MENERIMA SEMUA UMAT ALLAH KE DALAM HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Timotius dan Titus, Uskup – Selasa, 26 Januari  2016)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIALalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya, “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.”  Jawab Yesus kepada mereka, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”  Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”  (Mrk 3:31-35)

Bacaan Pertama: 2 Sam 6:12b-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10

Barangkali keprihatinannya atas jadual kerja yang sedemikian padat dari Yesus dan efek-efek semua itu atas kesehatan-Nya, dan kekhawatirannya melihat semakin meningkatnya oposisi terhadap karya pelayanan Anaknya, telah mendesak Maria untuk menemukan Yesus, di tengah-tengah desas-desus di kalangan teman bahwa Dia mungkin sudah tidak waras lagi (Mrk 3:20-21). Mungkin Maria berpikir bahwa sudah waktunyalah bagi keluarga untuk ikut terlibat dan meluruskan kembali apa yang berkembang selama itu. Bagaimana pun juga, bukankah dia yang membesarkan Anaknya itu dan tidak pernah berhenti menjadi ibunda-Nya?

Pada saat Maria sampai ke tempat di mana Yesus sedang mengajar, ia memberi pesan melalui orang-orang yang sedang berkerumun bahwa dia dan beberapa anggota keluarganya sedang mencari Dia. Setelah mendengar pesan tersebut Yesus bertanya: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Kemudian Ia menjawab pertanyaan-Nya sendiri sambil melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapa saja yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (Mrk 3:33-35). Kata-kata Yesus ini, yang disampaikan kembali melalui kerumunan orang banyak sebenarnya mengingatkan Maria dengan lemah lembut bahwa ruang lingkup pelayanan-Nya dan nasihat penuh kasih kepada-Nya untuk meluaskan pelayanannya agar merangkul setiap orang yang akan dimenangkan Yesus guna menerima Injil-Nya.

Yesus samasekali tidak merasa kesal dengan Maria seperti suka disinyalir oleh sementara juru tafsir. Yesus mengingatkan Maria akan karya pelayanan-Nya dan karya pelayanannya. Selagi Dia berkeliling di Israel dan membawa orang-orang ke dalam Kerajaan Allah, Yesus memberikan lebih banyak orang lagi kepada Maria guna mendapat perhatiannya sebagai seorang ibu. Pada dasarnya, Yesus berkata: “Siapa keluargaku? Semua murid-Ku! Ibu, dapatkah engkau, dengan kasih-sayang seorang ibu, memperhatikan orang-orang ini – yang terluka, berdosa, dan terbuang dari masyarakat dll. – dan menemukan ruangan dalam hatimu bagi mereka? Dapatkah kasihmu seluas dan sedalam seperti kasih-Ku?

Maria perlu bertumbuh dalam pemahamannya tentang panggilan hidupnya. Walaupun begitu pikiran dan hati Maria yang jernih memampukan dirinya untuk memikul salib. Ketika Maria menghadapi tantangan, dengan rendah hati dia menerima kehendak Allah dan memohon rahmat-Nya agar kehendak-Nya itu dapat terpenuhi.

Saudari dan Saudara yang terkasih,  sampai berapa serius kemauan kita untuk merangkul keluarga Allah yang besar ini sebagai keluarga kita sendiri? Apakah kita membatasi diri kita sendiri pada orang-orang dengan ikatan kekeluargaan karena hubungan darah, dan juga para sahabat kita saja? Apakah kita terbuka bagi pengembangan relasi dengan setiap orang yang ingin mengikut Yesus? Marilah kita mengikuti contoh Maria dan menerima semua umat Allah ke dalam hati kita.

TITUS & TIMOTIUSSanto Timotius dan Santo Titus. Pada hari ini, tanggal 26 Januari, Gereja (anda dan saya) memperingati dua orang uskup dalam Gereja awal, yaitu Santo Timotius dan Santo Titus. Injil (Kabar Baik) Yesus Kristus yang diterima oleh Paulus, disampaikannya kepada kedua orang ini. Mereka adalah para pengikut Paulus yang setia, dan sang Rasul menyapa Timotius dan Titus berturut-turut sebagai “anakku yang terkasih” (2 Tit 1:2) dan “anakku yang sah menurut iman kita bersama” (Tit 1:4). Timotius pertama-tama disebut berdiam di Listra, barangkali bertobat dalam masa kunjungan Paulus yang terdahulu ke kota itu, bersama dengan ibundanya, seorang Yahudi yang bernama Eunike dan neneknya yang bernama Lois (Kis 16:1; 2 Tim 1:5). Ayah dari Timotius adalah seorang Yunani, campuran dengan Yahudi – semua ini menunjukkan rancangan Roh, mempersiapkan Timotius untuk mewartakan Injil, baik kepada orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi (=kafir).

Titus  adalah keturunan non-Yahudi (orang Yunani; lihat Gal 2:1,3). Ia menemani Paulus pergi ke Yerusalem dan merupakan bukti pilihan Allah atas orang non-Yahudi, “dengan mengaruniakan Roh Kudus” (Kis 15:8) sama seperti kepada orang Yahudi. Ia bersama Paulus dalam perjalanan misioner Paulus yang ketiga, diutus dua kali ke Korintus untuk memulihkan orde di sana (2 Kor 7:13-15; 8:16-24), dipercayakan dengan organisasi Gereja di Kreta (Tit 1:5), dan akhirnya pergi bertugas di Dalmatia (2 Tim 4:10).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah membuat diriku sebagai seorang anggota keluarga-Mu. Terima kasih juga karena Engkau tidak malu untuk menjadi saudara tuaku. Tuhan, tariklah aku dan semua murid-Mu yang lain untuk berada di sekeliling diri-Mu dan ajarlah kami untuk mengasihi. Amin.

Catatan: Unuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH” (bacaan tanggal 26-1-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016.

Cilandak, 24 Januari  2016 [HARI MINGGU BIASA III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

 

Advertisements