SABDA-SABDA BAHAGIA YANG DIBERIKAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan  Biasa X – Senin, 6 Juni 2016)

ONPAGE-2

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah-lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan harus akan kehendak Allah, karena akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas-kasihan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:1-12) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 17:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 121:1-8

Matius menempatkan “Khotbah di Bukit” (Mat 5-7) tidak lama setelah Yesus digoda Iblis di padang gurun (Mat 4:1-11), karena dia mau menunjukkan bahwa semua ajaran Yesus bukan sekadar resep-resep filosofis. Semua ajaran Yesus bersumber pada pengalaman-Nya sendiri. Dalam “Khotbah di Bukit” ini Matius juga memberikan serangkaian perlambangan indah-penuh-arti kepada para pembaca Injilnya. Bukit dari mana Yesus berbicara, misalnya, mengingatkan orang kepada Musa yang menerima perwahyuan Allah di Gunung Sinai. Di sini mau digambarkan Yesus sebagai seorang Musa baru. Matius memberi semacam sinyal kepada para pembacanya betapa penting pesan yang akan disampaikan Yesus. Kalau Musa memberi sepuluh perintah Allah, maka “Musa yang baru” memberi serangkaian ajaran untuk menggenapi hukum Taurat dari Musa Perjanjian Lama. Pembukaan “Khotbah di Bukit” adalah “Sabda-sabda Bahagia” seperti akan diuraikan di bawah ini. Yesus sendirilah contoh sempurna dan konkret dari “Sabda-sabda Bahagia” termaksud.

Sambil duduk di antara para murid-Nya, Yesus membuka hati-Nya: “Berbahagialah orang yang “miskin dalam roh” [“miskin di hadapan Allah” menurut teks Alkitab LAI] ……orang yang berdukacita …… orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah …… orang yang berbelaskasihan ……orang yang suci hatinya …… yang membawa damai (Mat 5:3-9). Dalam hati kita yang terdalam, kita merasakan kebenaran dari kata-kata ini, namun demikian kita tokh masih saja suka merasa diintimidasi oleh Yesus. Pertama, berbagai ucapan bahagia itu kedengaran begitu idealistis sehingga kebanyakan dari kita “mencoba” pun tidak sudi untuk menjadi orang sebagaimana digambarkan Yesus itu. Kedua, kita merasa bahwa apabila kita mau berhasil, maka ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Misalnya, untuk memilih menjadi orang yang memiliki hati yang murni/suci, kita harus membuang banyak hal yang justru dianggap baik dan sah-sah saja oleh masyarakat. Misalnya, apakah segalanya yang berhubungan dengan kekayaan atau kekuasaan di bidang politik dlsb. bertentangan dengan “miskin dalam roh”? Seandainya ada peluang untuk itu (kaya dan berkuasa), bukankah kebanyakan dari kita akan memilih gaya hidup seperti itu?

Barangkali kehidupan kita sedang berjalan lancar dari sudut pandangan manusia. Semuanya baik-baik dan nyaman-menyenangkan. Sering orang secara kurang tepat mengatakannya sebagai kehidupan yang “penuh berkat”. Nah, misalnya kalau kita membaca kembali Mat 5:3, apakah keadaan “penuh berkat” kita ini melumpuhkan akses kita kepada berkat-berkat Allah yang sejati? Samasekali tidak, karena dalam ucapan-ucapan bahagia ini Yesus tidak menggambarkan jalan menuju kebahagiaan (keadaan terberkati; Inggris: blessedness), melainkan “kebahagiaan dari orang-orang yang telah menyambut/menerima Dia ke dalam hati mereka”. “Sabda-sabda Bahagia” tidak menggambarkan atribut-atribut alamiah yang dapat kita peroleh semaunya, karena semua itu adalah karunia-karunia yang diberikan Allah kepada kita, yaitu kemampuan supernatural untuk hidup dalam dunia ini di bawah pimpinan prinsip-prinsip ilahi, prinsip-prinsip yang berasal dari Allah sendiri. Ini adalah suatu perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang membuat seperangkat disposisi yang baru dalam diri kita. Dengan demikian, tantangan dari “Sabda-sabda Bahagia” adalah agar kita membuka hati bagi Allah dan memperkenankan-Nya mengubah diri kita.

Apabila kita menyambut Tuhan ke dalam hati kita dengan baik, maka diri kita pun akan ditransformasikan. Kita akan mulai menghasrati kerendahan hati-Nya atau kedinaan-Nya, kesucian/kemurnian hati-Nya dan hati-Nya yang berbelaskasih. Tentu saja, tidak jarang kita tersandung, bahkan kita dapat menafsirkan secara salah kata-kata-Nya. Namun Yesus terus mengingatkan kita agar mohon pertolongan dari Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang akan mengajarkan kita. Selagi kita  membangun relasi secara lebih mendalam bersama Yesus dalam doa-doa dan ketaatan, Ia akan terus menunjukkan kepada kita perbedaan antara situasi kegelapan dan terang dalam diri kita, dan dalam tindakan-tindakan kita. Sungguh indah kenyataan, bahwa selagi kita mengalami transformasi ini, kita jadi lebih mengetahui lagi tentang janji-janji-Nya seperti Kerajaan Surga, penghiburan Allah, dan privilese kita sebagai anak-anak Allah.

Jadi, kita semua mampu menjalankan ajaran-ajaran Yesus yang terasa sulit ini, karena kehidupan Kristiani adalah sebuah tranformasi. Petrus yang pernah menyangkal Yesus, kemudian menjadi seorang Rasul Agung. Demikian pula Saulus si jawara pengejar umat Kristiani, yang kemudian ditranformasikan menjadi Paulus – Rasul untuk untuk bangsa-bangsa non-Yahudi yang sungguh luarbiasa! Sebelum pertobatannya, Santo Fransiskus dari Assisi pun bukan orang yang paling murni, namun secara bertahap dia diubah menjadi seorang proklamator Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus yang berani dan efektif. Sebenarnya ada banyak sekali contoh dalam sejarah Gereja mengenai orang-orang yang ditransformasikan oleh Roh Allah, seperti Santo Augustinus dari Hippo, Santa Margaret dari Cortona, dan lain-lain lagi. Barangkali “masalah” riil dari “Sabda-sabda Bahagia” adalah, bahwa kita tidak cukup melihat contoh-contoh orang-orang yang memiliki “kelemah-lembutan” dan “kesucian hati” yang berasal dari Yang Ilahi. Dalam hal ini riwayat para kudus akan banyak membantu!

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Berikanlah kepada kami suatu hasrat yang baru untuk menjadi seperti Engkau dalam “Sabda-sabda Bahagia”. Mampukanlah kami untuk mengetahui bahwa Engkau akan memberikan segalanya yang kami butuhkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA YANG BERBAHAGIA” (bacaan tanggal 6-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Juni 2016 [HARI MINGGU BIASA X – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements