PERINTAH PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Kamis, 2 Juni 2016)

OFMCap.: Peringatan S. Feliks dr Nikosia, Biarawan 

560jesus

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: 2Tim 2:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14 

“Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mrk 12:28). Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Walaupun motif ahli Taurat itu dapat dipertanyakan, mungkin saja dia sesungguhnya ingin mengetahui apakah yang dipikirkan Yesus berada pada jantung Kitab Suci. Ternyata jawaban Yesus mengerucut pada “kasih”.

Jika anda yang ditanya, bagaimana anda akan menanggapi pertanyaan si ahli Taurat? Menurut anda, apa sih jantung Kitab Suci? Bagaimana pun anda mengungkapkannya, jawaban anda seharusnya tidak menunjuk kepada “apa”, melainkan kepada “siapa” – kepada Dia, yang adalah inkarnasi sempurna dari kasih Allah. Mengikuti pemikiran Hugo dari S. Viktor, Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan: “Seluruh Kitab Suci adalah satu buku saja dan buku yang satu ini adalah Kristus, karena seluruh Kitab ilahi ini berbicara tentang Kristus, dan seluruh Kitab ilahi terpenuhi dalam Kristus” (KGK, 134). Yesus adalah sang Sabda Allah. Dalam diri Yesus ini, Allah mengekspresikan diri-Nya secara lengkap dan sempurna. Hal ini berarti bahwa kitab-kitab Injil adalah jantung Kitab Suci. Kitab-kitab itu adalah sumber mendasar tentang hidup dan ajaran Yesus. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Santo Hieronimus [340-420] mengatakan, “Tidak kenal Kitab Suci, maka tidak kenal Kristus!” (Ignoratio scripturarum, ignoratio Christi est!).

Apabila anda mengasihi seseorang, tentunya anda ingin mengetahui segala sesuatunya tentang dia. Selagi anda meluangkan waktu bersama orang itu, maka anda pun bahkan mengambil alih beberapa dari karakteristik orang itu. Itulah sebabnya mengapa Allah ingin agar kita membaca kitab-kitab Injil secara teratur. Allah ingin agar kita mendalami relasi kita dengan Yesus sehingga kita dapat menjadi lebih serupa dengan Dia. Pengalaman mengatakan kepada kita bahwa tidak cukuplah untuk mempunyai pengetahuan samar-samar dan umum saja tentang Yesus. Seperti dalam relasi akrab yang mana saja, kita harus menjadi begitu familiar dengan kata-kata-Nya dan tindakan-tindakan-Nya, sehingga semua itu secara alamiah muncul dalam pikiran kita manakala kita menghadap situasi-situasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita. Karena Kitab Suci adalah sabda Allah yang hidup, maka kita selalu dapat mengharapkan bahwa Yesus akan berbicara kepada kita secara langsung melalui Kitab Suci itu – menghibur kita dan mencerahkan kita, namun juga menggerakkan kita untuk kemudian bertindak selagi kita secara serius berupaya turut serta membangun kerajaan-Nya.

ROHHULKUDUSSaudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Apakah anda melakukan pendekatan terhadap Kitab Suci dengan penuh hasrat dan ekspektasi bahwa anda akan mendengar suara Allah dan berjumpa dengan Yesus? Dalam Misa Kudus hari ini atau dalam doa pribadi anda, perkenankanlah Roh Kudus membuka hati anda bagi kata-kata (sabda) yang Yesus ingin ucapkan kepada anda secara pribadi. Hal-hal yang penuh kuat-kuasa dapat terjadi sebagai akibatnya.

Apabila kita kembali kepada bacaan Injil hari ini, kita dapat  melihat bahwa kesederhanaan tanggapan Yesus kepada si ahli Taurat menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Dengan membuka diri bagi kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi oleh kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan harus itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “TUHAN HIDUP! Terpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah Penyelamatku” (Mzm 18:47).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah hal-hal yang tidak berkenan kepada-Mu dari diriku dan penuhilah diriku ini dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERINTAH MANAKAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT?” (bacaan tanggal 2-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 1 Juni 2016 [Peringatan S. Yustinus Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS