SANTA KATARINA DARI SIENA, PERAWAN DAN PUJANGGA GEREJA [1347-1380]

25-cathsiennaPada hari ini Gereja memperingati Santa Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja.

Nilai yang dibuat sentral oleh Katarina dalam hidupnya yang singkat itu – dan yang jelas terasa dan konsisten melalui pengalamannya – adalah “penyerahan diri secara total kepada Kristus”. Yang paling penting tentang orang kudus ini adalah bahwa belajar memandang penyerahan dirinya kepada Tuhannya itu sebagai sebuah tujuan yang  harus dicapai dengan berjalannya waktu.

Katarina adalah anak ke-23 dari pasutri Jacopo dan Lapa Benincasa dan bertumbuh sebagai sebagai seorang pribadi yang pandai, periang dan religius secara intens. Katarina mengecewakan ibunya dengan memotong rambutnya sebagai protes terhadap dorongan ibunya yang terus menerus agar dia memperbaiki penampilannya agar dapat menarik perhatian laki-laki yang akhirnya dapat menjadi suaminya.

Katarina masuk Ordo Ketiga Dominikan ketika dia berusia 18 tahun dan untuk tiga tahun ke depan dia hidup menyendiri terpisah dari khalayak ramai, berdoa serta melakukan mati-raga (laku tapa) yang keras. Secara bertahap sekelompok pengikut berkumpul di sekelilingnya – baik perempuan maupun laki-laki. Dari hidup kontemplatifnya bertumbuhlah kegiatan kerasulan aktif di tengah publik. Surat-suratnya kebanyakan dimaksudkan sebagai instruksi di bidang spiritual dan untuk mendorong serta menyemangati para pengikutnya, namun dengan berjalannya waktu semakin menyentuh hal-hal yang bersifat umum. Oposisi dan cercaan mulai bermunculan sebagai akibat dari keberaniannya ikut campur dalam (urusan) dunia dan berbicara dengan penuh kuat-kuasa sebagai seorang pribadi yang berkomitmen penuh pada Kristus. Namun namanya dipulihkan dalam Kapitel Umum Ordo Dominikan pada tahun 1374.

Pengaruh Katarina di tengah masyarakat memuncak karena kekudusannya yang nyata terlihat oleh orang-orang, keanggotaannya dalam keluarga besar Ordo Dominikan, dan  impresi mendalam yang dibuatnya atas Sri Paus. Ia juga bekerja tanpa mengenal lelah untuk perang salib melawan bangsa Turki dan demi perdamaian antara Florence dan Sri Paus.

Katarina adalah contoh baik bagaimana mengikuti teladan Yesus dalam membasuh kaki orang-orang lain (lihat Yoh 13:1-17). Pada tahun 1378 Katarina pergi ke Roma ditemani oleh sekitar 24 (dua puluh empat) murid/pengikutnya. Atas undangan Paus Urbanus VI, Katarina pergi ke pusat Gereja Katolik itu untuk mencoba membantu Sri Paus  mengatasi skisma kepausan yang memanas pada waktu itu. Pada waktu itu ada dua paus palsu (Anti Paus) yang melawan paus yang sah. Skisma ini membelah dunia Kekristenan di Barat ke dalam beberapa kelompok yang berbeda-beda. Kadang-kadang ada teman di Roma yang membantu kebutuhan makanan rombongan Katarina ini. Apabila tidak ada makanan, Katarina sendiri keluar untuk meminta-minta layaknya seorang pengemis. Selama di Roma ini Katarina  menggunakan waktu sehari-harinya di Gereja Santo Petrus menghaturkan doa-doa untuk persatuan dan perubahan/pemulihan dalam Gereja, berbicara dengan Sri Paus dan para kardinal.

Yang mencolok dalam kehidupan Katarina bukanlah kegiatan politis dan sosialnya. Kebesarannya tercermin dalam kesucian, kepercayaan dan perhatiannya yang meluap-luap akan kesatuan dan persatuan umat Kristiani serta keselamatan sesama manusia. Hidup Katarina dibimbing sepenuhnya oleh Roh Kudus, justru karena dia mau menjadi rendah hati di hadapan-Nya dan tidak segan-segan untuk membasuh kaki para rekannya dan orang-orang lain.

Katarina memperembahkan dirinya sebagai kurban bagi Gereja yang sedang berada dalam kesulitan. Ia meninggal dunia di kota Roma di kelilingi oleh “anak-anaknya”.

Catatan: Disarikan dari berbagai sumber, a.l. Leonard Foley OFM [Editor], SAINT OF THE DAY, Cincinnati, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1990, hal. 92-94;  Ronda De Sola Chervin, TREASURY OF WOMEN SAINTS, Makati, Philippines: ST PAULS PHILIPPINES, 1994, hal. 194-196; Michael Walsh [Editor], BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS – NEW CONCISE EDITION, Kent, Great Britain: Burns & Oats, 1995, hal. 125-127.

Jakarta, 29 April 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS