KUDUSLAH KAMU, SEBAB AKU KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Selasa, 24 Mei 2016) 

PETRUS - 1 PEGANG DUA KUNCIKeselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang anugerah yang diuntukkan bagimu. Mereka pun meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya bersaksi tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan orang-orang, yang oleh Roh Kudus yang diutus dari surga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat. 

Sebab itu, siapkanlah akal budimu, waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Ptr 1:10-16) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Mrk 10:28-31 

Teks dari Keluaran 12 (makan paskah dan kurban anak domba yang darahnya yang menyelamatkan mereka dari perbudakan dan kematian) diproklamasikan baik dalam ritus Yahudi maupun dalam Perayaan Malam Paskah oleh umat Kristiani.

Dalam suratnya (sebuah homili), Petrus “mengaktualisasikan” pesan bahwa apa yang diumumkan para nabi di masa lampau sekarang menjadi terwujud, hari ini dan bagi kita! Sebagaimana biasanya para rasul Yesus pertama, Petrus menegaskan bahwa terdapat kesinambungan antara Perjanjian Lama (Perjanjian Pertama) dan Perjanjian Baru; “Roh” yang sama menginspirasikan para nabi zaman sebelumnya, … dan sekarang para pewarta Injil …

Kita (anda dan saya) bertanya: Bagaimana dengan aku? … hidupku sehari-hari? Apakah aku percaya bahwa Roh Kudus hadir dalam kata-kata tertulis ini, untuk membuat kata-kata itu menjadi sabda Allah? Percayakah aku bahwa Dia hadir dalam hatiku, sehingga dengan demikian aku dapat memahami dengan lebih baik arti dari kata-kata itu? Apakah ekspektasi Roh Kudus atas diriku sekarang? ………

Kepada kita diharapkan agar supaya mempersiapkan akal budi kita, mengambil sikap waspada dan penuh pengharapan akan anugerah di saat Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Dengan demikian hanya apabila “roh” kita tidak tidur, maka kita mampu untuk menerima Roh Kudus.

Seorang Kristiani terutama adalah seseorang yang senantiasa sadar dan tidak tidur, yang selalu menaruh perhatian pada Injil, bersedia dan siap, aktif, hidup sepenuhnya dan waspada. Untuk mengungkapkan ini, Petrus memberikan sebuah gambaran yang diingatnya dari pengajaran Yesus dahulu: hamba yang selalu “siap untuk bertindak”, dengan “pinggang tetap terikat dan pelita menyala; seperti orang-orang yang menanti-nantikan  tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintu baginya” (Luk12:35-36; bdk. Mat 24:43-44).

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherImaji atau gambaran ini hidup dan menarik … Akan tetapi, apakah kita sungguh seperti si hamba yang menunggu tuannya? Bukankah pada kenyataannya kita seringkali “tertidur dalam hidup kita”, merasa bosan dan menyerahkan diri kita kepada kemalasan yang pasif?

Di atas dikatakan bahwa para pengikut/murid Yesus Kristus harus “berharap sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan pada saat Ia menyatakan diri-Nya kelak” (lihat 1 Ptr 1:13). Tidak ada alasan mengapa kita (anda dan saya) harus menjadi pesimistis. Petrus di sini tidak berbicara mengenai keputus-asaan, melainkan tentang pengharapan sempurna. Dunia tidak akan menjadi ketiadaan atau kutuk/kematian kekal, melainkan menuju kepada pernyataan diri Yesus Kristus!

Petrus mengingat apa yang dilihatnya dan didengarnya dari Yesus ketika  mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan di tanah Palestina dulu. Sekarang, ia hidup dalam pengharapan akan melihat Yesus kembali, dan ia mencoba untuk mengkomunikasikan pengharapannya ini kepada para pembaca suratnya. Dalam bahasa Yunani, kata untuk “pernyataan diri” atau “perwahyuan” adalah “apocalypsis”, yang berarti “menyingkap kudung/kerudung yang menutupi/menyembunyikan sesuatu” ……

Petrus juga mengingatkan agar kita hidup sebagai anak-anak yang taat dan tidak menuruti hawa nafsu yang menguasai pada waktu kebodohan kita, tetapi hendaklah kita menjadi kudus di dalam seluruh hidup kita sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kita, sebab ada tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:14-16; bdk. Im 11:44-45).

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau hadir bersama kami, namun tak kelihatan. Pada suatu hari kelak, aku akan bertemu dengan Engkau. Tolonglah agar aku dapat bertemu dengan-Mu pada hari ini dalam hidupku dan dalam doa-doaku. Aku juga memahami sabda-Mu bahwa aku harus menjadi kudus seperti Bapa surgawi kudus, artinya bahwa rahmat baptisan adalah suatu panggilan kepada kekudusan. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT” (bacaan tanggal 24-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABNIAH MEI 2016. 

Cilandak, 23 Mei 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS