TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DATANG KEPADA BAPA, KALAU TIDAK MELALUI AKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 22 April 2016)

5bb-institution-of-the-eucharist

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6) 

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

Bab 14 dalam Injil Yohanes ini berisikan pesan penghiburan dari Yesus bagi para murid yang sedang merasa galau terkait dengan kata-kata-Nya sebelum itu, bahwa Dia akan pergi (Yoh 13:33-36). Yesus meyakinkan para murid-Nya bahwa kepergian-Nya kepada Bapa lebih merupakan keuntungan daripada keuntungan bagi mereka, karena Dia akan menjadi lebih dekat dengan mereka setelah kebangkitan-Nya dan mereka akan memasuki suatu hidup persekutuan (communio) yang lebih mendalam dengan diri-Nya dan Bapa surgawi.

Kemudian Yesus menjelaskan bagaimana hal ini akan terjadi. Oleh karena itu, para murid tidak boleh “bersusah hati” dengan prospek hidup dalam kesendirian di dunia, rentan terhadap kekuatan-kekuatan jahat dari mereka yang tidak percaya (lihat Yoh 16:33), tanpa ditemani saudari-saudara seiman. Sebaliknya, mereka harus menaruh kepercayaan pada diri-Nya memandang kepergian-Nya sebagai perjalanan penuh kemenangan kepada Bapa dalam kemuliaan (lihat Yoh 14:1). Yesus terus berbicara tentang sebuah “tempat” di mana Dia menyambut para murid-Nya untuk tinggal,  tentang “banyak tempat tinggal” dalam “rumah Bapa-Nya” – semua ini adalah imaji-imaji untuk “area” hidup persekutuan dengan diri-Nya dan Bapa-Nya. Jadi, para murid akan berada di mana Yesus sendiri berada (lihat Yoh 12:26; 17:24), dalam rumah Bapa. Artinya, para murid akan – dengan pertolongan Roh Kudus – masuk melalui iman dalam hidup ini ke dalam suatu relasi akrab dengan diri-Nya dan Bapa-Nya. Juga, relasi istimewa ini merupakan suatu karunia dari Yesus (Yoh 13:2-3) dan dari Bapa (Yoh 13:23).

YESUS GURU KITAAdanya “banyak tempat” dalam rumah Bapa tidak boleh diartikan sebagai adanya perbedaan-perbedaan dalam derajat kesempurnaan atau tingkatan-tingkatan tinggi-rendah dalam surga. Yang dimaksudkan adalah kasih Allah Bapa yang hadir dalam diri Yesus adalah begitu besar sehingga ada ruangan bagi semua murid dalam persekutuan yang ditawarkan-Nya. Pada kenyataannya, semua ungkapan, “tempat”, “tempat tinggal” (lihat Yoh 14:23), “rumah Bapa-Ku” (lihat Yoh 2:16) mengacu pada Yesus sendiri, yang adalah Bait Suci yang baru (Yoh 2:19; 4:21-27, 7:38-39) karena dalam Dia dan melalui Dia umat beriman menikmati persekutuan dengan Allah.

Dalam menggunakan suatu imaji lainnya, yaitu “jalan”, untuk realitas persekutuan yang sama dengan diri-Nya dan dengan Bapa, Yesus menerapkan satu tema “Keluaran” (Exodus) atas diri-Nya: Yesus pergi sebelum para murid-Nya untuk mencari sebuah tempat, memimpin mereka ke suatu tanah terjanji yang baru, yaitu suatu relasi dengan Allah yang memberikan-kehidupan melalui iman: “TUHAN, Allahmu, (yang) berjalan di depanmu di perjalanan untuk mencari tempat bagimu, di mana kamu dapat berkemah dengan api pada waktu malam dan dengan awan pada waktu siang, untuk memperlihatkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh” (Ul 1:32-33).

Jadi, satu-satunya jalan yang dapat ditempuh oleh seorang murid Kristiani kepada Bapa adalah melalui suatu persekutuan iman dan kehidupan dengan Yesus. Yesus-lah yang akan memimpin kita. Yesus-lah jalan kepada Bapa karena Dia adalah kebenaran dan hidup. Jadi, apabila kita menerima Yesus, sang Kebenaran, pernyataan-diri (perwahyuan) Allah sendiri, maka kita menerima hidup-Nya, karena sebagai “Sabda yang menjadi daging”, Yesus adalah perwahyuan sempurna dan Pengantara dengan Allah, dan hidup yang disyeringkan oleh-Nya dengan Bapa-Nya juga disyeringkan oleh-Nya dengan para murid-Nya yang percaya (termasuk anda dan saya).

Catatan: Adaptasi dari James McPolin SJ, JOHN, Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Book, The Liturgical Press, 1990, pages 195-197.

DOA: Tuhan Yesus, karena Engkau adalah sang Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14), maka Engkau dapat melakukan mediasi antara Allah dan kami semua umat manusia. Dan karena Engkau adalah Putera Allah yang senantiasa berada dekat dengan hati Bapa (Yoh 1:18), maka Engkau pun dapat mensyeringkan hidup Allah dengan kami. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH JALAN KEPADA BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 22-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2016. 

Cilandak, 19 April 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS