CERITA TENTANG SUSANA YANG CANTIK DAN SOLEHA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Senin, 14 Maret 2016) 

ricci_suzanna_daniel_grt-1

Lalu hukuman  mati dijatuhkannya kepada Susana. Maka berserulah Susana dengan suara nyaring: “Allah yang kekal yang mengetahui apa yang tersembunyi dan yang mengenal sesuatu sebelum terjadi. Engkaupun tahu pula bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati meskipun tidak kulakukan sesuatupun dari apa yang mereka bohongi aku.”

Maka Tuhan mendengarkan suaranya. Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya, maka Allah membangkitkan roh suci dari seorang anak muda, Daniel namanya. Berserulah ia dengan suara nyaring: “Aku ini tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!” Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya: “Apakah maksudnya yang kaukatakan itu?” Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka, katanya: “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?” Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!”

Bergegas-gegas kembalilah rakyat lalu orang-orang tua itu berkata kepada Daniel: “Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahukanlah kami. Sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua.” Lalu kata Daniel kepada orang-orang yang ada di situ: “Pisahkanlah mereka berdua itu jauh-jauh, maka mereka akan kuperiksa.” Setelah mereka dipisahkan satu sama lain maka Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum orang yang tidak bersalah dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kaubunuh. Oleh sebab itu, jika engkau sungguh-sungguh melihat dia, katakanlah: Di bawah pohon apakah telah kaulihat mereka bercampur?” Sahut orang-orang tua itu: “Di bawah pohon mesui.” Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah sudah menerima firman dari Allah untuk membalas engkau!” Setelah orang itu disuruh pergi Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya. Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu: “Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda, kecantikan telah menyesatkan engkau dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu. Kamu sudah biasa berbuat begitu dengan puteri-puteri Israel dan merekapun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut. Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu!” Oleh sebab itu, katakanlah kepadaku: Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu: “Di bawah pohon berangan.” Kembali Daniel berkata: “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu!”

Maka berseru-serulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya. Serentak mereka bangkit melawan kedua orang-orang tua-tua itu, sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu. Lalu mereka diperlakukan sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya. Sesuai denganTaurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah. (Dan 13:41c-62) 

Bacaan Pertama: Dan 13:1-9,15-17,19-30,33-62 [versi lebih panjang]; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Injil: Yoh 8:12-20 


susanna-and-the-elders
Seandainya anda seorang sejarawan dan harus melakukan riset atas Kitab Daniel, maka anda dapat menjadi terkejut ketika menemukan bahwa ada banyak debat tentang keakuratan kitab Daniel tersebut, teristimewa apabila ditelaah dari sudut sejarah. Anda akan melihat bahwa walaupun kitab ini mengambil masa pembuangan Babel sebagai latar belakang, kitab itu sendiri baru ditulis hampir 400 tahun kemudian, yaitu semasa Antiokhus IV Epifanes menguasai tanah Palestina. Anda akan bertanya siapa Daniel itu, dan apakah ia menulis sebuah kitab yang dinamakan Kitab Daniel.

Akan tetapi, apabila hanya itu yang anda pelajari dari riset anda tentang Kitab Daniel, maka anda akan luput melihat kebenaran sesungguhnya, yang jauh lebih mendalam daripada berbagai fakta yang kelihatan. Mengapa? Karena Kitab Daniel tidak dimaksudkan untuk dibaca layaknya sebuah buku sejarah, melainkan sebagai sebuah buku cerita. Orang-orang Yahudi yang untuk pertama kalinya membaca Kitab Daniel barangkali sudah mengetahui faktanya. Mereka tahu bahwa raja Antiokhus telah membuat kegemparan yang sangat dibenci rakyat Yahudi, yaitu mendirikan sebuah altar untuk  memuja dewa Zeus di Bait Allah. Orang-orang Yahudi juga mengetahui bahwa raja Antiokhus ini telah mendeklarasikan dirinya sebagai seorang wakil Allah di atas muka bumi, dan ia pun menganiaya dan membunuh banyak orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi juga mengetahui bahwa mereka membutuhkan contoh-contoh yang memberi inspirasi, cerita-cerita yang dapat menolong mereka mempertahankan iman-kepercayaan mereka dalam masa penuh pencobaan. Melalui inspirasi Roh Kudus, cerita tentang Susana – sejalan dengan cerita-cerita lain dalam Kitab Daniel – memenuhi kebutuhan tersebut dengan menampilkan “tokoh-tokoh” atau “pribadi-pribadi” yang menolak untuk menyangkal Allah yang mereka sembah, walaupun dalam situasi yang penuh bahaya dan terancam kematian. Cerita-cerita itu juga menunjukkan kuat-kuasa Allah yang sungguh luarbiasa untuk membebaskan orang-orang yang setia kepada-Nya. Cerita-cerita ini mengingatkan orang-orang Yahudi akan sesuatu yang tidak diungkapkan oleh situasi-kondisi yang mereka hadapi dan alami: bahwa mereka masih dapat bergantung pada Allah, apa pun yang terjadi.

Kitab Daniel bukanlah satu-satunya contoh dari cerita-cerita dalam Perjanjian Lama yang digunakan Roh Kudus untuk berbicara kepada umat-Nya. Kitab Tobit, Judit, dan Yunus adalah contoh-contoh hebat dari cerita-cerita yang memiliki kuasa untuk mentransformasikan – untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran Allah ke dalam kehidupan kita-manusia.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih. Bukankah sungguh menakjubkan dan menyegarkan hati kita apabila kita mengetahui bahwa Allah sungguh berhasrat untuk berkomunikasi dengan kita, sehingga Dia mau menggunakan begitu banyak cara/jalan untuk sampai kepada kita: sebuah cerita, saat matahari terbenam yang indah, seorang sahabat, atau cara/jalan apa saja yang dipilih-Nya? Satu-satunya pekerjaan kita yang dibutuhkan hanyalah membuka mata dan telinga kita dan mendengarkan suara-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hatiku bagi karunia imajinasi. Perkenankanlah diriku melihat Engkau dalam setiap hal: dalam sabda-Mu, dalam umat-Mu, dalam ciptaan-Mu, dan dalam setiap situasi yang kuhadapi dan alami pada hari ini dan hari-hari mendatang. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 8:12-20), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH TERANG DUNIA” (bacaan tanggal 14-3-16) dalam situs/blog PAX ET  BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 13:41c-62), bacalah tulisan yang berjudul “KISAH SUSANA DAN DANIEL” (bacaan tanggal 18-3-13) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak,  11 Maret 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS