PENGAMPUNAN ALLAH ITU ADIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Sabtu, 27 Februari 2016) 

prodigal son

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh  bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 103:1-4.9-12

“Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya”  (Luk 15:28).

Banyak sekali orang yang tidak dapat menerima pesan dari perumpamaan si anak hilang ini. Mereka lebih berpihak kepada saudara yang sulung itu. Mereka menginginkan agar si “anak hilang” itu dihukum saja dan jangan diampuni. Mengapa? Apakah alasan mereka? Karena mengampuni bagi mereka berarti setengah menyetujui dan mengabadikan kejahatan.

Banyak orang memang memandang pengampunan sebagai suatu alasan bagi seorang pendosa untuk menolak tanggung jawab atas dosanya. Mereka melihat pengampunan sebagai tindakan tidak adil terhadap korban akibat dosa dari si pendosa.

Dalam kerahiman-Nya (belas kasih-Nya), Tuhan tidak hanya mengasihi, mengampuni dan menghargai pendosa, tetapi dalam keadilan-Nya Dia juga membenci dosa dan perbuatan dosa. Tuhan mengungkapkan kemarahan-Nya terhadap dosa dengan “menghapuskan kesalahan-kesalahan kita” dan “melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (lihat Mi 7:19). Tuhan membuang dosa-dosa kita dan menenggelamkannya ke dalam dasar lautan.

Dengan demikian pengampunan Tuhan tetap adil. Sikap kasih-Nya yang lembut dan penuh ampun kepada para pendosa sebagai alasan sikap memusuhi dosa dan akar-akar dosa. Pada kayu salib, Yesus secara sempurna mengasihi kita – para pendosa – dan membenci serta menghancurkan dosa serta pekerjaan iblis (1 Yoh 3:8). Tuhan membedakan pendosa dari dosanya.

Mengikut jejak Yesus Kristus berarti mengasihi dan mengampuni orang-orang yang berdosa dan tetap tegar membenci dosa serta menghancurkan sumber dosa.

DOA: Bapa surgawi, melalui kuasa Roh-Mu berikanlah kekuatan kepadaku untuk mau dan mampu bergumul melawan dosa sampai mencucurkan darah (Ibr 12:4). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “ANAK YANG HILANG” (bacaan tanggal 27-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak, 23 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS