MEMBERIKAN NYAWA KITA DEMI CINTAKASIH KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 22 Maret 2016

5bb-institution-of-the-eucharist

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Petrus mengatakan bahwa dia akan memberikan nyawanya bagi Yesus (lihat Yoh 13:37). Hal ini memang dilakukan oleh Petrus, walau pun setelah dia menyangkal Yesus sampai tiga kali (Yoh 18:17,26,27).

Kalau mau berbicara jujur, kita pun seringkali menyatakan akan menyerahkan nyawa kita bagi Yesus, bahkan dengan kalimat yang panjang-panjang dan bernada tinggi. Bukankah itu merupakan hal yang masuk akal dan wajar-wajar saja jika kita sering menyambut Yesus dalam Komuni Kudus? Bukankah itu juga merupakan komitmen kita ketika kita memperbaharui janji-janji baptis kita?

Demikianlah harapan kita semua. Sebagaimana Petrus, kita pun akan menjunjung tinggi komitmen kita dan menyerahkan segalanya kepada Yesus, juga apabila hal itu berarti harus mati bagi-Nya, sebagai martir-martir Kristus? Pada abad ke-20 saja, ada 400-an biarawan Fransiskan (OFM) yang wafat menjadi martir Kristus . Ini baru OFM, dan ada banyak sekali yang lain, termasuk para awam di berbagai penjuru dunia. Pada awal-awal abad ke-21 ini berapa banyak sudah umat Kristiani di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang dibunuh sebagai martir Kristus oleh kelompok-kelompok “aneh tapi nyata” seperti ISIS, Al Qaida, Boko Haram, Al Shabab. Martir-martir ini tidak sudi menyangkal Kristus, apa dan seberapa besar pun biayanya. Masih sangat segar dalam ingatan kita apa yang terjadi di Yemen belum lama ini: 4 orang suster dari Kongregasi Suster yang didirikan oleh Beata Bunda Teresa dari Kalkuta. Mereka datang karena diundang untuk melayani orang-orang kusta di negeri itu, mereka malah dibunuh oleh kelompok Al Qaeda. Ini adalah wujud nyata dari komitmen kepada Yesus Kristus. Mati sebagai martir Kristiani adalah mati demi kesetiaan kepada Kristus, bukan karena membawa bom bunuh diri untuk membunuh orang-orang non-Kristiani.

Kembali kepada kasus Petrus, mungkin saja kita juga bersikap dan berperilaku seperti Petrus: kita menyangkal Kristus, bahkan mungkin lebih dari tiga kali. Jikalau kita mengatakan Petrus sungguh keterlaluan karena menyangkal Kristus sampai tiga kali, maka mungkin saja kita lebih keterlaluan lagi ketimbang Petrus. Kita harus menyadari bahwa setiap kali kita berdosa, sesungguhnya kita menyangkal Kristus. Kita menyangkal-Nya sewaktu kita “tutup mulut” dan tidak membela-Nya ketika Dia dicerca, dihina dlsb. Kita menyangkal Kristus sewaktu kita tak peduli pada-Nya dan tak sudi berbicara dengan Dia dalam doa.

Saudari dan Saudaraku terkasih, mungkin saja kita seperti Petrus, namun mungkin sekali kita jauh lebih jahat daripada Petrus. Semoga kita (anda dan saya) seperti Petrus yang baru saja menerima urapan Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama: berani bersaksi sebagai murid Kristus yang sejati !!! (baca Kis 2:14-40). Semoga selanjutnya kita hidup dan mati karena cintakasih kita kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Dengan rendah hati aku menyatakan bahwa aku memberikan nyawaku karena cintakasihku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGEMBARA DAN ORANG ASING DI ATAS BUMI INI” (bacaan tanggal 22-3-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2016. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 49:1-6), carilah dalam situs/blog SANG SABDA atau PAX ET BONUM, cukup dengan mengetik YESAYA 49:1-6. 

Cilandak, 21 Maret 2016 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS