ORANG-ORANG NAZARET MENOLAK UNTUK BERTOBAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Senin, 29 Februari 2016)

YESUS DITUDUH SEBAGAI PENGHUJAT ALLAHKata-Nya lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Lagi pula, Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Pada zaman Nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang disembuhkan selain Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangkit, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. (Luk 4:24-30)

Bacaan Pertama: 2 Raj 5:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3; 43:3-4

“Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu” (Luk 4:28)

Apabila Tuhan Allah berbuat sesuatu kepada seseorang dan bukan kepada diri kita (anda dan saya), apakah kita lalu membanding-bandingkan diri kita dengan orang itu, lalu kita merasa diperlakukan kurang adil atau kurang enak oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada penduduk kotanya sendiri – Nazaret – bahwa selama tiga tahun kelaparan seperti dikisahkan oleh nabi Elia ada banyak janda Yahudi yang sangat membutuhkan pertolongan, namun tak seorang pun dari janda-janda tersebut yang memperoleh pertolongan. Akan tetapi, seorang janda non-Yahudi (baca: kafir) di Sarfat, tanah Sidon, justru mendapatkan pertolongan dari Elia (Luk 4:25-26; lihat 1 Raj 17:1,8-16). Pada zaman nabi Elisa, di Israel juga terdapat banyak sekali penderita kusta, namun Allah tidak menyembuhkan seorang pun dari mereka, kecuali Naaman – seorang panglima raja Aram (Luk 4:27; lihat 2 Raj 5:1-14).

Kata-kata Yesus yang memperbandingkan rakyat Israel dengan orang-orang asing di atas tidak/kurang enak didengar telinga orang-orang yang hadir di sinagoga, walaupun maksud Yesus bukanlah untuk menganggap rendah atau meremehkan bangsa-Nya sendiri, melainkan untuk memanggil mereka agar bertobat. Namun kenyataannya adalah bahwa orang-orang Nazaret itu menolak untuk bertobat.

Orang-orang Nazaret itu malahan mencoba melemparkan Yesus dari atas tebing (lihat Luk 4:29-30). Apabila kita sendiri merasa diremehkan, tentu ada yang kita ingin lemparkan dari atas tebing, entah itu Yesus, cinta-diri kita sendiri atau dosa kesombongan kita.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita meneladan Namaan. Marilah kita membuang jauh-jauh kesombongan kita dan bertobat, dan dengan rendah hati patuh kepada Tuhan (2 Raj 5:11 dsj.). Marilah kita tetap memuji Allah apabila ada orang lain yang terberkati sedang kita sendiri merasa tidak terberkati, atau orang lain disembuhkan sedangkan diri kita merasa tidak/belum disembuhkan. Marilah kita bersyukur kepada Allah apabila ada orang lain yang mendapat perhatian lebih dari-Nya. Inilah panggilan bagi kita semua untuk bertobat!

DOA: Bapa surgawi, buanglah jauh-jauh rasa sombong dari hatiku. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diri agar mau dan mampu meneladan Namaan, para kudus dan teristimewa Putera-Mu sendiri – Yesus Kristus – yang sepenuhnya taat-patuh kepada perintah-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KAMPUNG HALAMAN SENDIRI” (bacaan tanggal 29-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-02  PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016.

Cilandak, 26 Februari  2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS