SALIB KRISTUS SEBAGAI SATU-SATUNYA TANDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Senin, 18 Juli 2016) 

YESUS DISALIBKANPada waktu itu berkatalah bebeberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman Ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan akan bangkit bersama-sama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” (Mat 12:38-42) 

Bacaan Pertama: Mi 6:1-4,6-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-6,8-9,16bc-17,21,23 

Iman itu melampaui apa yang dipersepsikan oleh indera-indera fisik kita. Permintaan tak berkesudahan akan tanda-tanda dari para ahli Taurat dan Farisi yang menentang Yesus sesungguhnya merupakan hasil dari suatu iman yang tidak didasarkan pada Allah yang tak kelihatan, namun atas dasar bukti-bukti nyata yang semakin menumpuk. Walaupun demikian, kebenarannya adalah bahwa beberapa ahli Taurat dan orang Farisi itu telah cukup melihat dan mendengar “bukti nyata” untuk dapat mengakui siapa Yesus sebenarnya. Di depan mereka, Yesus menggenapi seluruh Kitab Suci Ibrani yang begitu mereka cintai. Namun mereka tidak mau percaya.

Para ahli Taurat dan Farisi ini tentunya sangat familiar dengan pengharapan-pengharapan dan kerinduan-kerinduan yang diungkapkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Sekarang, di depan mata mereka sendiri, Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, mentahirkan orang-orang kusta, mengusir roh-roh jahat dan membangkitkan orang yang sudah mati. Namun bagi sebagian dari mereka, tidak ada satu pun perbuatan baik Yesus yang menyentuh hati mereka. Mengapa? Kesombongan, keangkuhan dan pemikiran yang sempit begitu memenuhi diri mereka dengan kegelapan sehingga terang sabda Allah tidak dapat masuk meresap.

Ketika Yesus mengatakan kepada para pendengar-Nya bahwa diri-Nya  “lebih daripada Yunus” (Mat 12:41), maka Dia sebenarnya bukanlah menunjuk kepada kemampuan-Nya untuk membuat mukjizat yang lebih besar dan lebih baik. Yesus tidak pernah berminat untuk  tebar pesona atau menjadi “a side show attraction”. Yang dimaksudkan oleh-Nya adalah, bahwa sabda kehidupan-Nya dan pengorbanan-Nya untuk segenap umat manusia akan menembus hati secara lebih penuh kuat-kuasa daripada khotbah-khotbah dan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan oleh para nabi terdahulu.

Bagi kita, pertanyaannya bukanlah berapa banyak mukjizat yang telah kita alami, melainkan apakah masih ada ruangan dalam iman kita bagi sabda Allah agar dapat mengubah diri kita. Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya saja sudah cukup sebagai tanda-tanda yang diperlukan. Kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah membuka pintu surga untuk kita dan membuat mungkin bagi kita untuk diangkat ke dalam kehidupan ilahi. Namun demikian, sementara Allah dengan bebas menawarkan dan memberikan kepada kita  karunia iman,  kita dapat memutuskan untuk menerima atau menolak karunia iman termaksud. Walaupun karunia iman itu diberikan Allah dengan bebas, ada “biaya” yang secara pribadi yang selalu harus kita “bayar” apabila kita menerimanya, yaitu bahwa kita mati terhadap cara-cara dan pemikiran-pemikiran kita sendiri selagi kita membuka hati kita agar dapat merangkul satu-satunya “tanda” yang diperlukan:  SALIB KRISTUS, di mana segala dosa disalibkan. Apabila kita menempatkan iman kita dalam darah yang dicurahkan dari atas kayu salib itu, maka pintu surga pun akan dibukakan bagi kita.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Putera-Mu terkasih wafat di kayu salib agar aku dapat bangkit dan memandang kemuliaan-Mu. Perkenankanlah aku sekarang memuji-muji Dikau, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah” (Why 4:8) selagi aku berdiri dengan penuh rasa takjub di hadapan “takhta putih yang besar” (Why 20:11) milik-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 12:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA TANDA YANG LEBIH BESAR” (bacaan tanggal 18-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 15 Juli 2016 [Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS