MELESET DAN MELESET LAGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Rabu, 18 Mei 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dr Cantalice, Biarawan Kapusin  

jesus-christ-super-starKata Yohanes kepada Yesus, “Guru, kami melihat seseorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah dia, karena dia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. (Mrk 9:38-40) 

Bacaan Pertama: Yak 4:13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 49:2-3,6-11  

Bayangkanlah betapa bingung Petrus, Yakobus dan Yohanes pada saat itu. Pertama-tama mereka bertiga menyaksikan transfigurasi Yesus dalam kemuliaan-Nya di atas gunung dan mendengar suara misterius yang memerintahkan mereka untuk mendengarkan Yesus (Mrk 9:2-8). Kemudian mereka melihat Yesus dengan nada kesal menegur para murid yang lain karena tidak mampu mengusir roh jahat yang merasuki diri seorang anak (Mrk 9:14-29). Lalu, Yesus memarahi para murid-Nya karena bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk 9:30-37). Sekarang, mereka mendengar Dia membuat koreksi karena mereka mencoba memisahkan para pembuat mukjizat lainnya dari “kelompok istimewa” mereka. Kali ini jubir mereka adalah Yohanes (Mrk 9:38-40). Kelihatannya Yesus tidak pernah berhenti menantang asumsi-asumsi yang telah dibuat para murid-Nya.

Sepanjang Injil Markus, kita melihat para murid hampir mendekati pemahaman tentang siapa Yesus itu, namun ternyata meleset lagi dan lagi-lagi membutuhkan koreksi. Tidakkah hal ini terdengar familiar di telinga kita? Bukankah kita semua dengan cepat dapat membatasi gerak-gerik Allah, mencoba agar Dia “bermain” seturut peraturan kita sendiri?

Mengapa kita ingin memahami Allah seturut pandangan dan ukuran kita sendiri? Mungkinkah karena kita merasa nyaman dan aman jika mempunyai segala jawaban yang diperlukan? Kehidupan kita sebagai umat Kristiani akan jauh lebih mudah apabila kita mengetahui secara pasti apa yang harus kita hindari, dan banyak/sedikitnya apa yang harus kita upayakan agar dapat menghindari hukuman, bukankah begitu?

Para orangtua macam apakah yang menginginkan anak-anak mereka mentaati mereka hanya karena rasa takut? Istri atau suami macam apakah yang menginginkan pasangan hidupnya termotivasi hanya karena tata cara eksternal dalam hal berperilaku? Yesus menginginkan kita untuk mengikut Dia, bukan karena alasan apa pun, kecuali karena kita mengasihi-Nya. Yesus menginginkan suatu relasi dengan kita masing-masing yang benar-benar dipenuhi cintakasih, seakan-akan pasangan yang baru menikah, kita ingin berada bersama-Nya setiap saat dan belajar segala sesuatu tentang diri-Nya. Yesus mengetahui bahwa hal ini hanya akan terjadi jika kita mengesampingkan ekspektasi-ekspektasi kita sendiri dan memperkenankan misteri “seorang” Allah yang sangat mengasihi dan mengorbankan diri-Nya sendiri untuk membentuk pemikiran kita secara mendasar.

Lain kali, jika kita “dikagetkan” lagi oleh sesuatu yang Yesus katakan atau lakukan, maka  janganlah kita melangkah mundur. Kita tidak pernah boleh lagi merasa ragu bahwa Yesus mampu bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga dan tak disangka-sangka. Pandanglah hal itu sebagai suatu tanda lain lagi bahwa Dia sedang mengundang kita kepada hidup iman – dan sukacita dan excitement – yang sama, seperti dialami oleh para pengikut-Nya yang awal.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Teristimewa apabila Engkau mengejutkan diriku, maka aku akan menaruh pikiran-pikiranku dan ekspektasi-ekspektasiku, lalu berkata tanpa ragu, “Tuhan, aku adalah milik-Mu sepenuhnya.” Yesus, biarlah segalanya terjadi atas diriku seturut kehendak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT ITU RIIL” (bacaan tanggal 18-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2014) 

Cilandak, 17 Mei 2016 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan Ordo I] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS