MENGAPA YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 21 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja 

jesus_christ_picture_013Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Yer 2:1-3,7-8,12-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 36:6-11

Bacaan Injil hari ini – teristimewa Mat 13:13-17 – adalah salah satu bacaan yang paling sulit dicerna dalam keseluruhan narasi Injil Matius. Uraian berikut adalah saduran bebas saya atas tulisan yang terdapat dalam Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS – I [terjemahan KARMEL P. SIANTAR], tjetakan I-1968, Pertjetakan Arnoldus Endeh, Flores, NTT, hal. 199-202.

Dalam Injil hari ini kita membaca bahwa para murid bertanya kepada Yesus: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” (Mat 13:10). Jawaban Yesus menunjukkan suatu kebenaran, yaitu bahwa suatu perumpamaan dapat mewahyukan/mengungkapkan sesuatu atau justru menutupinya. Mewahyukan, karena yang kelihatan menjadi tanda untuk hal yang tidak kelihatan dan karenanya menghantar orang kepadanya. Menutupi, karena yang tidak tampak hanya dinyatakan dalam tanda-tanda saja dan tidak dalam kenyataan yang seutuhnya.

Di balik semuanya itu tampaklah suatu kebenaran, yaitu bahwa alam semesta ini adalah tanda Allah yang tak tampak. Bila dalam cerita penciptaan Kitab Kejadian dikatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26), maka yang dimaksudkan adalah bahwa manusia – karena kerohanian dan rahmat-Nya – merupakan imaji (gambar) istimewa Allah. Namun demikian, dalam makhluk-makhluk ciptaan lainnya juga terdapat jejak Allah, sehingga bagi manusia yang mau mengakuinya semua itu juga merupakan tanda-tanda Allah. Dengan jalan analogi kita dapat mengetahui sifat-sifat sama yang terdapat makhluk ciptaan dan Sang Pencipta, namun menyadari pula bahwa yang sama itupun pada hakekatnya berlainan dan berbeda juga.

Jadi, dari ciptaan kita dapat mengenal Allah, sebab segala yang agung, yang indah, yang benar dalam ciptaan dapat pula dikenakan pada Allah. Namun juga dengan jalan negasi, karena segala yang kurang sempurna, yang terbatas, yang kurang dalam ciptaan tidak dapat dikenakan pada Allah. Ada juga cara gradasi, karena segala sesuatu yang positif dalam makhluk ciptaan – namun tidak dalam tingkat tertinggi – dapat pula dikenakan pada Allah, tetapi dalam tingkat yang paling sempurna.

Siapa saja yang tidak melihat dunia ini sebagai suatu tanda Allah sebenarnya mengingkari hakekat dirinya yang terdalam. Ia – demikian kata S. Augustinus, adalah seumpama seorang yang mengagumi huruf-huruf indah suatu tulisan dalam bahasa asing, tetapi tidak mengerti makna kata-kata dan kalimat termaksud. Dengan berpaling dari Allah, tidak mungkinlah seseorang dapat memahami dunia ini. Hanya seorang pribadi yang melihat dunia dalam hubungannya dengan Allah, yang dapat melihat dunia secara sempurna dan benar. Orang beriman yang melihat dunia sebagai tanda Allah, mengetahui dan mengakui nilai religiusnya serta maknanya sebagai  penunjuk jalan kepada Allah, namun ia tidak tinggal padanya saja, melainkan mengikuti petunjuknya dan sampailah dia kepada Allah.

Yesus Kristus adalah Sang Sabda yang telah datang ke tengah ciptaan. Maka itu dengan sadar Ia memakai analogi ciptaan. Oleh karena itu sudah seharusnyalah Ia berbicara dalam perumpamaan dan melalui analogi menunjuk kepada Jati diri-Nya yang sesungguhnya. Sebagai “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14), Dia merupakan Gambar serta persamaan Allah yang tiada taranya, karena dengan gemilang memancarlah yang ilahi dari diri-Nya. Akhirnya dalam keallahan-Nya sebagai Sang Sabda, – sebagai pantulan wujud Allah dalam arti yang sepenuh-penuhnya dan sebenarnya – Dia adalah Gambar serta persamaan Bapa. Yesus adalah gambaran sempurna “Gambar-dasar” sendiri, keserupaan yang benar-benar sama. Maka pembicaraan-Nya dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan sudah merupakan sesuatu yang bersifat hakiki dalam pewartaan/pengajaran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, banyak orang merasa rindu untuk melihat apa yang kulihat karena Engkau telah membuka mataku agar dapat melihat. Tidak sedikit pula orang yang rindu untuk mendengar sabda-Mu. Engkau telah memberkati diriku sehingga dapat mendengar sabda-Mu itu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan/mewahyukan diri-Mu kepadaku melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 21-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 18 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS