MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 28 Mei 2016) 

jesus_christ_picture_013Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu? Jawab Yesus  kepada mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”  (Mrk 11:27-33) 

Bacaan Pertama: Yud 17,20b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6 

Apakah anda pernah mempunyai pengalaman merasa disudutkan dalam suatu interogasi atas dirimu? Anda tahu bahwa apa pun jawaban yang anda berikan, anda tetap berada dalam posisi serba salah. Biasanya hal seperti ini terjadi entah karena anda sungguh bersalah dalam hal yang dipertanyakan, atau karena sang interogator begitu jahat dalam pikirannya. Dia memutar-balikkan kebenaran karena tujuan dia satu-satunya adalah untuk mencelakakan anda.

Sekarang bayangkanlah bagaimana perasaan para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua yang ingin mencobai Dia, ketika Yesus balik bertanya kepada mereka apakah mereka percaya kepada khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Tidak ada cara apa pun bagi mereka untuk menjawab “kick balik” dari Yesus itu, tanpa menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang negatif. Jadi, mereka pun memilih cara yang paling aman, yakni “berlagak bodoh” sajalah.

Tetapi jelas di sini Yesus tidak mencoba untuk berperilaku sebagai seorang yang penuh hikmat-kebijaksanaan. Ia tidak mencoba untuk membuat para pemimpin/pemuka agama Yahudi ini agar kelihatan jelek dan bodoh. Yesus cuma ingin agar mereka mengakui bahwa mereka telah salah menilai Yohanes Pembaptis. Yesus berharap bahwa tindakan-Nya  mengingatkan para pemimpin itu akan kekeliruan dan kesalahan mereka di masa lampau, akan memacu mereka melakukan pertobatan dan mengubah penilaian salah mereka terhadap Yohanes Pembaptis.

stdas0149Kadangkala Yesus juga akan menggunakan pendekatan yang serupa ketika berhadapan dengan kita. Dia dapat membuat kita ingat akan suatu situasi di mana kita telah memperlakukan orang lain secara keliru. Atau, Dia dapat mengingatkan kita akan rasa dendam yang sudah sekian lama terpendam dalam diri kita, atau dosa tertentu di masa lampau kita yang belum kita akui – dengan harapan bahwa kita akan menghadapi semuanya itu dan berpaling kepada-Nya dalam pertobatan.

Para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang mencobai Yesus itu sebenarnya dapat menjawab, “Engkau memang benar. Baptisan Yohanes benar dari surga dan kami tidak percaya kepadanya. Kami seharusnya mencoba untuk melindunginya dari cengkeraman Herodes. Malah yang lebih penting lagi, kami seharusnya menerima pesan yang diwartakan olehnya.”  Yang terjadi adalah sebaliknya, para pemimpin/pemuka agama Yahudi itu malah hanya lebih mengeraskan hati mereka. Sekarang, marilah kita semua berikrar untuk tidak “berlagak bodoh” seperti para pemimpin/pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil ini. Apabila pada suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita akan “hal-hal tidak baik dari diri kita pada masa lampau”, marilah kita mengakuinya dan menanganinya dengan pertolongan penuh dari Dia sendiri. Bagaimana lagi kita akan menemukan kebebasan dan damai sejahtera?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memberikan kepadaku begitu banyak kesempatan untuk bertobat, mengakui segala dosaku dan berpaling kembali kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Roh Kudus-Mu, agar dengan demikian aku dapat mengetahui dan mengenal dengan lebih mendalam lagi kebebasan, dan menjalin persahabatan yang lebih erat lagi dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalam bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKAN AKU JAWABNYA!” (bacaan tanggal 28-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS