IBU DAN SAUDARI-SAUDARA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Selasa, 19 Juli 2016) 

YESUS MENGAJAR ORANG-ORANGKetika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” Tetapi jawab Jesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya, “Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.” (Mat 12:46-50) 

Bacaan Pertama: Mi 7:14-15,18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:2-8 

“Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?” (Mat 12:48). Dalam merenungkan kata-kata Yesus ini, kita dipimpin untuk memeriksa keluarga spiritual di mana kita adalah anggotanya – kedekatan dan ikatan yang ada antara kita semua, tanpa batasan karena umur, kebangsaan, kesukuan, etnisitas, jenis kelamin dlsb. Allah adalah Bapa kita! Dalam anugerah salib dan anugerah Roh, Ia telah memberikan kepada kita segalanya yang kita butuhkan untuk menghayati realitas hidup sebagai sebuah keluarga – untuk melakukan kehendak-Nya, melayani-Nya, mengasihi-Nya dan saling mengasihi antara kita anak-anak-Nya, untuk menjadi saksi akan kasih-Nya, dan membawa lagi jiwa-jiwa kepada-Nya.

Ketika kita dibaptis, kita menjadi anak-anak Allah. Bangkit dari air baptis, setiap orang Kristiani mendengar suara yang pernah terdengar di sungai Yordan: “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22). Dengan cara ini, rencana kekal dari Bapa surgawi bagi setiap pribadi direalisir dalam sejarah, seperti ditulis oleh Paulus: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm 8:29).

St-Francis (1)Kita dapat memahami bagaimana  kita menjadi saudari-saudara Yesus, namun apakah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Yesus bahwa kita adalah ibu-Nya juga? Ia berkata kepada orang banyak, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Santo Paulus menjelaskan peranannya sebagai seorang ibu ketika dia menulis kepada jemaat di Galatia: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (Gal 4:19). Sebelumnya, dengan cara serupa, Paulus mengingatkan umat Kristiani di Tesalonika: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya” (1Tes 2:7).

Mengikuti Rasul Paulus, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mengatakan, bahwa “kita menjadi ibu bila kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih. Kita melahirkan Dia melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain sebagai contoh” (Surat Pertama kepada Kaum Beriman, Pasal I:10). Bersikap dan berperilaku sebagai seorang ibu yang baik adalah sungguh sebuah panggilan bagi kita masing-masing sebagai orang Kristiani! Pada zaman yang mana pun kita hidup, sebagai seorang Kristiani kita dapat membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita semua dapat berdoa, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena privilese luarbiasa yang Kauberikan kepadaku untuk menjadi anggota keluarga Allah. Aku berdoa agar keluarga-Mu ini bertumbuh-kembang dalam kuasa Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG MELAKUKAN KEHENDAK BAPAK SURGAWI” (bacaan tanggal 19-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 17 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XVI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS