GODAAN IBLIS ADALAH KENYATAAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [TAHUN C] – 14 Februari 2016)

kiman-ilustrasi-masa-prapaskah-dimulai-apr-2014-hidup-katolik

Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”   Jawab Yesus kepadanya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.”  Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Karena itu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di puncak Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menerima Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu. Yesus menjawabnya, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”  Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik. (Luk 4:1-13)

Bacaan Pertama: Ul 26:4-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,10-15; Bacaan Kedua: Rm 10:8-13

Godaan adalah realitas yang senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Bahkan Yesus pun digoda seperti digambarkan dalam bacaan Injil hari ini. Yesus dibawa  oleh Roh Kudus ke padang gurun untuk suatu “retret panjang”. Di sana Dia berjumpa dengan Iblis yang menawarkan kepada-Nya puncak kekuasaan, uang dan kenyamanan-kenyamanan materiil. Tawaran tersebut tentunya bersifat kondisional. Yesus harus mengakui Iblis sebagai “pengada tertinggi” (supreme being). Iblis berkata kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Karena itu, jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu” (Luk 4:6-7). Jawab Yesus: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Alahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”  (Luk 4:8).

Pergumulan di padang gurun antara Yesus dan Iblis juga terus berlangsung dalam diri kita masing-masing, setiap hari dalam hidup kita. Dorongan untuk benar di mata Allah memang riil, namun demikian pula dorongan untuk “tidak benar”. Santo Paulus menggambarkan pergumulan batin atau pertempuran spiritual (perang roh) dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “… apa yang aku lakukan, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm 7:15).

demons_flee_in_Christs_presenceGodaan itu sendiri sesungguhnya bukanlah dosa. Godaan adalah semacam hasutan, dorongan atau perangsang untuk masuk ke dalam sesuatu yang jahat (dosa). Godaan dapat dilihat sebagai suatu tes. Allah mengetes seseorang untuk melihat bagaimana baiknya seseorang. Allah memperkenankan iblis untuk mengetes kita agar kita membuktikan apakah kita berdiri di pihak Iblis atau di pihak-Nya. Dalam godaan si Iblis tidak selalu muncul sebagai makluk yang menakutkan – separuh binatang (bertanduk dan berkaki seperti kaki kambing serta berekor) dan separuh manusia. Iblis dapat tampil dalam rupa seorang laki-laki ganteng berbaju sopan dan rapih, yang memberi kesan seseorang yang berkepribadian menyenangkan, namun menawarkan proposal yang “nggak bener”, misalnya agar kita menyuap seorang pejabat agar “proyek” kita berhasil, atau memberi persetujuan atas sebuah kontrak yang mengandung tanda tanya dari sudut moral dan etika. Si Iblis juga dapat mengambil rupa seorang perempuan cantik-menarik yang merayu-rayu kita agar menjadi tidak setia kepada pasangan hidup kita. Dengan perkataan lain, individu-individu maupun hal-hal lain dapat saja digunakan oleh si Iblis yang pandai berbicara manis itu.

Godaan berkaitan dengan “kehendak bebas”. Allah menganugerahkan kepada kita semua “kehendak bebas” untuk mengetes kasih kita kepada-Nya. Manakala kita sedang mengalami/menghadapi godaan, maka kita harus membuat pilihan antara “mengasihi-Nya” atau “tidak mengasihi-Nya”. Jika kita tidak memiliki “kehendak bebas” untuk mengasihi atau untuk tidak mengasihi, dan jika kita hanya didorong oleh kodrat manusiawi kita untuk mengasihi, maka kasih kita kepada seseorang tidak akan mempunyai nilai apa-apa. Kalau kita menghancurkan “kehendak bebas”, maka kita pun akan merusak hakekat konsep tentang “kasih akan Allah” yang bersifat bebas.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis: “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor 10:13). Yang ideal untuk dilakukan dalam situasi begitu adalah kita memohon Tuhan untuk menolong kita.

Satu hal yang harus senantiasa kita ingat-ingat ialah bahwa pada saat Iblis mundur, pergumulannya tidak selesai di situ. Lukas menulis, “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari hadapan-Nya dan menunggu saat yang baik” (Luk 4:13). Godaan atau pencobaan merupakan sesuatu yang berkesinambungan dalam hidup kita, namun tugas kita selalu sama, yaitu menempatkan Allah sebagai pusat hidup kita. Kita telah berada dalam masa Prapaskah. Ini adalah masa untuk pencobaan/godaan, membuat pilihan antara yang baik dan yang jahat. Semoga kita membuat pilihan yang benar.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengetahui segala godaan/pencobaan yang kualami setiap hari. Tanamkanlah kebenaran-Mu dalam-dalam di hatiku sehingga dengan demikian aku dapat menghadapi dusta-dusta Iblis. Aku ingin menggunakan otoritas yang Kauberkan kepadaku untuk melawan Iblis melalui salib-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “KONFRONTASI DENGAN IBLIS” (bacaan tanggal 14-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 11 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements