VISI YESUS MENTRANSENDEN HURUF-HURUF HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa X – Jumat, 10 Juni 2016)

 1-sermon-on-the-mount-granger

“Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.”  (Mat 5:27-32) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 19:9a,11-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:7-9,13-14

Injil Matius dirancang dengan sangat hati-hati guna menggambarkan Yesus sebagai sang Mesias yang menginaugurasikan Kerajaan Allah yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dalam pengajaran “Khotbah di Bukit” kali ini, Matius mengedepankan undangan Yesus kepada mereka yang berkeinginan untuk masuk ke dalam Kerajaan ini. Pertama-tama Yesus menggambarkan berkat-berkat unik yang dinamakan “Sabda-sabda Bahagia”. Kemudian, seperti seorang Musa baru, Yesus memperkenalkan serangkaian prinsip-prinsip yang intrinsik tentang pemerintahan mesianis.

Dalam terang Kerajaan yang akan datang, Yesus mengajar para pengikut-Nya bagaimana menghayati hidup sehingga dengan demikian hidup Allah sendiri dapat berakar dan bertumbuh dalam kehidupan mereka. Yesus berbicara mengenai banyak tantangan yang kita harus hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya kemarahan, bersumpah, balas-dendam, dan mengasihi musuh-musuh. Rumusannya mengikuti suatu pola tertentu: “Kamu telah mendengar yang difirmankan, … Tetapi Aku berkata kepadamu …” Etika baru ini melampaui hukum-hukum Musa dan orang-orang Farisi. Sebagai sang Mesias yang dijanjikan, Yesus “menggenapi Taurat dan kitab para nabi, bukan meniadakan semua itu” (Mat 5:17).

Visi Yesus mentransenden huruf-huruf hukum Taurat: “Jangan berzina”, menjadi: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Jadi, Yesus memindahkan fokus kepada “hati”. Dengan menggunakan gaya para rabi Yahudi yang khas, Yesus mengatakan bahwa lebih baik mengorbankan mata atau bagian tubuh lainnya – jikalau memang perlu – supaya dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:29-30). Hal ini menggarisbawahi/menekankan perlunya untuk mencabut sampai ke akar-akarnya segala dorongan terdalam kita untuk berdosa.

Catatan Matius dalam Injilnya mengenai posisi Yesus terkait dengan perceraian menghancurkan prakonsepsi-prakonsepsi natural/alamiah yang ada dalam pikiran mereka yang mendengar pengajaran-Nya. Ada tercatat bahwa para murid-Nya berkata kepada Yesus: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin” (Mat 19:10). Kata-kata keras Yesus sehubungan dengan “perceraian” bukanlah dimaksudkan untuk menghukum orang-orang supaya tetap hidup selamanya dalam relasi yang bersifat destruktif, melainkan untuk menunjuk pada rahmat yang diberikan Allah kepada pasutri untuk hidup dengan cara yang memajukan Kerajaan Allah. Seperti juga “Sabda-Sabda Bahagia” dan perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita, “kata-kata keras” tadi menyatakan “way of life” yang berbeda secara radikal, yang diaugurasikan oleh Yesus.

Untuk hidup dengan cara baru ini dibutuhkan karya Roh Kudus dalam batin kita. Melalui iman, kita dapat mengalami kuat-kuasa untuk mengasihi orang-orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Oleh karena itu marilah kita memohon Tuhan untuk memberikan rahmat kepada kita semua.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Berdayakanlah kami oleh rahmat-Mu agar dapat saling mengasihi dan untuk menjadi murni dalam hati kami masing-masing. Kami mengakui bahwa kami tidak dapat sungguh mengasihi kecuali Engkau sendiri mentransformasikan kami dari dalam. Utuslah Roh-Mu sehingga dengan demikian kami dapat merangkul undangan-Mu yang indah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “DI DALAM HATI” (bacaan tanggal 10-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

Cilandak, 8 Juni 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements