SANTO STEFANUS, MARTIR KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah Selasa, 12 April 2016)

STEFANUS DI BAWAH PENCOBAAN “Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu. Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.”

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal. Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus. (Kis 7:51-8:1a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 31:3-4,6-8,17,21; Bacaan Injil: Yoh 6:30-35

Dalam menghadapi para penuduhnya yang sudah panas-hati dan siap untuk merajamnya, Stefanus menolak untuk mundur. Sebaliknya, dia menyebut para lawannya itu sebagai orang-orang yang keras kepala, keras hati dan tuli dan selalu menentang Roh Kudus (lihat Kis 7:51). Apakah kita mempunyai keberanian untuk berdiri tegak seperti Stefanus dalam menghadapi para penuduh kita? Apakah kita siap mati demi keyakinan kita tentang Yesus? Stefanus terus mengucapkan kata-kata yang diberikan Allah kepadanya. Dalam artian tertentu kehidupan Stefanus paralel dengan kehidupan Yesus; keduanya penuh dengan rahmat dan mampu membuat mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya.

Teks Kitab Suci yang saya pakai di atas adalah teks Perjanjian Baru terbitan LAI, Edisi TB II. Teks Kis 7:51 menurut Alkitab terbitan LAI Edisi TB berbunyi sebagai berikut: “Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu.”  Marilah kita menyoroti potongan kalimat yang digarisbawahi di atas.

Apakah yang dimaksudkan Stefanus dengan tidak bersunat? Dalam Kitab Ulangan, Musa berbicara mengenai nilai sejati dari penyunatan yang merupakan bagian dari tradisi warisan bangsa Israel: “YHWH, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasithi YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup” (Ul 30:6). Di bawah perjanjian baru yang dicanangkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus,  hati lama kita yang keras seperti batu, sekarang dapat digantikan dengan hati yang taat, seperti dikatakan oleh Nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh 36:26).

KISAH - STEFANUS DIRAJAMStefanus menggambarkan para pemuka agama Yahudi sebagai orang-orang tidak bersunat hati dan telinga. Mengapa demikian? Karena mereka telah menutup diri bagi Allah sedemikian rupa sehingga Dia tidak dapat bergerak dalam diri para pemuka agama tersebut dan menghangatkan diri mereka dengan kasih-Nya. Karena para tokoh agama itu lebih menyukai hikmat mereka sendiri ketimbang hikmat Allah, maka telinga mereka pun dapat dikatakan tidak bersunat. Karena hanya mengandalkan diri pada “pembenaran diri mereka sendiri”, maka mereka tidak dapat menerima rahmat Roh Kudus. Mereka menentang semua orang yang dapat membawa mereka kepada pertobatan dalam arti sesungguhnya. Sederhananya, mereka tidak terbuka terhadap sapaan Tuhan Allah.

Marilah kita teladani Stefanus yang begitu berani berbicara mengenai kebenaran tentang Tuhan Yesus. Seperti Yesus dan Stefanus, marilah kita mengampuni para penuduh kita atau mereka yang membenci kita karena kita adalah pengikut-pengikut Kristus, sehingga dengan demikian kehidupan Yesus semakin dimanisfestasikan dalam diri kita. Marilah kita berketetapan hati untuk tidak merasa takut terhadap salib pengejaran/penganiayaan, kesalahpahaman, fitnah, umpatan dan caci-maki dari mereka yang tidak senang kepada kita. Sebaliknya, marilah kita rangkul salib yang diperuntukkan bagi kita itu dengan pengharapan dan sukacita. Barangkali saja kita akan dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Yesus seperti yang dilakukan oleh Stefanus. Tidak sedikit saudara-saudari kita di Korea, Jepang, Cina telah membuktikan bahwa mereka pun pantas diberi gelar martir, saksi Kristus, murid Kristus yang sejati. Nama-nama mereka turut menghiasi buku para martir Kristus yang bab pertamanya sudah dimulai sejak zaman Gereja perdana. Sungguh suatu sukacita luarbiasa bagi kita apabila kita memperkenankan salib melakukan pekerjaannya dalam diri kita. Sebagai catatan penutup, baiklah kita mendengar sabda bahagia dari Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat 5:11-12).

DOA: Roh Kudus Allah, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Bergeraklah dengan bebas dan penuh kuasa dalam diriku, sehingga Yesus dapat dimuliakan dalam diriku seperti halnya Dia dimuliakan dalam diri Santo Stefanus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:30-35), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERJAMUAN PERSAHABATAN” (bacaan tanggal 12-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016) 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 10 April 2016 [HARI MINGGU PASKAH III – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS