MENERUSKAN TONGKAT ESTAFET

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 17 Februari 2016) 

00028957

Datanglah firman TUHAN (YHWH) kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang menyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya. (Yun 3:1-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19; Bacaan Injil: Luk 11:29-32

Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. (Yun 3:6)

Dalam cerita Yunus ini, Allah memanggil Yunus untuk bernubuat, tidak kepada umat-Nya (Israel), melainkan kepada orang-orang Niniwe, ibukota musuh Israel, Asyur. Asyur telah melakukan pendudukan di kerajaan Israel sebelah Utara pada tahun 722 SM, lalu menangkap dan menggiring para pemuka bangsanya ke pembuangan. Yunus pada awalnya membangkang terhadap perintah YHWH karena dia harus menjadi instrumen belas kasihan bagi orang-orang kafir penyembah berhala dari kota Niniwe itu. Yunus mencoba untuk melarikan diri dari Allah dan panggilan-Nya. Kiranya hati Yunus jauh lebih setuju apabila Allah akan menghancurkan orang-orang Niniwe karena dosa-dosa mereka. Setelah percobaannya untuk lari ternyata gagal (ingat cerita Yunus ditelan ikan besar di laut; Yun 1:1-2:10), Yunus mendengar YHWH Allah memanggilnya untuk kedua kalinya, untuk pergi ke Niniwe, memperingatkan mereka, dan membawa mereka kepada pertobatan sejati. Kali ini Yunus mentaati sabda Allah dan dia pun pergi ke Niniwe (Yun 3:3).

Yunus berhasil mengajak 120.000 orang untuk bertobat dalam satu hari. Pertama, beberapa orang menerima pesan Yunus dalam hati mereka masing-masing, Kemudian mereka memberitahukan hal itu kepada orang-orang lain, yang kemudian menularkannya kepada yang lainnya lagi, sampai akhirnya pesan itu sampai kepada raja kota Niniwe (Yun 3:6). Langkah berikutnya adalah menyebarluaskan pesan itu ke seluruh kota.

Sistem penyebaran dari mulut ke mulut ini juga terjadi ketika 120 orang dapat mengajak 3.000 orang untuk dibaptis pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Dengan cara ini Gereja lahir (Kis 1:15; 2:41). Kemudian 3.000 orang itu berhasil menggaet beberapa ribu lainnya (Kis 4:4). Sekarang lebih dari setengah milyar orang menjadi Kristiani lewat cara ini.

Di dalam Kitab Suci, kehidupan di dalam Kristus adalah secara berulang-ulang Allah memanggil suatu bangsa (2 Tim 4:7; Ibr 12:1; Flp 3:12; 1 Kor 9:26). Walaupun demikian, kehidupan orang Kristiani tidak hanya dalam dan untuk suku bangsa tertentu, melainkan bagaikan pertandingan lari estafet. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi kita untuk meyakini apa saja yang kita terima dari Kitab Suci, Ekaristi, doa, masa Prapaskah ini, dan mewartakannya kepada orang-orang lain. Apabila Tuhan menyalakan pelita kita, maka kita harus menempatkan pelita-pelita tersebut di atas kaki pelita, “supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya” (Luk 11:33). Jika kita terus memegang erat-erat tongkat estafet dan tidak pernah lari dan meneruskannya kepada pelari lain, maka kita menghancurkan pertandingan lari estafet kehidupan di dalam Kristus.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau begitu mengasihi kami, sehingga mengutus Putera-Mu yang tunggal ke tengah-tengah dunia, yang kemudian wafat di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kami. Semoga aku dapat berlari sebaik mungkin dalam pertandingan memperebutkan kehidupan di dalam Kristus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “SELAIN TANDA NABI YUNUS” (bacaan tanggal 17-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 15 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS