PENTINGNYA REKONSILIASI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 19 Februari 2016)

Ordo Franciscanus Saecularis (OFS): Peringatan S. Konradus dr Pieacenza, Ordo III

YESUS MENGAJAR DI TEPI DANAU 100

Aku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8

“Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) merupakan pokok Perjanjian Baru. Dalam “Khotbah di Bukit” ini, Yesus mengungkapkan keilahian-Nya dengan menyatakan kuasa-Nya di atas perintah Perjanjian Lama dalam berbagai cara. Pernyataan Yesus yang pertama, a.l. berbunyi: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” (Mat 5:21-22). Marah, kata-kata pedas, pikiran bernada marah dilarang (Mat 5:22).

Malah, kalau pun kita tidak marah kepada seseorang, tetapi ada orang lain yang marah dengan kita, kita harus mengurungkan dulu ibadat kita, dan “pergi berdamai dahulu” secepatnya (Mat 5:23-24). Kalau tidak, kita akan dijebloskan ke dalam penjara, dan kita tidak akan “keluar dari sana, sebelum membayar hutang kita sampail habis/lunas” (lihat Mat 5:26).

Walaupun kita telah berdamai dengan siapa saja, dan orang-orang juga berdamai dengan kita, tetap kita berkewajiban untuk mewartakan pesan rekonsiliasi ini (2 Kor 5:19-20), dan berkarya dalam pelayanan rekonsiliasi (2 Kor 5:18).

Rekonsiliasi semacam ini merupakan prioritas bagi Yesus. Santo Paulus menulis kepada jemaat di Kolose: “Melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakah pendamaian dengan darah salib Kristus” (lihat Kol 1:20; bdk. Ef 2:16).

Sebagai murid-murid Kristus, kita harus melaksanakan karya rekonsiliasi ini sebagai prioritas pertama, seperti dikatakan oleh Santo Paulus kepada jemaat di Korintus: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2 Kor 5:20).

DOA: Bapa surgawi, jadikanlah perayaan Sakramen Tobat sebagai titik tolak hidup dengan semangat rekonsiliasi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP BERSAUDARA DALAM KASIH” (bacaan tanggal 19-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 15 Februari 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS