ADA YANG MASIH KURANG PADA DIRI ANAK MUDA INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Senin, 15 Agustus 2016)

KEMURIDAN - RICH YOUNG MAN AND CHRISTAda seorang datang kepada Yesus, dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu itu kepada-Nya, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya, “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya. (Mat 19:16-22)  

Bacaan Pertama: Yeh 24:15-24; Mazmur Tanggapan: Ul 32:18-21

“Apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19:20). Orang muda yang bertanya kepada Yesus ini tahu bahwa masih ada sesuatu yang kurang pada dirinya. Dapat kita rasakan bahwa sebenarnya dia mendatangi Yesus dan bertanya kepada Yesus karena dengan tulus hati berhasrat untuk menyenangkan Allah, karena bukankah dia sudah mematuhi perintah-perintah Allah yang disebutkan oleh Yesus? Di sisi lain Yesus tahu benar bahwa orang muda ini tidak akan mampu menemukan “harta kekayaan rohani” yang dicarinya, kalau dia tidak belajar melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan pada harta benda duniawi. Oleh karena itu Yesus melanjutkan dengan sebuah pengajaran singkat: “Jikalau engkau hendak hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). Kalau “perintah” Yesus ini dilaksanakan oleh orang muda kaya ini, maka mungkin sekali dia akan menjadi salah seorang murid-Nya yang terbaik. Namun kenyataan menyatakan lain: dia “ngeloyor”pergi dengan sedih. Teks Injil melanjutkan alasannya: “karena banyak hartanya” (Mat 19:22).

Panggilan Yesus kepada pemuridan/kemuridan adalah sebuah panggilan untuk meninggalkan diri kita sendiri di belakang sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dan sesama kita. Panggilan kepada pemuridan ini pada awal-awalnya dapat menjadi semacam ancaman, dalam arti sampai berapa jauh kita dapat tergoda untuk menetapkan batas berapa jauh kita mau maju dalam mematuhi dua perintah terutama ini: MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA (lihat Mrk 12:28-34). Bahkan kita barangkali mencoba untuk ‘menyibukkan-diri’ dengan berbagai devosi rohani yang dapat melindungi kita dari kebutuhan akan penyerahan-diri yang aktif dan sejati.

Yesus mengundang orang muda kaya ini untuk menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang-orang miskin (Mat 19:21). Apakah hal ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama? Sesungguhnya dua “tindakan mengasihi” itu tergabung dan bercampur dengan indahnya dalam suatu cara yang akrab penuh keintiman: Ketika kita memenuhi “perintah baru” Yesus untuk saling mengasihi, maka sesungguhya kita mengasihi Allah. “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1Yoh 1:12).

Setiap hari dalam kehidupan kita, kita diberkati dengan begitu banyak kesempatan untuk mewujudkan cintakasih radikal ini ke dalam tindakan-tindakan nyata. Misalnya ketika kita mengunjungi orang yang paling “nyebelin”, atau “menyusahkan” kita; ketika kita menunjukkan sikap sabar terhadap seorang anak dalam keluarga yang terasa selalu mencoba kesabaran kita; semua ini sebenarnya dapat diartikan bahwa kita sedang “menjual” apa yang kita miliki, lalu mengikuti Yesus. Apabila kita menggunakan waktu kita yang sangat berharga atau talenta kita untuk menjadi “Kristus-Kristus kecil” bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan/atau kehadiran kita, sebenarnya di sini kita sedang mengasihi Allah. Ini adalah jalan menuju kesempurnaan yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya sepanjang zaman. Bukankah jalan ini yang diambil oleh St. Fransiskus dari Assisi, St. Klara dari Assisi dan para kudus lainnya? Jadi apakah tanggapan anda terhadap “undangan” Yesus pada hari ini?

DOA: Tuhan Yesus, semua jaminan-keamanan hidupku terletak di tangan-Mu. Bimbinglah tindakan-tindakanku, ya Tuhan, dan utuslah aku untuk bekerja di ladang-Mu dengan cintakasih-Mu. Semoga aku mengenal dan mengalami kuasa Roh Kudus-Mu yang mampu mengubah apa pun juga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:16-22), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP MISKIN DALAM ROH” (bacaan tanggal 15-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  12 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS