MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT? MENGAPA KAMU TIDAK PERCAYA?

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 30 Januari 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yasinta Mareskoti, Perawan-OFS 

JamesSeward-PeaceBeStill

Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak  dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa  kamu begitu  takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41) 

Bacaan Pertama: 2 Sam 12:1-7a, 11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17

Apakah anda pernah merasakan diri anda begitu penuh dikasihi oleh seseorang sehingga anda berpikir tidak ada apa pun yang dapat salah lagi dalam kehidupan anda? Kita sering mendengar cerita-cerita dongeng mengenai ksatria muda berani yang berhasil menyelamatkan seorang tuan puteri dan kemudian mengawininya dan hidup bahagia bersama. Kita melihat pasutri yang baru saja menikah; mereka begitu “tertangkap” dalam keadaan saling mencinta satu sama lain, sehingga seluruh dunia menjadi baru bagi mereka.

Gambaran seperti itu memang indah, namun pengalaman mengatakan kepada kita bahwa dongeng tetaplah dongeng dan semua pasutri menghadapi banyak tantangan hidup disamping tentu adanya saat-saat penuh sukacita dan rasa aman. Faktanya adalah bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang sempurna dan kita membawa ketidaksempurnaan kita masing-masing ke dalam hidup perkawinan kita. Sebaliknya, Allah itu mahasempurna. Dia adalah seperti sang ksatria muda berani yang menyelamatkan kita. Dia adalah sang pencinta sempurna jiwa-jiwa kita. Kelihatannya semua itu sangat idealistis, namun Allah sesungguhnya mengasihi kita secara total dan lengkap, tanpa syarat dan dengan penuh gairah. Kasih-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyingkirkan setiap rasa takut, membuang rasa susah dan khawatir, serta menyembuhkan setiap luka. Inilah intisari dari cerita “angin ribut di danau” yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini.

Yesus mampu untuk tidur nyenyak di tengah berkecamuknya angin ribut karena Dia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Bapa-Nya senantiasa mengasihi-Nya dan tidak akan menelantarkan-Nya. Di sisi lain, para murid merasa takut, merasa hidup mereka terancam karena mereka belum memahami secara mendalam betapa Allah memperhatikan mereka dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Bapa. Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40), bukan karena Dia marah kepada mereka namun karena Dia ingin mereka melihat kontras antara reaksi-Nya terhadap angin ribut yang berkecamuk dan reaksi mereka.  Yesus ingin para murid-Nya melihat bahwa yang penting di sini adalah iman, bukan kebodohan; menaruh kepercayaan dan bukan grabak-grubuk tidak karuan.

Allah ingin kita semua memiliki iman akan kasih-Nya seperti dicontohkan oleh Yesus. Allah sangat mengetahui bahwa iman seperti itu tidak datang secara otomatis, sehingga dengan demikian setiap hari Dia memberi kesempatan-kesempatan – besar maupun kecil – kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membiarkan Dia membuktikan diri-Nya kepada kita. Allah mengetahui bahwa semakin banyak kita mengambil langkah iman, semakin besar pula rasa percaya kita. Dan, semakin besar rasa percaya kita itu, kita pun menjadi semakin dipenuhi oleh damai-sejahtera-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku mengosongkan diriku bagi-Mu. Aku percaya bahwa Engkau senantiasa memegang aku erat-erat dalam situasi macam apa pun yang kuhadapi. Aku menyadari bahwa aku dapat tinggal dengan aman dalam kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan yang  berjudul “SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?” (bacaan tanggal 30-1-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-01  PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2016. 

Cilandak, 28 Januari 2016 [Peringatan S. Tomas Aquino, Imam-Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS