YANG DIUTUS DAN YANG MENGUTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 21 April 2016)

jesus-washing-apostles-feet-39588-tablet

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20) 

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku”  (Yoh 13:20).

Sabda Yesus pada akhir bacaan Injil di atas sungguh mengherankan, bahkan membingungkan. Kelihatannya “tidak nyambung” dengan kata-kata yang diucapkan Yesus sebelumnya. Namun sebagai kesimpulan atas keseluruhan peristiwa pembasuhan kaki para rasul, tentu kata-kata ini berfungsi dengan baik sekali sebagai “pengingat” akan pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa itu.

Keterkaitan antara seseorang yang diutus dan orang yang mengutus membentuk tatanan pelayanan dalam komunitas. Pertama-tama, keberatan Petrus terhadap pelayanan Yesus yang penuh kerendahan hati untuk membasuh kaki-kakinya, adalah suatu cerminan samar-samar dari penolakan kita terhadap pelayanan penuh kasih orang-orang lain kepada kita. Keengganan  Petrus untuk menerima pelayanan penuh kerendahan hati dari Yesus yang diakuinya sebagai Tuhan dan Guru, dapat kita bandingkan dengan penolakan kita terhadap pelayanan serupa dari orang-orang yang kita pandang sebagai tidak pantas, tidak memadai, tidak qualified, dlsb. Kita ingin semuanya datang dari mulut Tuhan sendiri; kita senantiasa mencari sabda Yesus yang definitif tentang hal ini atau hal itu; kita sungguh menginginkan seorang penebus kelas satu yang memenuhi peryaratan-persayaratan kita yang spesifik agar kita dapat dengan bangga berjalan bersamanya di hadapan dunia. Semakin mendesak kebutuhan kita akan penebusan, maka semakin rumit pula persyaratan-persyaratan kita tentang seorang penebus.

Kedua, ungkapan “siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku” memang logis, tidak hanya untuk peristiwa pembasuhan kaki, melainkan juga peristiwa “inkarnasi” itu sendiri. Apa yang dilihat oleh para murid hanyalah “Yesus dari Nazaret”, padahal sesungguhnya mereka melihat “Bapa”. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus kepada rasul Filipus: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”  (Yoh 14:9). Demikian pula halnya dengan orang-orang Kristiani. Seringkali mereka melihat orang-orang yang melayani mereka sekadar sebagai sesama manusia seperti mereka sendiri, dengan segala keterbatasan dan kelemahan kemanusiaan. Padahal, sebenarnya mereka harus melihat dalam diri orang-orang yang melayani mereka itu Tuhan Yesus yang mengutus mereka: “Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku” (Yoh 13:20).

teresa-webInti sari dari kata-kata Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu”, yang membangun keterkaitan antara para utusan dengan Tuhan Yesus, dan antara Tuhan Yesus dengan Bapa, terletak pada perintah Yesus kepada para murid-Nya: “supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15), tidak kurang dari ajaran-Nya: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” (Yoh 13:8b).

Dari perspektif Yohanes Penginjil, yaitu setelah Yesus “pergi dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh 13:1), “mendapat bagian dalam Tuhan Yesus” tetap selalu tergantung pada penerimaan kita akan pelayanan kasih dari orang-orang yang diutus-Nya. Tentu saja kita tidak secara khusus cenderung untuk menerima kasih dan pelayanan sedemikian dengan penuh kemauan, seperti juga Petrus yang berkeberatan ketika kaki-kakinya hendak dibasuh oleh Yesus. Terkadang kita malah bersikap dan berperilaku lebih “konyol” daripada Petrus; kita berpikir lebih pantas dilayani oleh orang-orang yang lebih “hebat”, lebih berkharisma, lebih dihargai di mata dunia, dlsb.

Kita berpretensi mempunyai hak untuk mendapatkan kasih dan pelayanan, namun hanya dari orang-orang yang memenuhi standar-standar yang telah kita tetapkan. Dengan berpretensi seperti itu kita sebenarnya membutakan diri kita sendiri terhadap kasih dari semua orang di sekeliling kita. Kita cepat lupa bahwa ini adalah tempat satu-satunya di mana kasih dari Dia yang diutus Bapa dan kasih Bapa yang mengutus-Nya dapat diperoleh, yaitu dalam kasih orang-orang bagi kita.

Tentu saja mereka yang membutuhkan kasih dan pelayanan tidak berada dalam posisi untuk mendikte bagaimana dan dari siapa mereka menerima kasih dan pelayanan tersebut. Dengan menolak kasih dan pelayanan dari orang-orang yang diutus Yesus, sesungguhnya mereka tidak mendapat bagian dalam Yesus yang mengutus orang-orang itu (Yoh 13:8). Dengan demikian mereka menjadi tidak mampu untuk mengasihi Yesus atau melihat dia dalam diri orang-orang lain, apalagi melihat dan mengasihi Bapa dalam diri Yesus.

Rangkaian “representasi dan substitusi” dari dia yang melayani kita, kepada Tuhan Yesus yang melayani para murid-Nya, kepada Bapa yang mengutus Putera-Nya untuk melayani,  inilah yang membentuk komunitas umat beriman. Dalam komunitas ini, “saling mengasihi” memang perlu dipolakan berdasarkan sabda Yesus: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

Catatan:  Adaptasi dari Stanley B. Marrow, THE GOSPEL OF JOHN – A READING, Mahwah, New Jersey: 1997, ST PAULS, pages 235-237.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengasihi diriku sehingga sudi mengutus orang lain untuk melayani manakala aku membutuhkan pertolongan. Aku juga berterima kasih penuh syukur karena Engkau juga mengutus diriku untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang lain. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang lembah lembut dan dipenuhi dengan kedinaan, sehingga dengan demikian aku dapat melayani seperti Engkau sendiri melayani. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA” (bacaan tanggal 21-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 19 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS