PENYELESAIAN KONFLIK DALAM GEREJA PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Kamis, 28 April 2016)

Ordo III S. Fransiskus Sekular dan Regular: Peringatan B. Lukhesius, OFS

maxresdefault (3)

Sesudah berdebat beberapa waktu lamanya, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, “Hai Saudara-saudara, kamu tahu bahwa sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraanku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. Allah, yang mengenal hati manusia, memberi kesaksian untuk mereka dengan mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka sama seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak membeda-bedakan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.”

Lalu diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceritakan segala tanda dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di antara bangsa-bangsa lain. Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus, “Hai Saudara-saudara, dengarkanlah aku: Simon telah menceritakan bahwa pada mulanya Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: Kemudian aku akan kembali dan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan bahkan segala bangsa yang atasnya nama-Ku disebut, demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui sejak semula. Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat.” (Kis 15:7-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10; Bacaan Injil: Yoh 15:9-11

Pada waktu orang-orang non-Yahudi mulai menerima Injil, maka Gereja perdana yang semula hanya terdiri dari orang-orang Kristiani Yahudi (baik Yahudi-Palestina maupun Yahudi-Helinis[tis]), harus bergumul dengan suatu isu yang mungkin saja tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya: Apa hubungannya antara mengikuti Hukum Musa dan mengikuti Yesus? Sungguh suatu isu yang pelik. Ada kelompok yang percaya sekali bahwa para pengikut Yesus harus melanjutkan menepati seluruh hukum Allah yang telah diberikan melalui Musa. Mereka bersikukuh bahwa persyaratan ini juga harus diterapkan tidak hanya pada orang Yahudi, tetapi juga pada orang-orang “kafir” yang ingin bergabung ke dalam Gereja/Jemaat.

konsili-di-yerusalem-kis-15Orang-orang Yahudi Kristiani ini memang tidak berpandangan bahwa mereka dapat diselamatkan oleh kepatuhan mereka pada Hukum Musa ini. Akan tetapi mereka memandang ketaatan pada hukum itu sebagai jalan untuk menanggapi intervensi Allah dalam kehidupan mereka. Allah telah memberikan kepada mereka suatu relasi dengan diri-Nya, dan memelihara hukum-Nya merupakan jalan sentral bagi mereka untuk memelihara relasi dengan Allah itu. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Kristiani ini berpikir bahwa hukum harus tetap berperan sentral dalam tanggapan mereka kepada Allah – bahkan setelah kedatangan Yesus  dan perjanjian baru dalam darah-Nya.

Di lain pihak orang-orang Yahudi Kristiani yang lain, seperti Paulus dan Petrus tidak sependapat dengan kelompok tadi. Bagi kelompok Paulus dkk. hukum Musa seharusnya tidak lagi menempati tempat sentral dalam relasi umat dengan Allah. Sebaliknya, Yesus-lah yang harus menjadi pusat!!! Tentu hukum tetap harus menjadi panduan kita untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun tanggapan kita terhadap Allah haruslah difokuskan pada  “mengikuti jejak Kristus”. Konflik ini terangkat ke permukaan sejak adanya beberapa orang Yahudi Kristiani yang datang mengunjungi gereja di Antiokhia. Ketika krisis memuncak, diputuskanlah untuk membawa isu ini ke sidang sebuah konsili di Yerusalem.  Jangan bayangkan Konsili Yerusalem ini diselenggarakan dengan tenang. Perhatikanlah kata “debat” dalam bacaan di atas (Kis 15:7). Ini adalah pertarungan antara para pembela doktrin-doktrin yang berbeda secara prinsipiil.

Pemimpin Gereja di Yerusalem adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (lihat Gal 1:18-19), dan dalam hal ini tugasnya memang tidak mudah. Petrus tidak berbicara lembek dalam konsili ini. Satu kalimatnya yang keras: “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu gandar yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” (Kis 15:10).

Yakobus  adalah seorang Yahudi yang sangat saleh, tetapi dia memiliki satu ciri seorang pemimpin yang baik: dia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk mendengarkan! Sikap yang ditunjukkan Yakobus cukup luwes: dia tidak membuang segala tradisi, dan secara hati-hati melalukan discernment apakah yang kiranya cocok untuk gereja “campuran” yang semakin bertumbuh-kembang. Yakobus patuh pada rencana Allah sehingga konflik yang ada pun dapat diselesaikan dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan dalam Gereja perdana.

Lihatlah betapa pentingnya kita saling mendengarkan, bahkan lebih penting lagi mendengarkan “suara” Roh Kudus! Begitu mudah kita jatuh cinta pada ide-ide kita sendiri, lalu kita menutup telinga terhadap suara-suara yang lain. Ingatlah, kalau kita begitu mencintai ide-ide kita sendiri, bisa-bisa kita lupa dan luput mencintai Allah dan saudari-saudara kita. Dalam situasi sedemikian kita menjadi target yang empuk dari tipu-daya si Jahat. Lihatlah sejarah perpecahan dalam Gereja yang sungguh merupakan skandal, dan hal itu jelas tidak sesuai dengan maksud Yesus mendirikan Gereja-Nya. Allah sungguh berhasrat melihat kita mengalami kesatuan dan persatuan yang penuh kasih dan sukacita secara mendalam. Dia sendiri mohon kepada Bapa agar kita menjadi satu (Yoh 17:11). Allah akan melakukan hal itu – hanya kalau kita memperkenankan-Nya membuat diri kita orang-orang yang mau mendengarkan, mau belajar dan mau mengasihi.

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang pendengar yang baik! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-11), bacalah tulisan yang berjudul “TINGGAL DI DALAM KASIH YESUS” (bacaan tanggal 28-4-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-04 dalam situs/blog SANG SABDA. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 27 April 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS