MENJADI MURID YESUS YANG SETIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Senin, 27 Juni 2016)

Peringatan S. Sirilus dr Aleksandria, Uskup Pujangga Gereja 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKetika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Mat 8:18-22). 

Bacaan Pertama: Am 2:6-10,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:16-23

Sebagaimana diterangkan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). Sejak kecil Yesus sudah mengalami dan memahami apa artinya penderitaan. Ia dilahirkan di kandang hewan di sebuah gua, Dia harus dilarikan dari cengkeraman seorang raja kejam sebelum berusia genap dua tahun. Ia menderita apa yang diderita oleh kedua orangtua-Nya di sebuah negeri yang asing bagi mereka, Mesir. Ia tahu, atau paling sedikit Ia merasakan rasa sunyi mereka di sana.

Yesus mengalami apa artinya menjadi orang miskin dan tidak disukai, tanpa kawan, tanpa keamanan dan kenyamanan yang dapat diberikan oleh dunia. Dia kembali ke Galilea bersama kedua orangtuanya sebagai orang miskin, dan mereka tinggal dalam rumah yang miskin juga. Sejak masa muda Ia sudah belajar apa artinya kerja keras dan kasar itu. Sampai berapa sering kita mengheningkan diri untuk berpikir bahwa sebagian besar dari kehidupan Yesus bukanlah membuat mukjizat dan tanda heran lainnya, melainkan dalam melakukan pekerjaan yang tidak ribut-ribut dan tidak diketahui orang, melakukan pekerjaan-Nya dengan jujur namun membosankan?  Lalu kita mengatakan bahwa kita tidak dapat mengikuti jejak-Nya sebagai murid?

Yesus tentunya adalah salah seorang pekerja paling keras di Nazaret, karena pekerjaan tukang kayu adalah pekerjaan sepanjang hari. Setiap saat Ia dapat dipanggil untuk menolong seorang petani membetulkan bajaknya yang rusak, kuk/gandarnya, peralatannya, bangunan rumahnya, kandang hewannya dlsb. Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan berat dengan bayaran yang ringan/kecil. Orang-orang Nazaret memandang statusnya dalam masyarakat itu rendah, dan mereka menjadi mendongkol ketika Dia muncul di depan publik sebagai seorang pemimpin. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? (Mat 13:55 bdk. Mrk 6:3;  bacalah Mat 13:53-58).

Yesus tidak tertipu oleh kemuliaan yang diberikan dunia, juga kehormatan yang diberikan manusia terhadap diri-Nya. Secara terus menerus Dia mengalami oposisi dan juga kritik-kritik, demikian pula kebencian dari orang-orang Farisi dan lain-lain pemuka agama yang seharusnya paling menerima Dia. Masihkah kita sekarang mengatakan bahwa Salib-Nya berada di luar lingkup kehidupan kita?

Bagaimana dengan beban-beban-Nya yang lain? Kita mengetahui dari kitab-kitab Injil bahwa Yesus juga menderita kelelahan, malam-malam tanpa tidur, malam hari yang dipakai oleh-Nya untuk berdoa setelah Dia berlelah-lelah sepanjang hari menyembuhkan orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan mengajar orang banyak. Ia mengalami apa artinya sikap dan perilaku tidak tahu terima kasih dari banyak orang, juga setiap macam perlakuan yang tidak adil. Sukar bagi kita untuk memikirkan salib manusia yang tidak dipikul-Nya di depan kita.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Apabila aku dapat mengingat bagaimana Engkau menjalani kehidupan-Mu, barangkali beban-bebanku akan terasa jauh lebih ringan, dan hidupku pun akan menjadi lebih suci dan lebih berbahagia. Tuhan, jadikanlah aku murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN KITA KEPADA KEMURIDAN” (bacaan tanggal 27-6-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 Juni 2016 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements