KASIH YANG SESUNGGUHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 15 Februari 2016) 

Stefan_Lochner_-_Last_Judgement_-_circa_1435

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Dalam lingkup Kekristenan (Kristianitas) kita banyak berbicara mengenai kasih, dan hal ini sah-sah saja dan tidak salah. Tidak diragukan lagi, kasih adalah sesuatu yang hakiki dalam iman Kristiani. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tulisan-tulisan para kudus, teologi zaman kuno maupun modern, umat Kristiani dan juga orang-orang non Kristiani – semua setuju tentang keutamaan kasih.

Namun sayangnya kita suka berbicara dengan begitu ringannya tentang kasih, seakan-akan topik kasih ini sangat sederhana, seakan kasih tidak menuntut apa-apa selain membuang segala sesuatu, seakan-akan suatu obat yang langsung memberi efek kesembuhan segala sakit-penyakit yang diderita. Yang sebenarnya “penyembuh segala” (cure all) adalah apabila itu adalah kasih yang sesungguhnya. Inilah masalah sulit yang kita hadapi: kita tidak dapat lepas dari pengertian kekanak-kanakan bahwa kasih hanyalah sekadar masalah emosi. Hal ini diperkuat dengan cerita-cerita dari majalah, film-film, novel-novel, pokoknya seluruh kompleks budaya tergila-gila akan kenikmatan.

Kita dapat bertanya: bukankah keutamaan seharusnya merupakan sesuatu yang menyenangkan? Jawabnya: Ya dan tidak. Jika kita memperhatikan kecenderungan-kecenderungan kedagingan dari manusia, maka kasih yang sesungguhnya dapat menyenangkan dan dapat pula menyakitkan. Kasih sangat menuntut: pemberian diri kita secara total membutuhkan kesabaran yang luar biasa, kedinaan, dalam keputusan-keputusan yang sulit, dan seringkali berlawanan arah dengan hasrat-hasrat kita yang ingin mementingkan diri sendiri.

Banyak pasutri yang baru menikah, satu pekan saja sejak bulan muda usai … berbagai masalah mulai bermunculan. Jika ada kasih sejati dan kebahagiaan mendalam, maka salah satu dari mereka harus “berkorban”. Pemberian-diri tentunya menjadi sukacita dari cinta kasih, namun siapakah yang dapat menyangkal bahwa hal itu juga berarti ada rasa sakit yang harus dirasakan? Perhatian dan minat atas seorang pribadi yang lain yang dituntut oleh cinta kasih menyebabkan keprihatinan yang berisikan kekhawatiran. Hal ini sangat berlawanan dengan kecemburuan/iri-hati atau bahkan self-pity, namun hal ini tetap merupakan semacam penderitaan yang riil. Cinta kasih yang sejati menderita apa yang diderita oleh pihak yang lain.

DOA: Tuhan Yesus, manakala kami benar-benar menanggapi kasih-Mu dengan melakukan tindakan saling mengasihi dengan para saudari-saudara yang lain, maka sekarang juga – di dalam dunia ini – kami menerima berkat-Mu dalam Injil: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” (Mat 25:34). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Im 19:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAGAI HUKUM YANG DIBERIKAN ALLAH” (bacaan tanggal 15-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak,  11 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS