KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 23 Juli 2016)

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” ini, Yesus tidak hanya berbicara mengenai “orang baik” dan “orang jahat” di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, sekian tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan.

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin “mencabut orang-orang yang tidak baik” – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan “benih-benih buruk” dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasih. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA TENTUNYA INGIN MENJADI GANDUM” (bacaan tanggal 23-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 20 Juli 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS