahan yang ada di antara mereka, dengan demikian secara bersama-sama mereka akan mencerminkan kepenuhan kemuliaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, transformasikanlah hati kami dari kantong kulit yang tua dan keras menjadi kantong kulit yang baru dan lembut, sehingga dengan demikian kami dapat menerima anggur hidup baru yang Engkau ingin berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “HUKUM TERTINGGI” (bacaan untuk tanggal 20-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITAABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 18 Januari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS