KETERKAITAN ANTARA HARTA DAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus – Hari Biasa Pekan Biasa XI – Jumat, 17 Juni 2016)

Sermont

“Janganlah kamu mengumpulkan harta bagi dirimu di bumi; di bumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi, jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (Mat 6:19-23) 

Bacaan Pertama: 2Raj 11:1-4,9-18,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11-14,17-18

Di tengah-tengah “Khotbah di Bukit”, Yesus berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Ini adalah sebuah pernyataan yang mendalam. Tidak ada seorang pun dapat menyangkal bahwa di mana kita “membuang” harta kekayaan kita (waktu kita, kemampuan-kemampuan kita, dan keuangan kita) di situ pula kita dapat menemukan hati kita. Apabila kita memeditasikan kata-kata ini, maka hal ini dapat memprovokasi suatu pemeriksaan-diri yang sungguh dapat mengungkapkan hal-hal yang mencerahkan. Di mana sebenarnya hatiku? Di mana saja aku “membuang” harta kekayaanku?

Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Poverty is freedom” (Kemiskinan adalah kemerdekaan atau kebebasan). Kehidupannya membuktikan bahwa semakin kita tidak terlekat pada hal-hal duniawi, semakin bebas-merdeka kita untuk mengalami kasih Allah dan perwahyuan dari Roh-Nya. Hal ini bukan berarti bahwa kepemilikan harta materiil itu jahat secara intrinsik. Jadi isunya bukanlah apakah kita memiliki sebuah mobil mewah, sebuah rumah yang indah-nyaman, atau uang yang diperlukan untuk libur yang menyenangkan. Pertanyaannya adalah apakah hal-hal tersebut justru memiliki dan menguasai diri kita. Apakah hal-hal itu menguasai hati kita (anda dan saya)? Apakah hal-hal itu telah menjadi harta kita?

Apakah kita dapat mengatakan – seperti yang dikatakan Santo Paulus: “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya” (Flp 3:8)? Ketidak-lekatan Paulus datang selagi dia menerima sebuah perwahyuan dari Yesus di tengah jalan menuju Damsyik (Kis 9:3-6; Gal 1:15-16). Tanpa perwahyuan ini – yang semakin mendalam sementara dia mengejar Tuhan – Paulus akan tetap seorang musuh Kristus. Hal yang sama benar bagi kita. Tanpa ada perwahyuan yang berkelanjutan dari Yesus, kita akan tetap berada dalam daging dan akan terus percaya bahwa hal-hal duniawi dapat memuaskan kita secara kekal-abadi.

Dalam hati kita yang terdalam, kita tahu bahwa hal-hal duniawi tidak akan mampu memuaskan diri kita. Namun demikian, apakah kita sungguh dapat mengubah kodrat manusiawi, kodrat yang menggerakkan kita untuk menghasrati kenikmatan-kenikmatan duniawi? Sementara kita mulai memahami Yesus secara lebih dan lebih lagi, maka hal-hal duniawi bergeser ke tempatnya yang tepat. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus menolak semua harta-milik, melainkan supaya semua itu tidak mengendalikan hidup kita. Marilah kita penuhi diri kita dengan sesuatu yang yang akan memuaskan. Keindahan Yesus tidak akan hilang. Apapun status kehidupan kita, kita akan puas bilamana Yesus sendiri menjadi harta kita dan kesenangan hati kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengenal Engkau secara lebih intim lagi pada hari ini. Datanglah kepadaku melalui kekayaan sabda-Mu dalam Kitab Suci. Buatlah aku mengenal kasih-Mu dan mengalami kuat-kuasa-Mu dalam sakramen-sakramen. Ajarlah aku untuk lebih menjunjung tinggi hal-hal surgawi daripada hal-hal duniawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:19-23), bacalah tulisan yang  berjudul “JANGAN MENGUMPULKAN HARTA DI BUMI” (bacaan tanggal 17-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 16 Juni 2016 [Peringatan B. Anicetus Koplin, Imam dkk-Martir Polandia] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements