ALLAH, BUKAN BERHALA-BERHALA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah Jumat, 4 Maret 2016) 

1017hosea-prophet0010

Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN (YHWH), Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada YHWH; katakanlah kepada-Nya: “Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami. Asyur tidak dapat menyelamatkan kami; kami tidak mau mengendarai kuda, dan kami tidak akan berkata lagi: Ya, Allah kami! kepada buatan tangan kami. Karena Engkau menyayangi anak yatim.” Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murkaku telah surut dari pada mereka. Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti bunga bakung dan akan menjulurkan akar-akarnya seperti pohon hawar. Ranting-rantingnya akan merambak, semaraknya akan seperti pohon zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon. Mereka akan kembali dan diam dalam naungan-Ku dan tumbuh seperti gandum; mereka akan berkembang seperti pohon anggur, yang termasyhur seperti anggur Libanon. Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah.

Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan YHWH adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ. (Hos 14:2-10) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17; Bacaan Injil: Mrk 12:28-34

“Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah” (Hos 14:9). 

Hosea seringkali dijuluki sebagai nabi kasih ilahi (prophet of divine love), seorang nabi yang berbicara mengenai ‘seorang’ Allah yang sudi menderita agar dapat memperoleh kembali Israel yang sangat dikasihi-Nya. Misalnya ada sebuah buku pengantar karangan William J. Doorly yang berjudul: Prophet of Love – Understanding The Book of Hosea (Paulist Press, 1991).

Hosea hidup pada abad ke 8 SM di kerajaan Israel sebelah Utara. Masa itu adalah masa yang penuh dengan pergolakan di mana para raja Israel berjuang melawan negeri tetangga mereka yang sangat kuat, yaitu Asyur. Akhirnya, kesabaran Asyur habis juga, dan pada tahun 726 SM Israel diserbu dan ibukotanya, Samaria, dihancurkan setelah melalui pengepungan selama tiga tahun (lihat 2 Raj 17:5). Hosea memahami bahwa YHWH telah memperkenankan terjadinya penghancuran ini serta kekacauan yang menyertainya, sebagai tanggapan-Nya terhadap penyembahan berhala dan ketidaksetiaan bangsa Israel untuk bertahun-tahun lamanya. Hosea sendiri menggunakan ketidaksetiaan istrinya, Gomer, sebagai suatu metafor untuk menggambarkan ketidaksetiaan seluruh bangsa terhadap Allah.

Memang sangat sedikitlah umat Kristiani yang mengakukan dosa menyembah berhala, walaupun Allah dalam Kitab Suci menyebut bahwa penyembahan berhala merupakan salah satu godaan yang besar di kalangan umat. Menyembah berhala adalah dosa menentang perintah pertama dari “Sepuluh Perintah Allah” (Kel 20:2 dsj.). Para nabi berulang kali menyampaikan kepada umat Israel tentang bahaya dari penyembahan berhala. Penulis Kitab Kebijaksanaan Salomo membuat pernyataan yang mengejutkan: “… pemujaan allah-allah (maksudnya: ilah-ilah) yang hampa adalah awal, sebab dan akhir segala kejahatan” (Keb 14:27). Yohanes menutup suratnya yang pertama secara cukup mengejutkan juga: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala” (1 Yoh 5:21). Di lain pihak Paulus sendiri mengingatkan dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus: “Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, jauhilah penyembahan berhala!” (1 Kor 10:14).

Pada zaman sekarang, penyembahan berhala sama sekali tidak ada hubungannya dengan arca atau patung ataupun upacara keagamaan yang menyeleweng. Penyembahan berhala adalah suatu kegiatan membuat sesuatu atau seseorang jauh lebih penting daripada Tuhan Allah. Paulus menyebutkan bahwa “keserakahan” adalah berhala (Ef 5:5; bdk. Kol 3:5). Penyembahan berhala adalah memberi sebagian dari hati kita, jiwa dan pikiran serta tenaga kita kepada sesuatu di luar Tuhan. Ada tertulis: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrj 12:30; bdk. Ul 6:5). Hal ini membuat kita tidak mungkin lagi menyerahan segalanya kepada Tuhan. Apabila kita tidak memberi 100% kepada Tuhan, dengan sendirinya kita berada dalam bahaya menyembah berhala.

Dengan demikian benarlah apa yang disampaikan oleh Hosea: “Bertobatlah, hai Israel, kepada TUHAN (YHWH), Allahmu” (Hos 14:2), “dan kami tidak akan berkata lagi: Ya Allah kami! kepada buatan tangan kami” (Hos 14:4). Dan yang terakhir: “apakah lagi sangkut paut” kita dengan “berhala-berhala”? (Hos 14:9).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang penuh kasih dan bela rasa. Pimpinlah kami melalui pencobaan-pencobaan dan berbagai kesulitan dalam kehidupan kami dengan suatu visi berkenan dengan rencana-Mu yang besar dan hasrat-Mu terhadap kami, anak-anak-Mu. Tolonglah kami untuk senantiasa mengingat bahwa Engkaulah satu-satunya Hidup dan Keselamatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 4-3-16), dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN MARET 2016. 

Cilandak, 1 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS