MARTA DARI BETANIA PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Jumat, 29 Juli 2016)

MARTA

Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. Lalu kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. Tetapi sekarang pun aku tahu bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Kata Yesus kepada Marta, “Saudaramu akan bangkit.”  Kata Marta kepada-Nya, “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Jawab Yesus kepada, “Akulah kebangkitan dan hidup; siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akah hal ini?” Jawab Marta, “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:19-27) 

Bacaan Pertama: Yer 26:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:5,8-10,14; Bacaan Injil Alternatif: Luk 10:38-42; Mat 13:54-58

Tentu kita masih ingat bacaan Injil Misa Kudus alternatif (Luk 10:38-42) yang menggambarkan betapa sibuk Marta dengan pekerjaan dapur, melayani dst., ketika Yesus dan beberapa murid-Nya mengunjungi rumah-Nya, sampai-sampai dia seakan ‘lepas kendali’ dengan ‘menegur’ Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku (Maria) membiarkan aku melayani seorang diri?” (Luk 10:40). Lepas dari masalah tersebut, kita tidak dapat pungkiri bahwa Marta memang seorang nyonya rumah yang baik.

Namun kalau kita hanya mengingat-ingat Marta seperti ini, maka pandangan kita belumlah lengkap tentang sosok perempuan ini. Lebih dari apa pun yang lain, kita harus mengenang Marta untuk pengakuan imannya yang berani: “Ya Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27) yang terdengar sangat memiliki kemiripan dengan pengakuan Simon Petrus di daerah Kaisarea Filipi: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Bayangkanlah betapa beraninya Marta membuat proklamasi sedemikian. Ingatlah bahwa dia melakukannya bukan di tempat sunyi atau semacam ‘kamar pengakuan’. Tentu ada orang lain juga yang mendengarnya. Lazarus telah mati empat hari lamanya, dan jenazahnya tentu sudah mulai rusak. Namun tanpa memahami apa yang akan diperbuat oleh Yesus, Marta tokh percaya. Meski secara alami kondisi dari jenazah Lazarus mengatakan lain, Marta mengalami peningkatan iman. Ternyata pemahamannya tidak berhenti pada tingkat natural/alamiah, melainkan meningkat kepada suatu tataran supernatural. Jadi, walaupun sekali-kali dia menunjukkan “kelemahan” sebagai seorang pribadi (ingat episode ‘kunjungan Yesus dalam Injil Lukas yang disebutkan tadi), Marta adalah seorang pribadi yang memiliki iman-kepercayaan sejati.

Kasus Marta kali ini membuktikan bahwa, bahkan orang-orang yang kurang memiliki saat-saat gemilang sekali pun, mampu untuk memiliki iman yang besar. Kasus Marta ini mengajar kita untuk tidak memandang remeh iman dan rahmat yang diberikan kepada kita pada waktu baptisan. Semoga kita tidak pernah memasang batas atas diri kita sendiri, dan berpikir, “Ah, aku mungkin tidak memiliki iman seperti Simon Petrus atau Maria. Kiranya bagianku hanyalah membersihkan kursi, bangku dan apa saja di dalam gedung gereja yang perlu dibersihkan.” Memang ada banyak sekali ‘batas’ yang dapat kita pasang atas diri kita sendiri.

Kita masing-masing dapat dan mampu untuk mengungkapkan iman-kepercayaan kita dengan berani. Kadang-kadang iman ini mencuat keluar dari suatu krisis, seperti kematian seseorang yang kita cintai, yang menjadikan fokus apa yang sesungguhnya kita percayai. Akan tetapi, bisa juga bertumbuh pada berbagai saat dan kesempatan yang biasa-biasa saja. Meskipun dalam tugas sehari-hari yang rutin kita dapat mencoba menemukan cara-cara kecil untuk melangkah dalam iman dan ketaatan. Yang paling kecil pun dari langkah-langkah iman dan ketaatan kita sangat berharga di mata Tuhan.

Sebenarnya tidak ada batas kemungkinan bagi mereka yang berniat mengekspresikan imannya dengan berani. Yang perlu kita lakukan adalah membuka diri kita untuk ‘bereksperimen’ dengan rahmat Allah. Berilah kesempatan kepada-Nya untuk menyatakan kebaikan-Nya. Jangan merendahkan harapan kita sendiri sehubungan dengan apa yang dapat dilakukan oleh Allah atas/dalam diri kita. Perkenankanlah Dia untuk membuat diri kita masing-masing menjadi sebuah pilar iman, a pillar of faith. Ayo, Saudari dan Saudaraku Kristiani, bangkitlah dari tidurmu!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya Engkau dan janji-janji-Mu. Hari ini aku akan hidup untuk-Mu saja. Anugerahkanlah rahmat-Mu kepadaku agar mampu berjalan dalam terang-Mu dan mengalami banyak saat iman yang terang-benderang pada hari ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Alternatif hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DARI BETANIA” (bacaan tanggal 29-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 27 Juli 2016 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS