MEMPERKENANKAN ALLAH UNTUK MEMBENTUK KITA MENJADI BEJANA-BEJANA BAGI KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Kamis, 6 Oktober 2016)

OFS: Peringatan S. Maria Fransiska dr ke-5 Luka Yesus

Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah Semua saudara, sanak saudara dan penderma

LUKE 11 5-13Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:5-13) 

Bacaan Pertama: Gal 3:1-5; Mazmur Tanggapan: Luk 1:69-75

Apa artinya iman jika tidak disertai dengan rasa percaya (dalam arti trust) dan ketekunan? Tidak lebih daripada sekadar isapan jempol. Yesus melukiskan pokok ini dengan menceritakan perumpamaan tentang seseorang yang tidak mau pergi sampai tetangganya memberikan kepadanya apa yang dibutuhkannya. Pesannya jelas: Allah ingin agar kita datang kepadanya dengan rasa percaya dan ketekunan, dengan hasrat mendalam untuk memperoleh berkat-Nya. Jika Allah tidak langsung mengabulkan permintaan kita, maka hal ini bukanlah disebabkan bahwa Ia begitu sibuk dengan hal-hal lain atau tidak cukup peduli kepada/tentang kita. Seringkali, Allah ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan dapat mengubah secara mendalam. Seperti ditulis oleh Santo Paulus: “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Memang tidak sulit bagi kita untuk menjadi ciut hati jika kita tidak langsung menerima jawaban. Kita mungkin merasa tidak mau bergantung pada Allah dan sebaliknya malah  menggantungkan segalanya pada kekuatan kita sendiri. Namun Yesus mendorong kita untuk tetap mengetuk; dan Ia berjanji akan membuka pintu dan mencurahkan Roh-Nya ke atas seua orang yang meminta kepada-Nya.

Ketika Allah menunda pemberian jawaban kepada kita atau menunda pemberian penghiburan kepada kita dalam doa kita, hal ini mungkin disebabkan karena Dia ingin mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan benar. Ia adalah Allah dan kita bukan. Ia senantiasa baik, kudus, dan benar. Ia selalu pantas menerima rasa percaya kita dan ketaatan kita, apakah hidup kita berada di jalan yang “oke” atau tidak. Allah ingin agar pernyataan diri-Nya dalam hati kita menjadi fondasi kehidupan kita, bukannya turun-naiknya – ups and downs – hidup kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita pada siapa Allah itu sebenarnya dan pada kasih-Nya yang tidak pernah meninggalkan kita, maka kita akan mengalami karya-Nya dalam kehidupan kita, tentu pada saat yang tepat seturut kehendak-Nya. Seperti orang yang tekun dalam perumpamaan tadi – yang menyebabkan tetangganya pada akhirnya memberikan segalanya yang dibutuhkan olehnya –  kita pun akan menerima berkat-berkat dan segalanya yang kita butuhkan untuk setiap situasi.

Melalui kesetiaan kita dan ketekunan kita, kita memperkenankan Allah membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menantikan Dia, kita dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Nya, dan dalam menaruh kepercayaan kepada-Nya kita pun dapat bertumbuh menjadi lebih kuat dan lebih mampu menolong orang-orang lain. Dengan berjalannya waktu, Allah akan semakin mampu menggunakan diri kita sebagai instrumen-instrumen guna memanifestasikan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya kepada dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengasihi diriku, sangat baik hati kepadaku, dan Engkau sungguh baik. Aku percaya bahwa jika aku bertekun dalam doa disertai ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh-Mu atas diriku untuk menciptakan kembali diriku dalam karakter Putera-Mu terkasih, Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:69-75), bacalah tulisan yang berjudul “MENGENAL KASIH ALLAH SECARA PRIBADI DAN AKRAB ADALAH DASAR DARI PENGHARAPAN KITA” (bacaan tanggal 6-10-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 8-10-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 3 Oktober 2016  [Transitus Bapak Fransiskus dr Assisi] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS