PENGALAMAN AKAN YESUS SECARA PRIBADI

(Bacaan Kedua Misa Kudus, Hari Minggu Biasa X [Tahun C], 5 Juni 2016) 

St Paul Icon 4… aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil yang berasal dari manusia. Karena aku tidak menerimanya dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui pernyataan Yesus Kristus. Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: Tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. Di dalam agama Yahudi pun aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Tetapi sewaktu Allah, telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bagsa bukan Yahudi, sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. (Gal 1:11-19)

Bacaan Pertama: 1 Raj 17:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Injil: Luk 7:11-17

Paulus mampu untuk mewartakan Injil dengan berani dan secara gamblang karena dia pernah mengalami perjumpaan pribadi yang penuh kuasa dengan Tuhan Yesus sendiri dalam perjalanannya menuju Damsyik (Kis 9:1-19a; bdk. Kis 22:3-16; 26:9-18). Paulus menerima Injil langsung dari Yesus dalam suatu pernyataan diri Yesus yang sungguh menggoncangkan dirinya (jiwa-raga; lahir-batin; lihat Gal 1:12; bdk Kis 9:1-9).

Sebagai akibat pengalaman perjumpaan pribadi ini, maka kehidupan Paulus berubah secara radikal. Arah kehidupannya menjadi sangat-sangat berbeda dengan apa yang telah direncanakannya sendiri bagi dirinya. Paulus menyadari bahwa Allah telah memanggilnya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir), dan perjumpaan pribadi dalam perjalanannya ke Damsyik itu “memaksa” dirinya untuk mengabdikan seluruh hidupnya guna memenuhi panggilan-Nya.

Penekanan Paulus pada pengalaman pribadi akan Yesus mendorong kita semua untuk bertanya kepada diri kita sendiri perihal pengalaman kita sendiri. Apakah anda pernah berjumpa dengan Yesus Kristus? Apakah anda mengenal-Nya secara pribadi? Apakah anda  telah mengalami kuasa rahmat-Nya dan pengampunan-Nya? Tentu saja pengalaman Paulus itu dapat dikategorikan sebagai pengalaman yang bersifat sangat luar biasa, artinya bukanlah perjumpaan yang biasa-biasa saja.

brain-religion-1Bagaimana pun juga Yesus ingin memberikan kepada kita masing-masing suatu pengenalan pribadi tentang diri-Nya dan kuat-kuasa-Nya. Dia ingin agar kita masing-masing mengalami Dia secara pribadi, pengalaman yang menembus hati kita dan mentransformasikan kehidupan kita. Perjumpaan dengan Kristus seperti dialami Fransiskus dari Assisi lain dengan apa yang dialami oleh Ignatius dari Loyola, lain pula dengan apa yang dialami oleh Bunda Teresa. Masing-masing merupakan pengalaman pribadi yang unik, demikian pula pengalaman Paulus akan Kristus.

Setiap hari Yesus bergairah untuk menyatakan dirinya kepada kita secara lebih mendalam lagi – dalam pekerjaan kita, dengan keluarga kita masing-masing, dan secara istimewa dalam perayaan Ekaristi. Setiap hari, Dia bergairah sekali untuk memanggil kita masing-masing guna mengambil bagian secara khusus dalam misi menyebarkan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang lain. Yang perlu kita sadari adalah kenyataan, bahwa perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus-lah yang mentransformasikan kehidupan kita dan memberdayakan kita untuk memenuhi panggilan-panggilan kita di dalam dunia.

Apapun atau bagaimana pun pengalaman kita dengan Yesus sampai saat ini, kenyataannya adalah Dia mengundang kita untuk sampai kepada pengalaman yang lebih mendalam dan lebih penuh kuasa dengan diri-Nya dan rahmat-Nya. Kita semua dapat diberdayakan agar dapat berbuah-limpah dalam melaksanakan misi-misi kita. Sekarang pertanyaannya adalah: Apakah kita (anda dan saya) terbuka bagi suatu perjumpaan pribadi yang lebih dekat dengan Tuhan? Memohon kepada Allah untuk lebih lagi?  Carilah Dia,  dan Dia pun akan menyatakan diri-Nya kepada kita secara lebih mendalam lagi. Dia akan memberikan kepada kita kuasa yang baru untuk memimpin hidup mencapai misi yang telah dipercayakan-Nya kepada kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih Engkau menyatakan diri-Mu kepadaku. Aku mengasihi-Mu, ya Tuhan, dan aku ingin mengenal Engkau dengan lebih baik lagi. Dengan kuasa Roh Kudus-Mu transformasikanlah diriku, sehingga aku dapat hidup dalam persatuan yang lebih erat dengan Engkau dan ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil-Mu dengan lebih efektif lagi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan dengan judul “AKU BERKATA KEPADAMU, BANGKITLAH!” (bacaan tanggal 5-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 4 Juni 2016 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS