JALAN MENUJU KEHIDUPAN KEKAL-NYA ADALAH MELALUI SALIB

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Jumat, 15 April 2016)

christ-teaches-i-am-the-bread-of-life

Orang-orang Yahudi pun bertengkar antara sesama mereka dan berkata, “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku benar-benar minuman. Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Siapa saja yang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat. (Yoh 6:52-59)

Bacaan Pertama: Kis 9:1-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Semua kehidupan adalah karunia dari Allah, yang menciptakan, menopang dan dengan sangat mendalam mengasihi semua orang. Karena hal ini adalah benar, maka sesungguhnya tidak diperlukanlah kecemasan dalam kehidupan kita. Manakala kita berada dalam kesulitan atau merasa susah, kita dapat menemukan penghiburan dalam iman kita bahwa Allah Bapa ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Dia selalu mengetahui apa saja yang kita butuhkan – baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan spiritual – dan Ia tidak pernah akan meninggalkan kita.

Setelah memenuhi kebutuhan lebih dari 5.000 orang pengikut yang lapar, Yesus mengatakan kepada orang-orang yang sama ini bahwa siapa saja yang memakan daging-Nya akan memperoleh kehidupan kekal karena Dia (lihat Yoh 6:57). Ini memang suatu klaim yang sangat serius – sesuatu yang hanya dapat dibuat oleh sang “Pengarang Kehidupan” itu sendiri. Justru memang inilah yang ingin ditegaskan oleh Yesus. Kehidupan alami adalah suatu karunia dari Allah, suatu mukjizat yang dipenuhi sukacita dan keajaiban. Akan tetapi sekarang Yesus mengatakan, bahwa siapa yang telah dilahirkan ke dalam dunia mempunyai kesempatan untuk menerima juga suatu jenis kehidupan yang lain – suatu kehidupan spiritual dengan Allah Bapa yang berlangsung sampai kekal.

Kita mau tidak mau harus mengakui bahwa hal ini sungguh menakjubkan dan penuh dengan penghiburan, karena kita dapat menjadi para penerima kehidupan ilahi. Hal ini bukanlah karena upaya dan kerja keras kita, melainkan murni rahmat dari Allah Bapa yang memenuhi diri dengan kehidupan  ilahi. Yang perlu kita lakukan hanyalah menerima-Nya dan memakan-Nya. Dengan demikian, setiap kali kita menerima Ekaristi, maka “transfusi” kehidupan suci yang dianugerahkan kepada kita pada waktu baptisan itu diperbaharui dan diperkuat lagi.

Kehidupan ini adalah suatu “karunia prei” (bebas – free gift) bagi kita, akan tetapi bagi Yesus ini adalah pengorbanan segala-galanya. Beberapa kali Yesus memberitahukan para murid-Nya, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (lihat Mrk 8:31; bdk. 9:31;10:33-34 dll.). Kali ini pun Yesus berkata-kata secara langsung kepada orang banyak yang sedang mengikuti-Nya. Dengan mengatakan  bahwa Dia akan memberikan daging-Nya dan darah-Nya “untuk hidup dunia” (lihat Yoh 6:51), Yesus sebenarnya mengajar mereka bahwa jalan menuju kehidupan kekal-Nya adalah melalui salib. Yesus berbicara begitu langsung dan gamblang, namun Ia memanifestasikan kasih-Nya yang besar. Marilah kita renungkan: Penderitaan Yesus yang paling besar dan berat itu telah menjadi sumber dari keakraban (intimasi) dan persekutuan kita dengan diri-Nya. Hal ini menunjukkan betapa luarbiasa mendalam komitmen Yesus kepada kita-manusia.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin tetap berada dalam Engkau. Tolonglah aku untuk mengangkat pikiranku kepada-Mu dan untuk menyimpan kehidupan-Mu dalam diriku. Tuhan, curahkanlah hidup-Mu juga kepada lebih banyak orang lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 9:1-20) bacalah tulisan yang berjudul  “PERGUMULAN PRIBADI ANANIAS” tanggal 15 April 2016, dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 12 April 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS