YANG TERBESAR DALAM KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresia dr Kanak-kanak Yesus, Perawan Pujangga Gereja, Pelindung Misi – Sabtu, 1 Oktober 2016)

yesus-dan-anak-anak-jesus-and-childrenPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”  (Mat 18:1-5) 

Bacaan Pertama: Ayb 42:1-3,5-6,12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:66,71,75,91,125,130 

ATAU: Bacaan Pertama: Yes 66:10-14b, atau 1Kor 12:31-13:13; Bacaan Injil: Luk 10:17-24 

“Siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:4). 

Ketika Yesus meminta kita untuk menjadi seperti anak kecil, Dia sebenarnya mengungkapkan hasrat-Nya bagi kita untuk memperoleh kembali innocence masa kanak-kanak kita. Ketika kita masih kecil, kita sangat mudah percaya akan “seorang”  Allah yang baik, yang mengawasi dan mengutus para malaikat untuk membimbing kita di dunia ini. Renungkanlah sebuah doa yang disampaikan oleh seorang Teresia Martin yang baru berusia 7 (tujuh) tahun kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya, namun belum boleh disambutnya: “Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah aku menjadi mainan-Mu! Anggap saja aku ini bola-Mu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silahkan! Dan kalau hendak Kautinggalkan di sudut kamar karena bosan, boleh saja. Aku akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau bola-Mu ini hendak Kautusuk. … O Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendak-Mu!”  Ini adalah sebuah doa anak kecil yang sejati, yang keluar dari innocense masa kanak-kanak!

Innocence ini mengalami erosi sejalan dengan meningkatnya usia kita menuju kedewasaan. Berbagai pengalaman hidup kita dalam dunia ini dapat membuat kita lusuh dan letih-lelah, malah dapat membuat kita bersikap sinis atau sarkastis kalau berbicara mengenai kedekatan Allah dengan diri kita, apalagi bila menyangkut keberadaan para malaikat pelindung. Di bawah berbagai macam tekanan hidup, ketika kita sedang susah atau di bawah pengaruh negatif dari berbagai kenikmatan hidup, manakala kita sedang berada dalam keadaan oke-oke, kita malah dapat saja mulai percaya bahwa diri kita sendirilah penentu “nasib” kita: tidak ada seorang pun dapat menolong diri kita kecuali kita sendiri! Berkaitan dengan hal ini ingatlah sebuah “pepatah” dalam bahasa Inggris: “God only helps those (people) who help themselves!” Sungguh merupakan ungkapan kesombongan manusia!

ST. TERESIA DR LISIEUX OCD [1873-1897]

ST. TERESIA DR LISIEUX OCD [1873-1897]

Yesus ingin memerdekakan kita dari isolasi bikinan kita sendiri atau kemandirian keliru yang malah memenjarakan kita sebagai tawanan. Yesus mau membangkitkan dalam diri kita sukacita dan innocence sejati dan orijinal yang pernah kita miliki/alami ketika kita untuk pertama kalinya mengetahui cintakasih pribadi-Nya yang mau tinggal dalam diri kita masing-masing. Kedewasaan Kristiani yang sejati bukanlah berarti peningkatan dalam kebebasan kita dari Allah, melainkan suatu ketergantungan lebih mendalam kepada-Nya.

Inilah pengalaman rohani yang telah terbukti benar dalam kehidupan Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Teresia dari Lisieux, orang kudus yang dikenal sebagai “Santa Teresia Kecil” [1873-1897], yang kita rayakan pestanya pada hari ini. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresia masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresia adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus dalam Bacaan Injil hari ini.

Walaupun sudah dewasa dalam usia, kita tidak akan mampu bertahan satu hari saja jika terpisah dari kerahiman dan rahmat Allah. Adalah Allah sendiri yang secara tetap menjaga kesehatan kita, relasi kita, keuangan kita, kehidupan kita dan seterusnya. Oleh karena itu – seperti halnya Santa Teresia Kecil – marilah kita mohon Roh Kudus untuk melakukan karya istimewa dalam diri kita, yaitu menolong kita agar mampu memandang peristiwa-peristiwa kehidupan dewasa ini dengan mata seorang anak kecil yang mengetahui dan mengalami cintakasih yang intim dari Bapa. Kalau pun hal ini susah, kita dapat memohon kesembuhan agar hal yang kita mohonkan tadi dapat terwujud. Bapa surgawi menginginkan kita datang kepada-Nya dengan segala urusan kita – betapa kecilnya pun urusan kita itu sehingga terlihat tidak penting di mata manusia. Santa Teresia Kecil adalah seorang pribadi yang mampu melihat kuat-kuasa dari kasih Allah yang dapat mengubah segalanya.

DOA: Bapa surgawi, Engkau menjanjikan Kerajaan-Mu kepada orang-orang yang bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami agar dapat berjalan dengan penuh keyakinan seturut teladan hidup Santa Teresia Kecil, dengan demikian memampukan kami melihat kemuliaan-Mu yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil alternatif hari ini (Luk 10:17-24), bacalah tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADAMU, BAPA, TUHAN LANGIT DAN BUMI” (bacaan tanggal 1-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 27 September 2016 [Peringatan S. Vicentius a Paulo, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS