HARUS TETAP ADA WAKTU UNTUK BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 31 Agustus 2016)

jesus heals the sickKemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: 1Kor 3:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:12-15,20-21

Kita dapat selalu berdalih dan mengemukakan seribu satu macam alasan untuk mempersingkat waktu yang kita sediakan untuk berdoa: “Aduh, saya sangat sibuk nih!”, “Wah, saya sedang lelah sekali setelah seharian macet di jalanan!”, “Anda tahu nggak, saya selalu berdoa kapan saja dan di mana saja. Bukankah, apa yang saya lakukan adalah doa saya? Saya sudah tahu apa yang dikehendaki Allah untuk saya lakukan. Andaikan saja anda tahu betapa sibuknya saya ini!”

Kalau siapa saja berhak untuk mengemukakan berbagai macam alasan seperti di atas, maka orang yang memang sesungguhnya pantas berkata begitu adalah Yesus! Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus bekerja sampai malam menyembuhkan setiap orang sakit yang datang kepada-Nya, juga mengusir jauh-jauh segala roh jahat yang mengganggu orang-orang. Sungguh suatu pekerjaan yang penuh kesibukan dan melelahkan! Ia telah hidup dalam persatuan yang paripurna dengan Bapa-Nya di surga, sehingga Dia telah memahami dengan jelas kepenuhan rencana ilahi dan peranan sentral yang harus dimainkan oleh diri-Nya. Namun ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil, agar Dia dapat memusatkan segenap perhatian-Nya kepada Allah, untuk berdoa!

Dalam keheningan itu, Yesus mengambil sebuah keputusan penting. Walaupun ada banyak orang di tempat itu yang membutuhkan pelayanan-Nya (catatan: orang-orang mencari Dia terus sampai ditemukan di tempat terpencil itu), Yesus memutuskan bahwa itulah saat bagi-Nya untuk bergerak terus, karena Allah mengutus diri-Nya untuk mewartakan Injil di kota-kota lain juga.

DIGODA IBLIS - 30Pada titik ini, Yesus mungkin saja belum memperoleh suatu gambaran jelas tentang bagaimana pelayanan-Nya akan berkembang. Yang diketahui oleh-Nya hanyalah bahwa langkah selanjutnya adalah “meninggalkan Kapernaum”. Di bab/pasal berikutnya dalam Injil Lukas, kita akan melihat Yesus memberikan pengampunan Allah sendiri sebagai suatu saluran kesembuhan, Dia melayani kebutuhan-kebutuhan spiritual dan fisik orang-orang. Ia memanggil para murid-Nya untuk mengikuti jejak-Nya. Memang hal ini merupakan sebuah proses yang lambat dan sering menimbulkan frustrasi, namun bersifat hakiki apabila pesan-Nya sungguh ingin berlanjut setelah kematian-Nya. Konflik dengan para pemuka agama Yahudi pun mulai timbul (lihatlah Mat 5:20-25,30,33-34).

Di tempat kerja, di rumah, di gereja dan di komunitas-komunitas di mana kita adalah anggotanya, kita pun seringkali menghadapi begitu banyak tuntutan untuk melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain. Kebutuhan-kebutuhan itu sungguh riil, dan Allah mungkin saja mengundang kita untuk mengambil tindakan guna memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa diri kita mungkin saja bukan jawaban Allah untuk setiap kebutuhan yang ada. Kadang-kadang tuntutan-tuntutan ini merupakan distraksi dari apa yang Allah sungguh inginkan untuk kita lakukan. Nah, di sinilah perlunya proses discernment (membeda-bedakan roh) agar kita mengenal kehendak Allah yang sebenarnya. Dan, discernment dalam suasana doa ini membutuhkan keheningan dan proses mendengarkan dalam kesunyian.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Allah yang mahapengasih. Aku mengetahui bahwa Engkau mengundangku untuk datang menghadap hadirat-Mu dalam keheningan, setiap hari. Hal itu adalah panggilan yang sungguh berharga, namun juga sulit untuk dilaksanakan, karena kesibukanku melayani. Tolonglah aku untuk mempercayai bahwa engkau dapat mengurus dunia tanpa aku. Tolonglah aku mendengarkan dengan hatiku mengenai apa yang sesungguhnya Kaukehendaki agar kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “SEMAKIN PENUH KOMITMEN TERHADAP RENCANA ALLAH” (bacaan tanggal 31-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08  PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 29 Agustus 2016 [Peringatan wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS