BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG MENJADI HAKNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA  Rabu, 17 Agustus 2016)

Logo HUT RI ke 71

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) 

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17 

Kita telah mendengar jawaban Yesus kepada orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes begitu sering, sehingga kedengarannya seperti ungkapan akal sehat sederhana saja. Namun sesungguhnya jawaban Yesus itu adalah jawaban yang cerdik terhadap sebuah pertanyaan jebakan; sebuah ungkapan nyata dari “karunia berkata-kata dengan hikmat” yang sejati. Para pemuka agama ini berharap dapat menjebak Yesus membuat pernyataan politik yang akan menggambarkan diri-Nya, entah sebagai seorang revolusioner yang menolak membayar pajak (kepada penguasa Roma) atau sebagai boneka Roma yang mempromosikan sikap tunduk terhadap sebuah rezim penindas. Namun Yesus mengetahui benar hati (yang tidak lurus)  para pemuka agama itu dan juga pikiran Allah. Akan tetapi, Dia menghindar dari jebakan-jebakan yang sudah dipasang dan memberikan sebuah jawaban mendalam, jawaban mana masih menantang kita sampai hari ini.

BERIKAN KEPADA KAISARKita dapat dengan langsung menyetujui bahwa “apa yang wajib kita berikan kepada Allah” adalah hati kita sendiri. Secara bebas-merdeka kita harus memberikan hati kita kepada Allah, mempersembahkan kepada-Nya hidup kita sendiri dan buah-buah pertama waktu doa dan penyembahan kita, dan menempatkan Dia sebelum dan di atas segala sesuatu. Akan tetapi bagaimana dengan “memberikan kepada Kaisar”? Apakah ini sekadar berarti melangkah sedikit lebih jauh dari tindakan “menggigit jari dan bersungut-sungut” setiap kali kita membayar pajak”? Yesus mau mengajak kita masuk lebih dalam lagi: Bagaimana pun, “memberi kepada Allah” harus mengubah –  malah mentransformasikan – cara kita “memberi kepada Kaisar” apa yang menjadi haknya.

Pernahkah anda memikirkan tentang cara seorang Kristiani sampai dapat mentransformasikan budayanya? Apabila kita melihat masyarakat, kita harus melihatnya lewat ajaran Yesus tentang keadilan dan kerahiman atau belas kasihan. Pelayanan kita kepada kaum miskin, perjuangan kita untuk penggelaran program-program sosial yang adil,  pengejaran kita akan kerahiman (Allah) bagi mereka yang membutuhkan, sungguh dapat mengubah dunia. “Memberi kepada Kaisar” bukanlah sekadar membayar pajak dengan bersungut-sungut, tetapi secara aktif berupaya membangun kerajaan Allah sudah sejak di bumi ini.

Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki harta kekayaan dalam bentuk berdiamnya Roh Kudus dalam diri kita, hikmat Allah yang dapat diterapkan dalam setiap situasi. Kita harus mencari cara-cara membuat terobosan guna memasukkan “ragi” Allah ke dalam masyarakat di sekeliling kita pada berbagai kesempatan/peluang yang ada di depan mata, memperkenankan keadilan dan kerahiman-Nya menjadi adonan yang akan “mengembangkan serta meningkatkan” budaya kita ke tingkat yang lebih memiliki perspektif ilahi. Yesus sendiri telah mengajar kita untuk memberi kepada Kaisar apa yang wajib kita berikan kepada Kaisar, hal yang dapat mentransformasikan pemerintah kita. Sebagai pribadi-pribadi yang takut akan Allah dan warganegara yang memiliki komitmen, kita juga harus melakukannya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERIKAN KEPADA PEMERINTAH NEGARA KITA APA YANG MENJADI HAKNYA SEBAGAI PEMELIHARA KESEJAHTERAAN RAKYAT (bacaan tanggal 17-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 15 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements