DAPATKAH SAHABAT MEMPELAI LAKI-LAKI DISURUH BERPUASA PADA WAKTU MEMPELAI ITU BERSAMA MEREKA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Jumat, 2 September 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. – Martir Revolusi Perancis

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Orang-orang Farisi itu berkata lagi kepada Yesus, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menyampaikan juga suatu perumpamaan kepada mereka, “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” (Luk 5:33-39)

Bacaan Pertama: 1Kor 4:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,27-28,39-40 

Ketika beberapa orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang “berpuasa dan tidak berpuasa”, Yesus menanggapinya dengan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai seorang mempelai laki-laki: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka? (Luk 5:34). Sebagai seorang mempelai laki-laki, Yesus justru adalah Dia untuk siapa mereka mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan berpuasa. Sekarang, Ia sudah berada di tengah-tengah mereka; Dia yang datang untuk “mengklaim” sang mempelai perempuan sebagai istri-Nya.

Dalam bacaan Injil ini Yesus ingin menekankan kebaharuan dari kehidupan ilahi yang ingin diberikan-Nya kepada umat-Nya. Kehidupan Kristiani bukanlah dimaksudkan untuk sekadar kita tambahkan di atas “kehidupan regular” kita yang sudah ada. Kehidupan Kristiani adalah suatu kehidupan baru yang seluruhnya baru. Kita dengan mudah dapat berpikir bahwa kita mempunyai suatu kehidupan dan apabila kita melakukan hal-hal tertentu dengan setia, maka itu akan menjadi suatu kehidupan yang lebih baik – suatu kehidupan Kristiani. Akan tetapi, ini bukanlah yang dimaksudkan oleh Allah. Yesus tidak menjadi seorang manusia dan menderita serta mati di kayu salib hanya untuk memberikan kepada kita suatu kehidupan yang kiranya lebih baik. Ia melakukan semua itu agar supaya kita menerima suatu kehidupan baru, lengkap dengan seperangkat prinsip-prinsip baru, sebuah pusat yang baru, dan sebuah sumber baru dari pengharapan dan kuasa. Yesus ingin memberikan kita suatu kehidupan ilahi. Yesus ingin membuat kita menjadi suatu ciptaan baru.

Untuk menolong para pengikut-Nya memahami kebenaran fundamental ini, Yesus berbicara mengenai ‘kain penambal untuk baju yang tua’ dan ‘kantong kulit penyimpan anggur yang tua’. Para pendengar-Nya akan memahami bahwa kain penambal dapat mengubah “penampilan” baju yang dikenakan seseorang menjadi lebih baik, mungkin juga memperbaiki kegunaannya, namun baju itu tetaplah sepotong baju tua dan “gampang robek” justru karena tambalan itu. Mereka juga mengetahui bahwa anggur yang baru masih sedang berfermentasi, oleh karena itu kantong kulitnya pun harus cukup fleksibel untuk mengembang seirama dengan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi anggur itu. Kantong kulit yang tua tidak akan dapat “menangani” perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh anggur yang baru.

stdas0748Ketika Yesus wafat di atas kayu salib, Ia membawa serta bersama-Nya kehidupan lama kita. Yang ditawarkan oleh-Nya sekarang adalah kemampuan untuk menjadi suatu ciptaan baru yang dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri. Bagaimana kita dapat memperolehnya? Tentunya dengan melakukan “pemeriksaan batin”, setiap hari. Seperti Santo Paulus, pada satu titik di tengah “proses-rutin-harian” itu, kita pun tidak dapat mengelakkan diri untuk mengatakan: “Bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan” (Rm 7:15). Inilah salah satu nilai penting dari suatu “pemeriksaan batin”, yaitu kita disadarkan akan masih adanya “kehidupan lama” dalam diri kita.

Oleh karena itu, marilah kita membawa segala kehidupan lama kita kepada Yesus yang tersalib dan mohon kepada-Nya agar kita dapat mati terhadap kehidupan lama kita tersebut. Kita dapat bertobat – artinya berbalik seratus delapan puluh derajat – dari kehidupan lama kita itu. Selagi kita mengakui dosa-dosa kita, kita memperdalam pertobatan kita dan ditransformasikan untuk semakin menjadi serupa dengan Yesus. Marilah kita memperkenankan Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita masing-masing, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi kantong anggur yang lunak dan fleksibel, yang siap untuk menerima tuangan lebih banyak lagi anggur yang baru.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu selidikilah hatiku. Tunjukkanlah kepadaku perbedaan antara kehidupan baru yang telah Kauberikan kepadaku dan kehidupan lama yang disalibkan bersama-Mu. Transformasikanlah aku melalui pembaharuan hati dan pikiranku, sehingga aku dapat hidup untuk memuliakan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Luk 5:33-39), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG MEMPELAI LAKI-LAKI” (bacaan tanggal 2-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-9-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 31 Agustus 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS