PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 19 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan Konventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

560jesusKetika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Yeh 37:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 107:2-9

“Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36).

Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Kesederhanaan tanggapan Yesus menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus menggerakkan “tulang-tulang kering” kita (lihat bacaan pertama dari kitab Yehezkiel) sehingga dengan demikian hukum-hukum Allah dapat menjadi sumber kehidupan bagi kita, bukan suatu sumber frustrasi. Dalam bacaan pertama Misa Kudus hari ini, Yehezkiel memberi gambaran yang hidup tentang kondisi yang akan kita alami apabila kita mencoba untuk hidup tanpa kuasa surgawi. Namun sekali kita memperkenankan Roh Kudus untuk menghembuskan nafas hidup ke dalam diri kita, supaya kita hidup kembali. Dia akan memberi urat-urat syaraf, menumbuhkan daging dan menutupi diri kita dengan kulit, sehingga kita tidak lagi berupa tulang-tulang kering belaka (lihat Yeh 37:4-6). Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Melalui Dia kuasa dosa dipatahkan, dan kita dapat menjadi bagian dari “tentara yang sangat besar” (Yeh 37:10).

Dengan membuka diri kepada kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima urat-urat syaraf dari kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi dengan kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 107:1).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah tulang-tulangku yang kering dan letih lesu dan penuhilah dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “HUKUM KASIH” (bacaan tanggal 19-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 16 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS