LAGI-LAGI YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Senin, 5 September 2016) 

40_Mt_12_07_RGPada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, supaya mereka mendapat alasan untuk mempersalahkan Dia. Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada yang mati tangannya itu, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Orang itu pun bangun dan berdiri. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Kemarahan mereka meluap, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus. (Luk 6:6-11)

Bacaan Pertama: 1Kor 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 5:5-7,12

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat dengan ketat memantau setiap gerak-gerik Yesus agar supaya mereka menemukan kesalahan Yesus, dalam hal ini pelanggaran atas Hukum – kkhususnya hukum yang berkaitan dengan Sabat. Banyaknya peraturan yang mereka susun sehubungan dengan Sabat ini memposisikan diri orang-orang Farisi dan para ahli Taurat  sebagai pengendali hari Sabat. Mentalitas seperti ini membatasi praktek penyembahan kepada Allah yang berasal dari hati. Yesus, “Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat”, akan menunjukkan apa makna hari Sabat yang sesungguhnya, dan bagaimana menyembah Allah secara benar.

Yesus tidak dapat diintimidasi oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu. Pendekatan Yesus terhadap kepatuhan hari Sabat diatur oleh keyakinan-Nya yang mendalam bahwa kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama (lihat Luk 10:25-37). Pandangan-Nya ini mencerminkan kepercayaan bahwa apa/siapa saja yang tidak menghormati sesama tidak dapat menghormati Allah, dan pembiaran apa saja atas terjadinya penderitaan dan sengsara manusia – walaupun sebenarnya dapat diperbaiki (bahkan pada hari Sabat sekali pun) – adalah kejahatan.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat memposisikan Yesus sebagai seorang “penyembuh” yang harus diamati secara ketat (Luk 6:7). Tafsir mereka atas hukum Sabat adalah, bahwa intervensi medis yang diperbolehkan pada hari suci itu hanyalah yang berkaitan dengan kelahiran, sunat dan penyakit yang mematikan. Melakukan penyembuhan pada hari Sabat seperti yang dilakukan oleh Yesus jelas-jelas merupakan pelanggaran hari Sabat.

Yesus mengetahui bahwa itulah yang ada dalam hati orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Ia memerintahkan kepada orang yang mati tangan kanannya itu untuk maju ke tengah, kemudian secara konfrontatif Ia bertanya kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tersebut, manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:8-9). Dalam pikiran Yesus, apa saja yang membiarkan seorang insan lain menderita tidaklah menghormati Allah, dan maksud hari Sabat adalah justru untuk menghormati Allah. Kemudian Yesus memerintahkan orang yang mati tangan kanannya untuk mengulurkan tangannya itu. Maka tangan yang mati itu pun disembuhkan oleh-Nya. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat itu pun naik pitam; mereka sangat geram karena sekali lagi peristiwa ini menunjukkan kepada mereka, bahwa “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5).

Sekarang marilah kita lihat diri kita masing-masing. Bukankah hati dan pikiran kita juga sering “terkunci” dalam sikap-sikap terbatas berkaitan dengan Allah, penyembahan, keluarga, pekerjaan dan relasi-relasi dalam komunitas? Apakah selama ini gaya hidup kita mencerminkan bahwa kita sungguh menghormati Allah dan sesama kita? Apakah hidup spiritual kita mati seperti tangan orang yang kemudian disembuhkan oleh Yesus? Dengarlah Ia berkata kepada kita masing-masing: “Ulurkanlah tanganmu.” Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita, minta kepada kita untuk hidup seperti yang dicontohkan-Nya, hidup dalam kasih dan penuh bela rasa. Keputusannya terletak pada diri kita masing-masing!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat melihat kebutuhan kami akan sentuhan kesembuhan dari-Mu dalam kehidupan kami. Semoga terang-Mu menyinari kami sehingga kami dapat mengasihi Allah dan sesama kami. Semoga kami juga dibuat hidup dan bergembira dalam Engkau, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “CINTA KASIH ADALAH NILAI SENTRALNYA” (bacaan tanggal 5-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun  2011)

Cilandak, 1 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements