MENJADI ANAK-ANAK BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XI – Selasa, 14 Juni 2016)

 03-sermon-on-the-mount-1800

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: 1Raj 21:17-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,11,16 

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:44-45).

Ketika Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, paling sedikit dari sudut pemikiran intelektual kita terpikirlah bahwa Dia melakukan analisis  atas masalah manusia ini dengan psikologi yang sangat mendalam. Yesus sendiri tentunya akan “pusing” sendiri seandainya Dia tidak memaafkan dan mengampuni orang-orang Farisi, para ahli Taurat dll. yang terus-menerus mengganggu dirinya. Kaum Farisi dkk. ini adalah orang-orang yang penuh dengan kebencian dan iri-hati terhadap diri-Nya, dan sangat sulit mengubah pemikiran, sikap dan perilaku mereka terhadap Yesus dan kegiatan pewartaan-Nya.

Yesus tentunya tidak luput mempunyai dugaan bahwa kaum Farisi dkk. merencanakan sebuah komplotan untuk membunuhnya agar tidak lagi menjadi “biang kerok” di tanah Israel. Upaya-upaya mereka untuk memojokkan serta menjebak Yesus beberapa kali muncul dalam beberapa narasi Injil. Pada waktu orang-orang anti-Yesus itu pada akhirnya berhasil menyalibkan-Nya di bukit Kalvari, dari atas kayu salib itu Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita mengasihi dan mengampuni. Dari atas kayu salib itu Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Hati Yesus hanya berisikan cintakasih – tidak ada hal lain – walaupun ketika menanggung penderitaan yang paling buruk yang dapat menghantam seorang pribadi. Cintakasih semacam itu menyembuhkan kita dan membasuh bersih dosa-dosa kita. Penyembuhan penuh pengampunan! Inilah yang diajarkan oleh Yesus dari atas kayu salib-Nya. Cintakasih berlimpah Yesus dari atas kayu salib inilah yang sungguh menyembuhkan luka-luka dunia.

Kita mengetahui bahwa karena dosa Adam hilanglah cintakasih yang sehat, membahagiakan dan menyembuhkan itu. Ada cerita (tidak alkitabiah) begini: Konon pada suatu siang hari yang panas-terik Adam dan kedua anak laki-lakinya yang masih kecil, Kain dan Habel, sedang berjalan di padang gurun dan panasnya pasir “membakar” telapak kaki mereka. Di kejauhan kelihatanlah area yang dipenuhi pepohonan rindang. Habel bertanya kepada ayahnya: “Bapak, mengapa kita tidak boleh tinggal di sana, di oase yang indah dan sejuk itu?” Adam menjawab, “Semua ini gara-gara salah ibumu, anakku! Gara-gara dialah kita tidak boleh lagi tinggal dalam rumah nyaman  yang dahulu.” Apa pesan cerita pendek ini? Adam tidak dapat mengampuni istrinya. Dapatlah kita melihat efek buruk apa yang telah disebabkan dosa? Dosa merampas cintakasih dari diri kita, sehingga kita menyalahkan orang lain dan menolak untuk mengampuni orang lain.

Sebaliknya Allah tidak pernah menyerah karena pemberontakan manusia yang telah diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (lihat Kej 1:26,27). Allah mengutus Putera ilahi-Nya, Yesus, untuk memulihkan kasih yang menyembuhkan itu bagi kita. Yesus mengajarkan kita, “Kasihilah dan ampunilah.” Singkatnya, “engkau harus menjadi sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48).

Yesus datang ke dunia pertama kalinya untuk memulihkan bagi kita cintakasih asli di taman Firdaus, cintakasih Bapa surgawi “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”. Yesus memang adalah sang Psikolog Agung yang mempunyai visi baru berkaitan dengan pengharapan untuk dunia.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu bentuklah kami sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang mau dan mampu mengampuni orang-orang yang memusuhi kami dan mendoakan mereka yang menganiaya kami. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA BAGI MUSUH-MUSUH KITA” (bacaan tanggal 14-6-16) dalam dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN  ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 13 Juni 2016 [Peringatan S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS