JANGANLAH KAMU TAKUT, KARENA KAMU LEBIH BERHARGA DARIPADA BANYAK BURUNG PIPIT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 9 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan:  Peringatan S. Nikolaus Pieck dkk Martir.

Khusus FMM: S. Hermina dkk, tujuh orang martir FMM dalam Perang Boxer di Tiongkok

Peringatan S. Augustinus Zhao Rong, imam dkk. Martir Perang Boxer di Tiongkok 

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

Adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal, bahwa apabila kita berpaling kepada Tuhan Yesus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita siapa diri-Nya dan siapa kita sesungguhnya di hadapan hadirat-Nya. Dengan demikian betapa pentinglah kita mengangkat pikiran kita kepada Allah, mohon kepada-Nya agar membentuk prioritas-prioritas kita sesuai dengan kebenaran-kebenaran iman kita.

Misalnya, selagi Dia mempersiapkan kedua belas rasul untuk melakukan perjalanan misioner mereka, Yesus bersabda kepada mereka: “Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya” (Mat 10:25). Kata-kata Yesus ini tidak hanya berlaku bagi pekerjaan misioner, melainkan juga bagi seluruh kehidupan Kristiani. Sebagai murid-murid-Nya, panggilan utama kita adalah menjadi seperti Yesus Kristus. Kemudian, selagi kita merefleksikan kebaikan Yesus, kita pun akan mampu mengundang orang-orang lain untuk mengalami kasih-Nya dan kuasa-Nya.

Dalam 7 (tujuh) ayat bacaan Injil hari ini, kata-kata “Janganlah kamu takut” muncul sebanyak 3 (tiga) kali (ayat 26, 28 dan 31). Pada kenyataannya ungkapan “jangan takut” yang diucapkan Yesus ada cukup banyak dalam keempat kitab Injil, misalnya: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mat 14:27); “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36); “Janganlah gelisah dan  gentar hatimu” (Yoh 14:27). Yesus mengetahui bahwa betapa mudah rasa takut itu dapat “mengalahkan” iman pada saat-saat konflik, saat-saat pengejaran serta penganiayaan, saat-saat bahaya, dan dengan konsisten Dia mendorong serta menyemangati para pengikut-Nya untuk tidak menyerah pada rasa takut itu.

Apakah Yesus sendiri pernah dilanda rasa takut? Untuk mengetahuinya kita hanya perlu mengingat kata-kata yang diucapkan-Nya di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat 26:39).  Yesus mengetahui bahwa para lawan-Nya sedang datang untuk menyalibkan-Nya dan semua sahabat-Nya akan meninggalkan diri-Nya.  Selagi Dia menghadapi prospek menanggung hukuman untuk semua dosa dunia, Yesus mengalami rasa takut yang paling mengerikan, yang paling gelap. Akan tetapi Yesus menyerahkan hidup-Nya kepada Bapa-Nya dengan sepenuh-penuhnya sehingga Dia pun dapat mengalahkan segala rasa takut yang menimpa diri-Nya, sehingga kita pun dapat mengetahui dan mengalami pula bahwa Allah selalu menyertai kita.

Iman kita kepada Yesus – cepat atau lambat – akan bertabrakan dengan “jalan dunia”, namun kita tidak perlu merasa takut. Allah memiliki segala keprihatinan seorang Bapa yang baik, Ia memiliki pengetahuan dan kuasa untuk melindungi semua murid Yesus. Ia yang bahkan memelihara dan menjaga burung-burung pipit tentunya akan memperhatikan dan menjaga kita. Dia telah memanggil kita dan kita adalah milik-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihi kami dan karenanya memandang kami pantas untuk diselamatkan. Kami pun seharusnya senantiasa mentaati segala perintah dan ajaran-Mu, karena kami sungguh berniat untuk menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Ampunilah kami untuk cara-cara kami memperkenankan rasa takut menggeser ke samping iman kami kepada-Mu. Terima kasih, ya Tuhan dan Juruselamat kami, karena Engkau senantiasa berjalan di depan kami untuk menunjukkan jalan yang benar menuju Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang  berjudul “SEBUAH PANGGILAN UNTUK MENJADI SEPERTI DIRI-NYA” (bacaan tanggal 9-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangof.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 7 Juli 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS