IA RELA MATI UNTUK KAWANAN DOMBA-NYA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Senin, 18 April 2016)

a62a627ec0c71a059bcad19496308ef4

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.  (Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Mungkin saja orang-orang “modern” tidak setuju, namun para gembala dan kawanan domba mereka adalah gambaran yang familiar di tengah daerah perbukitan atau dataran tinggi di Yudea. Seperti para penulis Perjanjian Lama (lihat Mzm 23,  Yes 40:11; Yeh 34:16), Yesus melihat bahwa alamiah-lah untuk menggunakan imaji gembala yang memelihara kawanan dombanya sebagai ilustrasi tentang cara Allah memperhatikan serta memelihara umat-Nya.

Domba-domba teristimewa dipelihara untuk dicukur bulunya (wool) dan baru kemudian untuk dagingnya, dan domba-domba itu dipelihara untuk bertahun-tahun lamanya, sehingga dapat mengenali suara gembala mereka dengan akrab. Apabila karena sesuatu hal sang gembala absen, maka domba-domba peliharaannya dapat menjadi ketakutan dan bingung. Hanya setelah mendengar suara gembala mereka, maka domba-domba itu dapat menjadi tenang kembali. Atas dasar kenyataan inilah maka tugas penggembalaan dari seorang gembala secara tetap menuntut kewaspadaan, keberanian dan kesabaran dalam memperhatikan serta memelihara kawanan dombanya. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus mengibaratkan diri-Nya sebagai seorang gembala baik, yang rela mati untuk kawanan domba-Nya (lihat Yoh 10:11).

Apakah anda mengenal serta mengalami Yesus sebagai gembalamu yang baik? Apakah anda telah memutuskan untuk menyediakan waktu bersama-Nya, belajar cara-cara-Nya dan menjadi familiar dengan suara-Nya? Apabila kita memiliki kemampuan untuk mendengar suara-Nya ketika Dia berbicara, maka kita pun akan terlindungi dari daya pikat banyak suara lainnya yang mengaburkan pemusatan perhatian kita. Walaupun penting bagi kita untuk mempelajari doktrin Kristiani – sabda Yesus – hal ini tidaklah cukup. Kata-kata Yesus dapat dimanipulasi, disalahtafsirkan dengan sengaja maupun tidak, dengan demikian disalahpahami. Kita juga perlu sekali menjadi familiar dengan suara Yesus selagi Dia berbicara kepada hati kita. Hanya dengan begitu pengenalan kita menjadi kasih. Hanya setelah mengalami-Nya seperti itu maka kita akan mampu mengasihi orang-orang lain dengan cara yang sungguh mencerminkan kasih-tanpa batas dari Yesus kepada mereka.

Sebagai anak-anak Allah yang dibaptis, maka keakraban dengan Yesus seperti ini adalah hak kita sejak lahir. Yesus menginginkan kita untuk mengenal-Nya sebagaimana Dia mengenal kita – secara pribadi dan mendalam. Dalam doa-doa pada hari ini, baik di dalam gereja maupun di rumah dan di mana saja, marilah kita menenangkan hati kita. Dalam keheningan baiklah kita mendengar suara Tuhan Yesus. Anda mungkin mencoba mendengarkan musik untuk mengiringi meditasi atau membaca mazmur dengan bersuara agar dapat menyingkiran segala pelanturan yang ada. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar menarik kita lebih dekat lagi kepada  Yesus. Semoga suara Yesus menghangatkan hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku mengenal suara-Mu sehingga aku dapat tetap berada dengan aman di tengah kawanan domba-Mu, yaitu umat-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur  kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang senantiasa penuh kesetiaan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS MENGENAL DOMBA-DOMBA-NYA, DAN DOMBA-DOMBA-NYA MENGENAL DIA” (bacaan tanggal 18-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-4-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 14 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS