SEDIKIT CERITA TENTANG SANTO HIERONIMUS, IMAM DAN PUJANGGA GEREJA

saint_jerome_2

Pada hari ini, 30 September –  hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci Nasional –, kita memperingati seorang kudus besar di bidang perkitabsucian, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja (c.342-420).

Dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benedictus XV [pontifikat: 1914-1922] mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya.

Kebanyakan orang kudus dikenang untuk berbagai keutamaan atau praktek devosional mereka, namun Hieronimus seringkali dikenang untuk sifat buruknya. Ia lekas panas, naik darah dan kadangkala menyakiti hati orang lain. Memang benar ia memiliki sifat buruk, namun cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luarbiasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan “menghantam” (katakanlah: “melabrak”) para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu.

Hieronimus pertama-tama dan terutama adalah seorang pakar Kitab Suci. Ucapannya yang terkenal adalah: “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” (Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est!). Dia menulis banyak tafsir Kitab Suci yang sungguh merupakan sumber inspirasi bagi generasi-generasi kemudian. Dia juga sempat berfungsi sebagai penasihat para rahib, uskup maupun Sri Paus.

Agar mampu melakukan tugasnya ini, Hieronimus telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia menguasai bahasa Latin, Yunani, Ibrani dan Khaldea. Karya utama Hieronimus adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin dan revisi Perjanjian Baru berbahasa Latin. Pekerjaan ini memakan waktu sekitar 15 tahun (c.390-405), namun hasil karyanya itu digunakan lebih dari seribu tahun lamanya di Gereja barat. “Kantor resmi” atau “posko” Hieronimus yang terakhir adalah sebuah gua di Betlehem.

Jalan Hieronimus menuju Betlehem yang mengikuti pola “zigzag” adalah sebuah pelajaran yang baik bagi setiap orang Kristiani yang mau menemukan cara terbaik untuk menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Allah dalam dunia yang terus berubah. Hal ini benar teristimewa bagi kita kaum awam yang harus berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan kepada kehidupan doa di tengah-tengah kesibukan berbagai urusan keluarga, pekerjaan sosial dan lain-lainnya. Antara lain melalui upaya-upayanya dan kegagalan-kegagalannya, Allah terus-menerus membimbing Hieronimus selagi dia berjalan menuju suatu kehidupan yang dengan seimbang memasukkan ke dalamnya (1) panggilan untuk suatu hidup doa yang membutuhkan keheningan, maupun (2) panggilan untuk berinteraksi dengan dunia. Dengan demikian, kita juga dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh Kudus akan membimbing kita melalui kompleksitas panggilan kita masing-masing.

Catatan: Disarikan dari berbagai sumber.

Jakarta, 30 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS