YESUS MENGAJARKAN “DOA BAPA KAMI”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIKamis, 16 Juni 2016)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Anisetus Koplin, Imam dkk. Martir Polandia

 Sermon_on_the_Mount

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskankanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Sir 48:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-7

Dalam “Khotbah di Bukit”, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk tidak berdoa seperti orang-orang munafik yang suka mengucapkan doa mereka dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang; dan kalau berdoa juga jangan bertele-tele dengan menggunakan banyak kata” (lihat Mat 6:5,7), melainkan berdoa dengan sebuah cara yang baru – dengan kerendahan hati dan iman.

Dengan memberikan “Doa Bapa Kami”, Yesus mendesak kita untuk menyapa Allah sebagai “Bapa kami yang di surga”, yang menunjukkan pentingnya relasi intim/akrab Bapa surgawi dengan kita dalam kuat-kuasa-Nya yang bersifat transenden. Sebagai Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nyak Dia memperhatikan kita dan mengetahui segala kebutuhan kita. Dia tidak lagi berada jauh dan tidak dapat diakses oleh kita (sebagaimana dibayangkan dalam Perjanjian Lama), melainkan sungguh dapat didekati melalui pencurahan darah Kristus pada kayu salib (lihat Ibr 10:19). Melalui doa-doa kita, kita akan bertumbuh dalam relasi yang akrab (yang dimulai pada waktu kita dibaptis) dengan Bapa surgawi.

Walaupun Bapa surgawi mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita sebelum kita meminta, Dia sungguh ingin agar kita menghaturkan permohonan kepada-Nya, untuk menyatakan rasa percaya dan iman kita kepada-Nya. Yesus mengedepankan “Doa Bapa kami” sebagai sebuah contoh bagaimana – melalui doa – kita dapat menikmati persekutuan yang akrab dengan Bapa surgawi. “Doa Bapa kami” memusatkan perhatian pada pemenuhan akhir/puncak dari kehendak Allah di atas bumi dan di dalam surga. Kita berdoa agar kehendak Bapa surgawi dipenuhi (Mat 6:10).

Kita yang mendoakan “Doa Bapa kami” dipanggil untuk menghadirkan kedaulatan Allah pada hari ini, untuk menyambut kedatangan Kerajaan Allah, dan untuk berdoa demi terwujudnya secara penuh rencana Allah pada akhir zaman. Manakala kita mendoakan “Doa Bapa kami” ini, kita menyatukan diri kita dengan Yesus dalam hasrat kita untuk melihat terwujudnya rencana kekal-abadi dari Allah.

Kadang-kadang “Doa Bapa kami” mengungkapkan keragu-raguan kita sendiri tentang rahmat Allah yang mampu mentransformasikan hidup kita. Kita dipaksa untuk mengakui bahwa ada keinginan dalam diri kita untuk tidak mau mengubah pola dosa kita, untuk tidak mau mengampuni, atau untuk tidak mau menerima kehendak Allah selain kehendak kita sendiri. “Doa Bapa kami” berisikan apa saja yang Yesus inginkan agar menjadi hasrat sejati hati kita. Karena Yesus telah hidup dalam Roh sepenuhnya, maka Dia lebih memahami tentang rencana penyelamatan Allah yang penuh kemuliaan ketimbang apa yang kita mampu pikirkan.

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur karena Engkau telah mengajarkan kepada kami bagaimana berdoa. Dalam iman, kami memberikan hati kami masing-masing kepada-Mu sehingga dengan demikian rahmat-Mu dapat mentransformasikan kami menjadi “ciptaan-ciptaan baru” yang rindu untuk melihat kepenuhan dari rencana kekal-abadi dari Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “DIKUDUSKANLAH NAMA-MU” (bacaan tanggal 16-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

Cilandak, 15 Juni 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS