TEMPAT KESELAMATAN TELAH BERGESER DARI BAIT ALLAH KE YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Jumat, 27 Mei 2016) 

BAIT ALLAH DIBERSIHKAN - YESUS DAN PARA PENUKAR UANGSesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia menemukan sesuatu pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Kata-Nya kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!”  Murid-murid-Nya pun mendengarnya.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka mencari jalan untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, karena seluruh orang banyak takjub kepada pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.

Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Lalu teringatlah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.” [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.] (Mrk 11:11-26) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 4:7-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13 

Di sini Markus menyelipkan satu tradisi (penyucian Bait Allah, Mrk 11:15-19) ke dalam tradisi yang lain (kutuk atas pohon ara, Mrk 11:12-14; 20-25), layaknya sepotong roti sandwich …. mengingatkan kita akan cara Markus menggabungkan dua cerita mujizat dalam 5:21-43. Jelas di sini Markus mau agar kita melihat bahwa ke dua bagian itu saling memberi tafsir; dan seluruhnya harus dibaca karena makna cerita yang satu tergantung dari yang lain. Ini berarti bahwa “nasib” pohon ara serupa dengan “nasib” Bait Allah. “Kutuk” Yesus berarti dua-duanya akan “mati”. Kenyataan bahwa pohon ara itu kedapatan sudah mati-kering pada keesokan harinya (Mrk 11:20) berarti bahwa penghancuran Bait Allah (lihat Mrk 13:2) juga dapat dipastikan akan terjadi, cuma masalah waktu saja. Ada ahli yang mengatakan bahwa tindakan Yesus yang “tidak biasa” ini atas pohon ara (Mrk 11:12-14 dan 30 dsj) kelihatannya melambangkan “nasib” tragis yang bakal menimpa Yerusalem dan agama Yahudi (Lihat  nubuatan dalam Yer 8:13 dan Mi 7:1-6). Dengan demikian perumpamaan simbolik ini membuat jelas makna dari penyucian Bait Allah (Mrk 11:15-17), yang “ditenun”  ke dalam cerita tentang pohon ara itu.

Alasan untuk “penghancuran”  simbolik Bait Allah  (Mrk 11:15-16) diberikan dalam Mrk 11:17: “Bait Allah, yaitu Rumah Yesus, adalah rumah doa, tetapi telah dijadikan sarang penyamun”.  Acuan kepada “sarang penyamun” tidak berarti bahwa Yesus menjadi jengkel serta kesal hati terhadap praktek-praktek bisnis tidak jujur oleh mereka yang menjual hewan korban dan menjadi penukar uang. Ingat bahwa Yesus juga mengusir para pembeli (Mrk 11:15). Yang lebih penting lagi adalah bahwa kata-kata yang digunakan oleh Yesus diambil dari nubuatan nabi Yeremia: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”  (Yer 7:11). Ayat ini mengacu pada Bait Allah ke mana para penyamun mundur – retret –  demi keselamatan mereka, setelah mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan jahat mereka. Tuduhan Yesus tidaklah diarahkan terhadap praktek bisnis yang  “lihai”, tetapi terhadap gagasan atau idee bahwa apa pun yang telah dilakukan oleh orang-orang, mereka akan selamat dari hukuman kalau telah menghadap Allah dalam Bait-Nya (lihat Yer 9:7-15). Di sini Yesus juga tidak berpikir untuk sekadar melakukan suatu reformasi atas praktek-praktek di Bait Allah itu. Hewan-hewan diperlukan untuk upacara kurban persembahan dan hanya uang logam tanpa gambar (bdk. Kel 20:4) yang dapat digunakan untuk membayar pajak Bait Allah. Dua-duanya ada untuk membantu umat yang datang ke Bait Allah guna menyembah-Nya. Namun kalau hewan-hewan tidak ada untuk kurban persembahan dan kalau tidak ada uang yang dibayar umat untuk menunjang Bait Allah, maka tempat kudus itupun tidak akan dapat berfungsi lagi. Maka dengan tindakan protes kenabian ini, Yesus menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama tentang akhir dari Bait Allah yang disebabkan oleh ketiadaan iman bangsa Yahudi sebagai umat pilihan (lihat Yer 7:12-15; Hos 9:15).

FigTree_260x340Bait Allah dimaksudkan sebagai sebuah rumah doa “bagi segala bangsa” (Mrk 11:17; bdk. Yes 56:7). Selama itu Bait Allah gagal menjadi instrumen atau alat keselamatan sedemikian karena disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak suci, sehingga dengan demikian dapat dikatakan tidak berdaya guna. Sesungguhnya dalam rencana Allah, Yesuslah –  dan samasekali bukan Bait Allah – yang menjadi “Instrumen”  keselamatan, malah Dia adalah Sang Penyelamat (Sang Juru Selamat) itu sendiri. Yesus adalah Dia, yang melalui diri-Nya keselamatan ditawarkan dan diberikan kepada orang-orang non-Yahudi. Untuk itu kita dapat melihat praktek pelayanan yang dilakukan Yesus dari Nazaret, ke mana saja Dia pergi dan siapa saja yang dilayani-Nya (lihat Mrk 7:24,31; 8:27). Jadi dalam rencana Allah, keselamatan melalui Yesus ditawarkan dan diberikan kepada semua bangsa sebelum tibanya Kerajaan Allah (Mrk 13:10; bdk. Rm 11:25-26a). Bait Allah tidak lagi menjadi bagian dari rencana itu.

Barangkali hal ini dapat menjelaskan mengenai frase yang terdengar agak aneh berikut ini: “….. sebab memang bukan musim buah ara”  (Mrk 11:13). Pohon ara melambangkan Bait Allah dalam kutukan dan kehancuran yang sama (kehancuran total; lihat kata-kata “sampai ke akar-akarnya”,  Mrk 11:20), dan di sini juga melambangkan tempat  Bait Allah dalam rencana Allah. Tidak ada buah pada pohon ara itu karena memang bukan musim buah ara. Demikian pula tidak ada buah keselamatan dalam Bait Allah –  yakni segala bangsa menyembah Allah di situ – karena memang bukan “musim” –nya juga bagi Bait Allah untuk berbuah. “Tempat” keselamatan telah bergeser dari Bait Allah ke Yesus. Jadi dalam rencana Allah, Bait Allah itu mandul. Ini adalah yang ditunjukkan kepada kita oleh  pohon ara yang tak berbuah itu secara simbolis. “Kutuk” dalam Mrk 11:14 bukanlah disebabkan oleh harapan Yesus yang di luar akal wajar mengenai pohon ara. Yang dimaksudkan di sini oleh Markus adalah untuk mengatakan kepada kita tentang “nasib” Bait Allah.

Barangkali inilah juga alasan dari kata-kata penutup tentang iman (Mrk 11:22-25). Bagi Markus, iman-kepercayaan selalu terikat dengan Yesus. Jadi, doa yang dipenuhi iman sekarang dihubungkan dengan Yesus, bukan Bait Allah. Kalau kita ingin menemukan atau berjumpa dengan Allah secara efektif, maka harus melalui Yesus, yang sekarang mengajar kita mengenai doa, tidak melalui sebuah Bait Allah yang fungsinya sudah kadaluwarsa. Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana dalam rencana Allah, Dia dapat ditemukan/dijumpai, yakni dalam doa penuh iman (lihat Mrk 11:22-24) dan dalam kita mempraktekkan pengampunan Allah yang penuh kasih terhadap sesama kita (Mrk 11:25). Dengan demikian, dalam kombinasi dari beberapa tradisi, Markus memberi semacam gambaran lebih awal dari apa yang akan diutarakannya secara lebih eksplisit di bagian selanjutnya dari Injilnya, yakni “bahwa Yesus, wafat di kayu salib dan dibangkitkan, adalah satu-satunya jalan kepada Allah”.

Pada “bagian aneh” dari Injil Markus ini, mungkinkah Allah sedang mendesak kita merenungkan ketulusan hidup doa kita dan juga praktek keagamaan kita sendiri sekarang, baik sebagai individu-individu maupun sebagai Gereja?

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan hatiku dan buatlah aku menjadi tempat yang layak untuk kediaman Roh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:11-26), bacalah tulisan yang berjudul “KERAGU-RAGUAN MENANTANG IMAN KITA” (bacaan tanggal 27-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2003) 

Cilandak, 26 Mei 2016 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS