TIDAK PERNAH AKU JUMPAI, SEKALI PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Senin, 12 September 2016) 

centurion

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Kor 11:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17 

Para perwira komandan pasukan seratus orang (centurion) rupanya mempunyai catatan baik dalam Kitab Suci. Hari ini kita membaca tentang seorang centurion yang menyampaikan pesan kepada Yesus, “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Ingatlah juga, sang centurion di bukit Kalvari yang menyaksikan kematian Yesus di kayu salib, yang berkata: “Sungguh, orang ini Anak Allah!”  (Mrk 15:39; bdk. Mat 27:54). Ada juga perwira Kornelius, yang karena keterbukaannya kepada Petrus terjadilah berkat-berkat Pentakosta bagi orang-orang non-Yahudi (Kis 10).

Sebagai perwira-perwira Romawi, dalam menjalankan tugas mereka, para centurion ini tahu bagaimana mengenali dan mengkomit diri mereka kepada otoritas yang berwenang. Maka, ketika mereka berjumpa dengan otoritas puncak dari Allah, beberapa dari mereka siap untuk menaruh iman mereka pada hal itu juga. Hal serupa dapat kita lihat dalam hubungan antara para orangtua dengan anak-anak mereka. Apabila para orangtua menjalankan otoritas mereka dengan layak dan pantas, biasanya anak-anak mereka mengembangkan keterlekatan-keterlekatan dan respek yang sehat dengan para orangtua mereka. Mereka percaya bahwa apabila mereka datang kepada ibu dan/atau ayah mereka dengan masalah mereka, maka mereka akan menemukan bela rasa dan hikmat-kebijaksanaan. Iman yang ada dalam diri para orangtua mereka membuat anak-anak yakin dan stabil, sementara mereka yang memberontak melawan otoritas orangtua mereka pada akhirnya harus belajar tentang kehidupan ini dengan bersusah payah lewat jalan yang sering berliku-liku.

Bapa surgawi, Allah yang Mahakuasa mempunyai otoritas tertinggi atas diri kita. Ia juga adalah Allah yang mahapengasih, yang menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri kita masing-masing. Kita mungkin saja adalah serdadu-serdadu Kristus, namun kita juga adalah anak-anak-Nya yang sudah mengantongi undangan-Nya untuk datang menghadap Allah dengan keyakinan akan kasih-Nya.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Anak macam apa aku ini? Apakah aku hidup sebagai sang centurion dalam bacaan Injil hari ini, yang percaya bahwa dirinya sepenuhnya berada di bawah otoritas Allah? Atau, apakah aku selalu berjalan kesana-kemari dan mencoba mengatasi masalah-masalah yang sedang kuhadapi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri?” Sekarang, apabila Roh Kudus mengingatkan diri kita apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita pun harus mengambil langkah maju dengan penuh kepercayaan akan penyelenggaraan ilahi. Kita selalu harus mengingat, bahwa Bapa surgawi adalah Allah yang baik, yang mahapemurah, maharahim dst. Dia adalah Allah yang “Mahalain” yang tidak pernah bisa direka-reka oleh otak kita yang kecil ini. Otoritas-Nya berakar pada kasih, karena Dia adalah kasih itu sendiri (lihat 1Yoh 4:8,16). Yang jelas Allah tidak pernah tidak merasa senang mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua anak-anak-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menghadap-Nya. Kita semestinya percaya bahwa Dia sedang menunggu kita dengan penuh kesabaran.

DOA: Bapa surgawi, kami seringkali menderita karena kami sering tidak taat kepada perintah-perintah-Mu. Kami sadar manakala kami mengatakan bahwa kami percaya kepada-Mu namun tidak sepenuhnya menerima otoritas-Mu atas diri kami, maka hal tersebut berarti kami tidak menaruh kepercayaan kepada-Mu. Ampunilah kami, ya Bapa, dan ajarlah kami untuk menghormati dan mentaati-Mu senantiasa. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “AKU TIDAK LAYAK MENERIMA TUAN DI DALAM RUMAHKU” (bacaan tanggal 12-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

Cilandak, 7 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS