WALAUPUN BERANTAKAN, TETAP ADA PENGHARAPAN

(Bacaan Kitab Suci, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Jumat, 26 Februari 2016 )

 

Joseph being sold into Slavery by His Brothers

Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.

Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: “Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka.” Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan.

Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: “Janganlah kita bunuh dia!” Lagi kata Ruben kepada mereka: “Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia” – maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.

Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar,  balsam dan damar ladan,  dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: “Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. (Kej 37:3-4. 12-13a.17b-28) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21; Bacaan Injil: Mat 21:33-43.45-46

“Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah” (Kej 37:4).

Keluarga Yakub (Israel) dalam keadaan berantakan. Yakub mempunyai dua orang istri, Lea dan Rahel (Kej 35:23), dan dua keluarga. Yakub lebih mencintai Yusuf, anak pertama dari istri kedua yang sangat dicintainya. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila anak-anak dari istrinya yang pertama sangat tidak bersahabat dengan Yusuf. Mereka membenci Yusuf dan tidak mau menyapanya dengan ramah (lihat Kej 37:4).

Para saudara Yusuf dari lain ibu itu ingin sekali membunuhnya (lihat Kej 37:18). Lalu mereka memutuskan untuk melemparkan Yusuf ke dalam sumur dan membiarkannya mati kelaparan (Kej 37:22). Akhirnya mereka menjual Yusuf sebagai budak (Kej 37:28). Mereka berbohong kepada ayah mereka dengan memberi kesan bahwa Yusuf mati karena diterkam binatang buas (lihat Kej 37:20,33). Para saudara Yusuf hidup dalam kebohongan untuk bertahun-tahun lamanya. Beberapa dari mereka merasa bersalah besar dan saling menuding karena menyebabkan hati ayah mereka susah (lihat Kej 42:22).

Kita harus mengakui bahwa banyak dari keluarga-keluarga kita pada saat ini semakin banyak yang menyerupai keadaaan keluarga Yakub yang berantakan itu. Mereka telah mengalami penolakan, kebencian, ketidaksetiaan, perceraian, keretakan, pelecehan, KDRT, malah incest juga. Tuhan berjanji akan bekerja lewat puasa kita dan kita (anda dan saya) akan disebut sebagai orang yang memperbaiki tempat tinggal yang sudah runtuh (lihat Yes 58:12). Jadi, tetap ada pengharapan bagi keluarga-keluarga yang telah berantakan. Ada pengharapan dalam masa puasa ini. Ada pengharapan dalam diri Yesus. YHWH Allah berjanji lewat mulut nabi Yeremia: “Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer 29:11).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita (anda dan saya) menyerahkan diri kita dan para anggota keluarga kita kepada Dia yang mempunyai rencana damai sejahtera, seperti dikatakan oleh Petrus dalam suratnya: “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu” (1 Ptr 5:7).

DOA: Bapa surgawi, lepaskanlah orang-orang yang menderita dari penderitaan mereka. Kami berdoa agar kehendak-Mu bagi kehidupan orang-orang itu diwujudkan. Segarkanlah dan kasihilah mereka yang tersingkir dan hidup tanpa pengharapan. Kami menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43,45-46), bacalah tulisan yang berjudul “KERENDAHAN HATI, KETEKUNAN DAN KETETAPAN HATI”  dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS