DEMI KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Sabtu, 23 Januari 2016)

HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Orang banyak datang lagi berkerumun, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak  waras lagi.  (Mrk 3:20-21)

Bacaan Pertama: 2 Sam 1:1-4,11-12,19,23-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3.5-7

Kelihatannya memang sulit bagi keluarga Yesus untuk memahami perilaku-Nya. Hampir setiap saat dalam hidup pelayanan-Nya di tengah publik, Yesus dibuntuti serta dikelilingi oleh orang banyak, terlibat dalam konflik dengan para pemuka agama Yahudi, bekerja keras melayani orang-orang, dan kemudian berdoa semalam-malaman. Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita satu contoh lagi mengenai betapa beratnya Yesus bekerja. Selagi Dia kembali dari gunung dengan para rasul yang baru diangkat-Nya, Yesus masuk ke sebuah rumah dan mulai dikerumuni orang banyak. Digerakkan oleh bela-rasa, Yesus melayani orang banyak itu, hal mana membuat Yesus dan para murid-Nya tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk makan.

Keluarga Yesus dan teman-temannya yang selama ini mengamati gerak-gerik dan pola kehidupan-Nya pada umumnya, menjadi prihatin bahwa Yesus mulai tidak sehat dalam berpikir, bahkan sudah tidak waras pikiran-Nya. Sementara mereka merasa khawatir dan takut bahwa Yesus hidup secara tidak normal/sehat/seimbang, Yesus sendiri sedang memikirkan dan berurusan dengan Kerajaan Allah. Yesus dipenuhi dengan suatu hasrat untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, dengan penuh belarasa memperhatikan setiap orang yang datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan, orang-orang buta, orang-orang lumpuh, orang-orang yang kerasukan roh jahat dlsb. Demi Kerajaan Allah, Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan baik itu dengan kesadaran penuh bahwa dengan demikian ada risiko keluarga-Nya tidak memahami apa sebenarnya yang dilakukan-Nya.

Cerita seperti ini mengungkapkan betapa dalam Allah mengasihi kita. Yesus dengan sabar dan tekun melayani orang banyak – bahkan dengan “mengorbankan” begitu banyak kebutuhan-Nya sendiri, seperti makan-minum, istirahat dlsb. Demikian pula Yesus tidak akan mengabaikan kita jika kita datang kepada-Nya dengan berbagai kebutuhan kita. Yesus mengambil rupa manusia seperti kita sehingga dengan demikian Ia dapat menyembuhkan kita. Yesus tidak pernah menolak kita, malah Ia merangkul segala kelemahan kita. Keluarga Yesus yang sesungguhnya adalah mereka yang datang kepada-Nya dengan iman, yang percaya bahwa Ia telah datang ke tengah umat manusia untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kegelapan, karena Bapa surgawi sangat mengasihi kita-manusia.

Kita hampir sampai pada penghujung PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI. Memang harapan akan terwujudnya persatuan itu terasa tipis bagi kita pada hari ini, namun kita akan menemukan jawaban-jawabannya apabila kita memandang dalam-dalam hati Yesus Kristus Yang Mahakudus dan memperkenankan-Nya untuk membebaskan kita – yang menamakan diri umat Kristiani – dari sikap-sikap dan pendapat-pendapat yang membuat kita tetap terpisah satu sama lain. Hanya apabila kita datang menghadap Yesus seperti orang banyak dalam bacaan Injil hari ini, maka kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita mengenai niat-niat-Nya dan kita pun dapat dipimpin-Nya ke dalam persatuan yang lebih mendalam.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah kami untuk mendekat kepada Yesus, yang telah menjadi satu dengan kami. Tolonglah kami untuk berjalan dengan semangat bela-rasa, penuh kesabaran, dan persatuan dengan saudari-saudara Kristiani lainnya sampai kepada hari di mana kami dapat melihat Engkau, muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:20-21), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SEORANG TANDA LAWAN” (bacaan untuk tanggal 23-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 21 Januari 2016 [Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS